Efek Corona, Pilot dan Insinyur Ini Kini Jualan Sate di Malaysia

Gresnia Arela Febriani - wolipop Rabu, 19 Agu 2020 11:31 WIB
Garuda Foto Shazaly dan teman-temannya yang mendukung usahanya. Foto: Instagram @shazaamsatay.
Malaysia -

Pandemi Corona membuat berbagai sektor ekonomi mulai lumpuh. Ada juga perusahaan mengurangi karyawan, memotong gaji atau bahkan gulung tikar. Efeknya sebagian orang pun kehilangan pekerjaannya.

Seperti kisah dua orang pria asal Malaysia bernama Shazaly dan Adam ini yang sudah 10 tahun mengabdi di perusahaan penerbangan di Dhaka, Bangladesh sebagai pilot dan insinyur. Akibat pandemi COVID-19, keduanya terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Mereka pun langsung memutar otak untuk tetap bertahan hidup dengan menjadi penjual sate.

Kapten Muhammad Shazaly Ahmad Zayadi yang berusia 32 tahun itu mengatakan kepada Mstar, jika ia terkena PHK sejak Juni 2020 dan membuatnya stres. Dia bingung bagaimana memberikan makan keluarganya dengan statusnya sebagai pengangguran.

Shazaly dan Adam yang membuka warung sate ayamShazaly yang membuka warung sate ayam. Foto: Instagram @shazaamsatay.

"Beberapa hari setelah berhenti kerja memang membuat saya down. Dari yang semula ada pendapatan tetap, menjadi penganngguran. Sedangkan saya sebagai kepala keluarga yang memberikan makan keluarga. Tapi saya merasa bersyukur karena keluarga saya, terutama istri yang banyak memberikan dukungan kepada saya untuk bangkit," kata Muhammad Shazaly.

Ia pun berpikir keras untuk melakukan sesuatu untuk mendapatkan penghasilan. Dia kemudian berpikir untuk memulai bisnis sate ayam. Dan kini pilot tersebut membuka warung tenda untuk berjualan sate bersama di Putra Heights, Subang Jaya, Selangor, Malaysia, bersama adik iparnya Adam Zafran George Abdulah yang juga terkena PHK karena Corona.

"Kenapa sate? Karena sate adalah bisnis makanan yang disukai semua orang. Dan sate dimakan oleh seluruh lapisan masyarakat," ucap pria asal Subang, Selangor, Malaysia itu.

Shazaly dan Adam yang membuka warung sate ayamSate ayam yang dijual Shazaly. Foto: Instagram @shazaamsatay.

Muhammad Shazaly mulai berjualan sate dengan modal awal sekitar 3.000 RM atau sekitar Rp 10 juta, yang sudah termasuk peralatan. Bermula dari 300-400 tusuk sate per harinya, bisnis yang dibuka selama enam hari dan libur pada hari senin itu terus meningkat omsetnya. Hingga kini mereka berhasil menjual 700 - 1.000 tusuk sate setiap harinya.

"Saya akui jika berjualan sate itu amat sangat lelah, belum lagi jika faktor cuaca. Kalau dulu saya mengutamakan On Time Performance (OTP) apabila membawa pesawat, tapi semenjak berjualan sate saya mendahulukan Quality Control (QC) untuk memenuhi keinginan dan selera pelanggan," lanjutnya.

Mantan pilot itu kini juga harus siap menerima berbagai jenis permintaan pelanggan. Dia tak menyangka ternyata permintaan pelanggan dalam hal urusan makan sate cukup beragam.

Shazaly dan Adam yang membuka warung sate ayamWarung sate ayam. Foto: Instagram @shazaamsatay.

"Ada pelanggan yang ingin satenya dibakar sedikit, ada yang minta biasa-biasa saja. Ada juga yang memastikan bahwa satenya aman dikonsumsi. Sebagaimana saya memastikan penerbangan, penumpang dan awak pesawat bisa selamat, saya juga perlu memastikan jika sate yang dijual aman dimakan," tutur pria yang selain menjual sate juga menyambi kerja sebagai konsultan tanah itu.

Muhammad Shazaly bersyukur karena bisnis warung sate yang dibangun bersama Adam, memberikan keuntungan meskipun masih baru menjalaninya. "Apa yang saya lakukan ini merupakan satu dunia yang baru. Lelah ya memang lelah tapi saya tetap melangkah ke depan dan malah merancang untuk mengembangkan bisnis sate pada masa yang akan datang," pungkasnya.

Shazaly dan Adam yang membuka warung sate ayamUsaha Shazaly dan Adam yang membuka warung sate ayam. Foto: Instagram @shazaamsatay.
(gaf/eny)