4 Sebab ART dan Pengasuh Anak Tak Kembali Kerja Setelah Mudik Lebaran

Eny Kartikawati - wolipop Senin, 10 Jun 2019 08:08 WIB
Foto: iStock Foto: iStock

Jakarta - Pengasuh anak atau asisten rumah tangga tak kembali lagi setelah mudik Lebaran? Drama ini sepertinya dialami sebagian besar ibu yang sehari-harinya dibantu para ART atau pengasuh. Anda termasuk?

Babysitter atau nanny yang tiba-tiba ingin pulang kampung atau malah mau keluar dari pekerjaan pasti membuat para ibu pusing. Agar di masa depan kejadian serupa tak terulang lagi, kenali penyebab kenapa pengasuh anak atau ART tidak betah.

- Terus Dianggap Sebagai Orang Asing

Penyebab paling umum pengasuh anak tidak betah adalah karena dia merasa bosan. Kebosanan ini biasanya dipicu oleh perlakuan majikannya. Dalam perbincangan dengan Wolipop, COO salah satu jasa pembantu di Jabodetabek, Angela Maria Shanti mengatakan ada beberapa orang yang bekerja padanya mengeluhkan mengenai kebosanan ini. Babysitter atau nanny bosan karena tidak dekat dengan pengguna jasa mereka.

"Ada yang cerita, aku nggak diajakin ngomong nih. Sehari dua hari nggak apa-apa, tapi kalau seterusnya ya nggak betah," jelas Angel.

Dari pengalaman Angel mendirikan usaha jasa pembantu, babysitter atau nanny yang bertahan lama biasanya karena mereka dianggap menjadi bagian dari 'keluarga'. "Jadi keluarga tetap ada batasannya, itu yang bisa mengatur pengguna jasa," jelas wanita lulusan D-3 Sekretari itu.

Hal serupa juga disampaikan Sutarmi, pendiri dan pimpinan Lembaga Pendidikan Ketrampilan (LPK) Tiara Cipta. Menurut Sutarmi, gaji justru bukan faktor utama penentu betah atau tidaknya babysitter bekerja. Kenyamanan, itulah yang lebih penting.

"Mencari kenyamanan kan susah ya. Mungkin mereka juga sudah sayang sama anaknya," ujar wanita yang akrab disapa Ami ini saat berbincang dengan Wolipop di kantornya, Jl. Kemang Selatan, Jakarta Selatan.

- Sulit Minta Libur atau Cuti

Selain tidak dekat dengan orangtua anak, yang juga membuat babysitter atau nanny tidak betah adalah ketika mereka tidak mendapat keleluasaan untuk mengambil libur atau cuti. Menurut Angel, dalam sebulan sesuai peraturan di lembaganya, pengasuh anak mendapat hak untuk cuti atau libur selama dua hari. Jika cuti atau libur tersebut tidak digunakan sang pengasuh berhak mendapat uang pengganti sebesar Rp 100 ribu per hari.

Pendiri dan Pimpinan LPK Tiara Cipta di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Sutarmi, juga mengungkapkan hal serupa. Dalam sebulan, babysitter atau nanny berhak mendapat cuti dan kalau tidak dipakai akan mendapat uang yang besarnya Rp 150 ribu. Namun terkadang ada beberapa orangtua yang tidak memberikan hak cuti tersebut baik dalam bentuk libur ataupun uang tunai. Inilah yang membuat babysitter atau nanny tidak betah.

- Tidak Ada Kesempatan Istirahat

Tidak adanya kesempatan untuk beristirahat dengan cukup menjadi alasan yang juga dikemukakan para babysitter atau nanny saat tidak betah. "Memang sudah risiko babysitter malam bangun. Tapi tolong siang dikasih tidur. Jangan sampai akhirnya sakit," jelas Angel.

Dijelaskan wanita kelahiran 1 April 1987 itu, biasanyan yang terjadi adalah si babysitter dipaksa bekerja lebih keras tanpa istirahat cukup sehingga kemudian sakit. Saat sakit, pengguna jasa akan mengeluh dan minta babysitter pengganti. Padahal sang babysitter sakit karena kesalahan orangtua yang tak mau memberikan waktu istirahat.

Hal serupa diungkapkan Sutarmi. "Suster nggak betah karena majikannya cerewet. Bisa juga karena susternya mungkin karena tidurnya terlalu malam," jelas wanita yang mendirikan LPK Tiara Cipta sejak 1996 itu.,

- Terlambat Memberikan Gaji

Penyebab yang juga banyak dikemukakan para babysitter saat tidak betah adalah karena majikan sering menahan atau terlambat membayarkan gaji. Namun gaji ini, menurut Sutarmi dan Angel bukanlah faktor utama bagi para babysitter untuk bertahan.

"Pekerja yang nyaman itu biasanya nggak melulu karena salary ya, biasanya mereka sudah menyatu dengan keluarga itu, tidak betah juga bukan karena gaji juga, nyari kenyamanan kan susah ya," tambah Tami.
(eny/ami)