Intimate Interview
Mengenal Joanna Rudnick & Misinya Buat Film Tentang Mereka yang Terkucilkan
Daniel Ngantung - wolipop
Rabu, 10 Feb 2016 09:13 WIB
Jakarta
-
Nama sutradara Joanna Rudnick memang tidak setenar Steven Spielberg, Quentin Tarantino, atau sutradara kondang lainnya. Tapi, ia menyimpan misi mulia dalam setiap karyanya, yakni mengubah dunia menjadi tempat yang lebih baik.
Akhir pekan lalu, Wolipop sempat bertemu dengan wanita asal San Fransisco, AS, ini saat acara screening dan diskusi salah satu karyanya yang bertajuk 'On Beauty' di @America, Pacific Place, Jakarta Selatan.
Berdurasi sekitar 30 menit, 'On Beauty' menyoroti misi mantan fotografer fashion Rick Guidotti untuk mengubah persepsi jamak orang-orang tentang kecantikan dengan mengabadikan mereka yang terkucilkan karena kelainan genetisnya.
Ada dua wanita yang Rick jadikan objeknya. Jayne Waithera, seorang albino asal Kenya dan Sarah Kanney yang mengalami sindrom Sturge-Weber sehingga membuat hampir sekujur wajahnya dipenuhi semacam tanda lahir berupa bercak kemerahan.
Fotografer yang pernah memotret supermodel kondang Cindy Crawford dan Claudia Schiffer ini ingin membuktikan bahwa mereka cantik terlepas dari perbedaan fisiknya.
Film ini seolah mengembalikan rasa percaya diri mereka yang selama ini merasa terkucilkan. Lewat film ini juga, mereka juga diberi kesempatan untuk berbicara dan mengutarakan isi hati yang selama ini membebani mereka.
Baca Juga: 50 Tas dan Sepatu Favorit Selebriti
'On Beauty' bukanlah proyek pertama darinya. Sudah merintis karier sebagai sutradara film dokumenter sejak 15 tahun lalu, Joanna telah menelurkan sejumlah judul film dokumenter.
Sebetulnya, menjadi seorang sutradara dokumenter bukanlah impian awalnya. Ketertarikannya pada film dokumenter muncul ketika ia bekerja di sebuah stasiun TV di New York City, AS, selepas menamatkan kuliahnya di bidang jurnalistik.
"Aku suka prosesnya yang intens karena menyatukan hati mereka yang terlibat di dalamnya. Film dokumenter juga bisa mengubah cara berpikir orang," katanya.
Dari sekian banyak topik, Joanna lebih tertarik mengangkat topik kemanusiaan serta kesehatan dalam setiap karyanya. Ketertarikannya pada topik ini sebetulnya berangkat dari pengalaman pribadi.
Pada usia 38 tahun, ia divonis kanker payudara stadium 2. Sebetulnya, Joanna sudah mencurigai dirinya berisiko terkena kanker payudara berdasarkan riwayat kesehatan keluarganya. Sang ibu didiagnosi menderita kanker rahim saat ia berusia 13 tahun. Sementara neneknya sudah pernah menjalani mastektomi karena kanker payudara. Tapi Joanna enggan memeriksakan diri hingga akhirnya dokter memvonisnya kanker payudara.
Pengalaman itu lantas mengilhami Joanna untuk membuat 'In the Family'. Misinya meningkatkan kesadaran wanita akan kanker payudara sekaligus mengimbau agar para wanita rutin melakukan mammogram atau pemeriksaan payudara dengan teknik lainnya. Menurutnya, topik ini patut diangkat karena kurang mendapat perhatian para wanita.
"Aku suka mengangkat topik yang jarang dibahas orang sehingga memotivasi mereka untuk mendiskusikannya, khususnya masalah kesehatan," ujar Joanna yang juga sudah sempat menjalani mastektomi.
Usahanya membuahkan hasil. Film yang ditayangkan di stasiun TV PBS ini berhasil masuk nominasi Emmy Award 2009 untuk kategori Outstanding Informational Programming.
Sejak itu, Joanna lebih tertarik untuk fokus membuat film dokumenter yang berkaitan dengan isu kemanusiaan kesehatan. Ia juga ingin memanfaatkan talentanya sebagai media penyalur suara mereka yang terkucilkan. Sebagaimana yang dilakukannya di 'On Beauty'.
"Setiap orang memiliki suara yang dapat membawa perubahan positif pada dunia. Aku ingin menjadikan dunia tempat yang lebih baik," kata Joanna.
Tapi, ia juga diperhadapkan misi yang lebih penting, yakni melakoni peran sebagai ibu dari dua anak yang masih berusia di bawah lima tahun. Diakui Joanna, melakukan keduanya secara bersamaan bukanlah hal yang mudah.
"Sungguh berat rasanya ketika kamu menjadi sutradara yang harus berkeliling dunia membuat film berminggu-minggu dan harus meninggalkan anakmu yang masih kecil," ujarnya.
Tapi ia merasa beruntung memiliki pasangan hidup yang sangat suportif dan memercayai misinya. "Dia adalah sosok ayah yang sangat baik bagi anak-anakku," kata Joanna lagi. (dng/ami)
Akhir pekan lalu, Wolipop sempat bertemu dengan wanita asal San Fransisco, AS, ini saat acara screening dan diskusi salah satu karyanya yang bertajuk 'On Beauty' di @America, Pacific Place, Jakarta Selatan.
Berdurasi sekitar 30 menit, 'On Beauty' menyoroti misi mantan fotografer fashion Rick Guidotti untuk mengubah persepsi jamak orang-orang tentang kecantikan dengan mengabadikan mereka yang terkucilkan karena kelainan genetisnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Fotografer yang pernah memotret supermodel kondang Cindy Crawford dan Claudia Schiffer ini ingin membuktikan bahwa mereka cantik terlepas dari perbedaan fisiknya.
Film ini seolah mengembalikan rasa percaya diri mereka yang selama ini merasa terkucilkan. Lewat film ini juga, mereka juga diberi kesempatan untuk berbicara dan mengutarakan isi hati yang selama ini membebani mereka.
Baca Juga: 50 Tas dan Sepatu Favorit Selebriti
'On Beauty' bukanlah proyek pertama darinya. Sudah merintis karier sebagai sutradara film dokumenter sejak 15 tahun lalu, Joanna telah menelurkan sejumlah judul film dokumenter.
Sebetulnya, menjadi seorang sutradara dokumenter bukanlah impian awalnya. Ketertarikannya pada film dokumenter muncul ketika ia bekerja di sebuah stasiun TV di New York City, AS, selepas menamatkan kuliahnya di bidang jurnalistik.
"Aku suka prosesnya yang intens karena menyatukan hati mereka yang terlibat di dalamnya. Film dokumenter juga bisa mengubah cara berpikir orang," katanya.
Dari sekian banyak topik, Joanna lebih tertarik mengangkat topik kemanusiaan serta kesehatan dalam setiap karyanya. Ketertarikannya pada topik ini sebetulnya berangkat dari pengalaman pribadi.
Pada usia 38 tahun, ia divonis kanker payudara stadium 2. Sebetulnya, Joanna sudah mencurigai dirinya berisiko terkena kanker payudara berdasarkan riwayat kesehatan keluarganya. Sang ibu didiagnosi menderita kanker rahim saat ia berusia 13 tahun. Sementara neneknya sudah pernah menjalani mastektomi karena kanker payudara. Tapi Joanna enggan memeriksakan diri hingga akhirnya dokter memvonisnya kanker payudara.
Pengalaman itu lantas mengilhami Joanna untuk membuat 'In the Family'. Misinya meningkatkan kesadaran wanita akan kanker payudara sekaligus mengimbau agar para wanita rutin melakukan mammogram atau pemeriksaan payudara dengan teknik lainnya. Menurutnya, topik ini patut diangkat karena kurang mendapat perhatian para wanita.
"Aku suka mengangkat topik yang jarang dibahas orang sehingga memotivasi mereka untuk mendiskusikannya, khususnya masalah kesehatan," ujar Joanna yang juga sudah sempat menjalani mastektomi.
Usahanya membuahkan hasil. Film yang ditayangkan di stasiun TV PBS ini berhasil masuk nominasi Emmy Award 2009 untuk kategori Outstanding Informational Programming.
Sejak itu, Joanna lebih tertarik untuk fokus membuat film dokumenter yang berkaitan dengan isu kemanusiaan kesehatan. Ia juga ingin memanfaatkan talentanya sebagai media penyalur suara mereka yang terkucilkan. Sebagaimana yang dilakukannya di 'On Beauty'.
"Setiap orang memiliki suara yang dapat membawa perubahan positif pada dunia. Aku ingin menjadikan dunia tempat yang lebih baik," kata Joanna.
Tapi, ia juga diperhadapkan misi yang lebih penting, yakni melakoni peran sebagai ibu dari dua anak yang masih berusia di bawah lima tahun. Diakui Joanna, melakukan keduanya secara bersamaan bukanlah hal yang mudah.
"Sungguh berat rasanya ketika kamu menjadi sutradara yang harus berkeliling dunia membuat film berminggu-minggu dan harus meninggalkan anakmu yang masih kecil," ujarnya.
Tapi ia merasa beruntung memiliki pasangan hidup yang sangat suportif dan memercayai misinya. "Dia adalah sosok ayah yang sangat baik bagi anak-anakku," kata Joanna lagi. (dng/ami)
Health & Beauty
Secret Garden Extrait de Parfum, Wangi Mewah yang Tahan Lama dan Bikin Kesan Lebih Berkelas!
Health & Beauty
Rambut Lebih Halus & Anti Ngembang, Ini 3 Hair Care Andalan untuk Rambut yang Susah Diatur!
Hobbies & Activities
Main Badminton Lebih Stabil, Ini Rekomendasi 3 Shuttlecock yang Nyaman Dipakai Latihan Rutin
Hobbies & Activities
American Tourister Argyle Cabin 20 Inch jadi Solusi Ringkas dan Aman untuk Travel Singkat
Artikel Terkait
ARTIKEL LAINNYA
7 Keuntungan Menjadi Perawat Home Care Dibanding Perawat Rumah Sakit
Mengenal Manfaat Lanyard Id Card dan Rekomendasi Tempat Memesannya
Motivasi Kerja Mulai Pudar? Bangkitkan Lagi dengan 5 Langkah Ini
Mooryati Soedibyo, Pionir Jamu dan Kosmetik Tradisional di Indonesia
Petinju Wanita Nangis Setelah Dipukul 278 Kali, Netizen Salut Semangatnya
Most Popular
1
Penampilan Terbaru Vidi Aldiano Bikin Pangling, Kini Berkumis Tebal
2
Momen Miley Cyrus Ngomel ke Fotografer, Disuruh Lepas Kacamata di Red Carpet
3
Kate Middleton Jadi Korban Kekejaman AI, Tersebar Gambar Sensual
4
Kisah Cinta Sesama Idol Jepang, Mantan AKB48 Akan Dinikahi Anggota BOYS & MEN
5
Komentator Politik yang Sebut Ibu Negara Prancis Transgender Kembali Menyindir
MOST COMMENTED











































