ADVERTISEMENT

Ferry Irawan Dulu KDRT Eks Istri Kini Venna Melinda, Ini Sebab KDRT Berulang

Hestianingsih Hestianingsih - wolipop Selasa, 10 Jan 2023 19:00 WIB
kemesraan Venna Melinda dan Ferry Irawan Venna Melinda dan Ferry Irawan. Foto: Instagram/@vennamelindareal
Jakarta -

Venna Melinda jadi korban KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga) suaminya sendiri, Ferry Irawan. Artis sekaligus mantan anggota DPR RI ini bahkan sudah melaporkan kekerasan yang dialaminya ke polisi.

Tindak KDRT diketahui sudah sering terjadi selama 9 bulan usia pernikahan mereka. Hal itu diungkap oleh adik kandung sekaligus penasihat hukum Venna Melinda, Reza Mahastra. Dia menjelaskan kakaknya itu selama ini diam menutupi aib keluarga.

Venna Melinda akhirnya berani bersuara karena menurutnya tindakan Ferry Irawan sudah keterlaluan. Akibat kekerasan yang dialaminya, ibu tiga anak itu mengalami luka di hidung hingga berdarah.

Sikap kasar Ferry Irawan ternyata juga pernah dirasakan Anggia Novita, mantan istrinya. Ia menggambarkan pria 44 tahun itu sebagai sosok pemarah.

"Selain dia juga agak kasar, kalau misalkan dia marah itu dulu-dulu sering banting pintu, terus ditonjokin," ujar Anggia Novita, dikutip dari channel YouTube MAIA ALELDUL TV yang tayang pada Agustus 2021 lalu.

venna melinda saat dirawat di rs mitra keluargaVenna Melinda saat dirawat di RS Mitra Keluarga. Foto: Instagram/@athallanaufal7

Anggia juga menyebut Ferry Irawan sering kali bertingkah seperti anak kecil. Amarahnya mudah meluap hanya karena persoalan sepele.

"Benar-benar kayak anak kecil banget, apa-apa cemburu, apa-apa marah, minta diladenin," ucap Anggia yang menggugat cerai Ferry Irawan pada Juli 2021.

KDRT tak hanya sekali-dua kali dilakukan Ferry Irawan, baik dalam bentuk fisik maupun psikis. Lantas, apa yang menyebabkan seseorang melakukan KDRT berulang kali, dan tidak pada satu orang saja?

Psikolog Ester Lianawati menjelaskan bahwa pelaku KDRT umumnya tidak merasa ada yang salah dalam dirinya.

"Mereka meyakini korban yang salah dan telah memprovokasi mereka," jelas Ester dalam tulisannya untuk kolom detikcom.

Sebab kekerasan yang dilakukannya juga merupakan hasil dari 'proses belajar', entah itu dari pola asuh, faktor lingkungan, dan sebagainya. Perlu diingat juga bahwa dia telah 'belajar' selama belasan (bahkan puluhan) tahun untuk menjadi pelaku kekerasan, maka belajar untuk tidak lagi menjadi pelaku kekerasan pun akan membutuhkan proses yang panjang.

Untuk itu perlu proses panjang dan rumit untuk seorang pelaku KDRT bisa berubah, menyadari kesalahan, dan tidak akan mengulangi perbuatannya. Dia harus belajar untuk berhenti menjadi pelaku kekerasan dan itu tidak bisa hanya dengan minta maaf. Tidak pula dengan cukup menyadari perbuatan dan keinginan untuk berubah.

"Penyesalan, kesadaran, dan keinginan berubah perlu diikuti dengan upaya nyata untuk menyembuhkan diri. Ia perlu masuk dan menjalani proses penyembuhan itu," terangnya.

Dia menekankan bahwa pelaku KDRT bisa saja berubah, tapi dengan lima kondisi penting, yang dijelaskannya berikut ini:

1. Memahami ada yang salah dengan dirinya. Bahwa yang ia lakukan adalah kekerasan dan ini tidak benar.

2. Mengambil tanggung jawab sepenuhnya atas tindak kekerasannya.

3. Memiliki keinginan yang muncul dari dirinya sendiri bahwa dia harus berubah.

4. Menyadari bahwa proses menuju perubahan akan panjang dan berat tetapi perlu dilakukan.

5. Melakukan upaya-upaya nyata untuk sungguh-sungguh berubah.

"Tanpa kelima hal itu, kita tidak dapat mengharapkan pelaku dapat berubah," pungkas Ester yang juga seorang peneliti independen.

Lihat juga video 'Adik Perlihatkan Video Usai Venna Melinda Diduga Di-KDRT':

[Gambas:Video 20detik]



(hst/hst)