Viral Wanita Ungkap Cerai Padahal Baru Nikah 8 Hari, Ini Kata Psikolog

Gresnia Arela Febriani - wolipop Kamis, 19 Mei 2022 10:00 WIB
Kisah wanita yang diceraikan oleh suaminya usai 8 hari menikah. Kisah Eka viral di media sosial. Foto: Dok. Instagram @kasyiru__.
Jakarta -

Wanita bernama Eka S Rufaidah membagikan video viral pengakuannya diceraikan oleh suaminya padahal baru menikah delapan hari. Ia mengunggah ceritanya lewat akun Instagram @kasyiru__.

Eka kemudian melanjutkan mengunggah kisahnya lewat Thread Twitter @EkaRufaedah. Dalam unggahannya itu Eka mengaku tak pernah membayangkan jika pernikahannya hanya berjalan sangat singkat.

Eka mengungkapkan dia menikah dengan seorang dosen berusia 39 tahun yang bergelar doktor di sebuah kampus swasta di Jakarta. Keduanya menikah pada 6 Maret 2022. Namun pada tanggal 14 Maret 2022 suaminya menceraikan Eka.

"Alasannya? Sangat sepele. Berawal dari pakaian ku tidak sengaja mengenai nasi yang akan dia makan," ungkap Eka. Klik kisah lengkapnya KLIK DI SINI.

Menanggapi kisah Eka yang menjadi sorotan publik, Psikolog Klinis Dewasa, Alfath Hanifah Megawati, M.Psi. mengatakan perlu melihat dari kedua perspektif untuk melihat apa saja faktor yang memicu konflik dalam rumah tangga, sehingga akhirnya berujung perceraian.

"Tapi, dari cerita singkat ini, saya pikir masalahnya bukan tentang di OCD. Permasalahan justru di pernikahan yang tampak dipaksakan. Mereka berdua menikah tanpa melewati proses mengenal kepribadian masing-masing, tanpa berdiskusi visi misi pernikahan mereka nantinya juga, dan lebih sulit tanpa ada perasaan nyaman satu sama lain sebelum pernikahan berlangsung," kata psikolog yang akrab disapa Ega, kepada Wolipop lewat WhatsApp, Rabu (18/5/2022).

Menurut Ega, hal ini yang sangat berisiko untuk memulai pernikahan. Pernikahan umumnya perlu penyesuaian satu sama lain. Jadi, setelah lewat fase honeymoon atau bulan madu pasti akan ada sulitnya.

"Bayangkan kalau pasangan berangkat tanpa fase honeymoon ini dan tanpa persiapan medan apa yang akan mereka temui. Iya, risiko untuk merasa frustasi yang memicu emosi negatif lain akan ada," jelasnya.

Menikah dengan Orang OCD

Ega menuturkan bagi seseorang yang mengidap Obsessive Compulsive Disorder (OCD), bisa menjalani kehidupan rumah tangga yang bahagia dan harmonis. Sehingga OCD tak selalu menjadi penyebab pernikahan berakhir.

"Seseorang yang mengidap OCD bukan berarti tidak bisa punya pernikahan yang harmonis ya. Tapi, selayaknya orang dengan masalah fisik, adakalanya kondisinya akan menghambat proses penyesuaian dirinya dengan orang lain (terutama pasangannya, jika dalam setting rumah tangga)," ucap Ega.

Psikolog lulusan Universitas Indonesia itu mengungkapkan sebelum menikah berbagai kendala sebaiknya dikenali dan disepakati penyelesaiannya terlebih dahulu. Jika sudah menikah dan ada kendala baru, maka komunikasi dan regulasi emosi menjadi hal yang memegang peran penting.

"Bagi pihak yang mengalami OCD, perlu menyampaikan ketidaknyamanan pada pasangannya dengan asertif. Bernegosiasi dengan dirinya dan melanjutkan terapi atau pengobatan terkait dengan OCD-nya," lanjut Ega.

"Bagi pasangannya (yang tidak OCD), perlu energi yang cukup untuk paham dan mendampingi kesulitan pasangan. Serta mampu menyampaikan batasan dirinya. Jika perlu, pasangan juga ikut saat dirinya melakukan pengobatan," lanjutnya lagi. Lihat pasangan OCD tidak hanya dari sudut "kurangnya", tapi dari lebihnya demikian juga sebaliknya.

(gaf/eny)