Cara Lepas dari Jerat Suami KDRT Seperti yang Dialami Nindy Ayunda

Gresnia Arela Febriani - wolipop Selasa, 09 Feb 2021 15:32 WIB
Nindy Ayunda & Askara Parasady Harsono Nindy Ayunda mengalami KDRT. Foto: Instagram
Jakarta -

Nindy Ayunda mengalami kekerasan dalam rumah tangga selama menikah dengan Askara. KDRT yang diterima Nindy begitu memilukan. Dia sampai pernah dibanting oleh suaminya.

Nindy melaporkan KDRT yang dilakukan suaminya Askara Parasady Harsono pada 18 Desember 2020. Menurut penjelasan kuasa hukumnya, Nindy Ayunda sudah mendapat tindakan KDRT sejak 2011. Dari hasil visum, penyanyi tersebut mengalami luka lebam karena ditampar oleh suaminya.

Selain melaporkan suaminya ke polisi, Nindy juga menggugat cerai Askara. Dan pria itu sendiri kini ditahan pihak kepolisian karena kasus narkoba dan kepemilikan senjata api.

Nindy membutuhkan waktu delapan tahun untuk akhirnya bisa keluar dari jerat suami yang kerap melakukan kekerasan padanya. Pada beberapa kasus KDRT memang tidak mudah untuk wanita melepaskan diri dari jerat suami pelaku kekerasan.

Psikolog Angesty Putri, M. Psi mengatakan korban KDRT harus menjalani beberapa fase terlebih dahulu sebelum akhirnya bisa terlepas dari belenggu kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Fase pertama yang dilalui biasanya adalah fase kebingungan.

"Keluar dari lingkaran ini memang agak sulit, fasenya korbannya itu akan masuk ke fase menimbang. Kayak kasus Tiga Setya Dara, dia sudah berkoar di media sosial tetapi waktu ditawarin pulang dia malah bingung sendiri kan? Tapi kita memahami itu karena dia pasti bingung sekali. Jadi fase bingung itu sangat dipahami banget. Untuk itu harus ditarik oleh sama orang yang dari luar," kata psikolog yang akrab disapa Anez itu saat diwawancara Wolipop beberapa waktu lalu soal KDRT.

Anez menjelaskan bagi kamu yang memiliki teman korban KDRT, bisa mencoba dengan pelan-pelan mendekatinya. Saat berbincang dengannya ada hal yang harus diperhatikan agar korban KDRT tak kembali masuk jerat suami pelaku kekerasan.

"Temannya itu juga tidak boleh langsung judging,'iya suami lo itu emang brengsek tuh, tinggalin aja.' Biasanya korban yang menerima itu langsung menutup diri. Sudah! Kenapa karena kita kayak langsung menghakimi dia. Jadi sebenernya perlunya adalah mendekati sebagai teman dan bener-bener menjadi pendengar dan susah terbuka," kata Anez.

Anez menyarankan agar orang yang ada di sekitar korban KDRT harus pelan-pelan mendekati dan menjadi pendengar yang baik. "Tidak bisa tiba-tiba menarik, itu sulit. Kecuali sudah ada risiko keselamatan, atau mengancam jiwa baru harus ditarik. Biasanya umumnya menjadi pendengar yang baik, di saat seperti itu, jika sudah mereda kita bisa masuk dan memberikan pandangan-pandangan," jelasnya.

Setelah diberikan pemahaman, psikolog Klinis Universitas Indonesia itu mengatakan langkah selanjutnya adalah mengungkapkan pada korban KDRT apa konsekuensinya jika masih mau bertahan dengan kondisi tersebut. Penjelasan ini kata Anez, membantu korban KDRT untuk berpikir secara matang.

Bagi wanita yang masih memendam kasus kekerasan dalam rumah tangganya atau KDRT, Anez menyarankan sebaiknya harus mencari teman untuk bercerita.

"Kadang orang tidak mau bercerita itu, karena dia tidak mau disalahin. Jadi harus mencari teman berbicara. Tapi kalau masih malu ke keluarga dan teman yang dikenal, bisa melalui hotline Komnas Perempuan yang bisa di telepon, bisa ke profesional, ke psikolog, konselor, dan orang-orang yang memang bisa dipercaya untuk memberikan support," tutur Anez.



Simak Video "Apakah Pelaku KDRT Bisa Dideteksi?"
[Gambas:Video 20detik]
(eny/eny)