Liputan Khusus Cincin Kawin
Asal-Usul Cincin Tunangan, Dibuat dari Besi dan Hanya Dipakai Bangsawan
Bagi para pasangan yang sudah menikah, menggunakan cincin menjadi suatu hal yang lazim dilakukan. Bentuknya yang sederhana namun tetap elegan tampak mempermanis penampilan saat disematkan di jari tangan.
Tetapi kini cincin tak hanya digunakan oleh mereka yang sudah menikah saja, kehadiran cincin juga mempunyai makna bagi para pasangan yang ingin melamar kekasihnya. Namun tahukah Anda bahwa cincin tunangan ternyata sudah ada sejak zaman dahulu kala?
Meski tidak diketahui pasti asal-usulnya, banyak orang menyebutkan bahwa orang-orang dari zaman Mesir kunolah yang pertama kali menemukan cincin tunangan. Penggunaannya kemudian diadopsi oleh bangsa Yunani kuno sebagai salah satu tradisi mereka. Tetapi sejarah dari cincin tunangan tersebut baru bisa ditelusuri mulai dari zaman Romawi kuno.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal ini ternyata berpengaruh pula terhadap calon pengantin yang ingin menikah. Mereka akan diberikan dua cincin yang terbuat dari emas dan besi. Cincin emas biasanya dikenakan di depan umum, dan cincin besi dipakai di rumah saat mengerjakan tugas-tugas rumah tangga.
Di zaman Renaissance (abad 14 - 17), tercatat bahwa penggunakan cincin dengan batu berlian pertamakali digunakan untuk pertunangan bangsawan dari Austria. Inilah yang mempengaruhi orang-orang dari kelas sosial yang lebih tinggi dan memiliki kekayaan berlimpah untuk memberikan cincin pada orang yang mereka cintai.
Popularitas cincin tunangan bertahtakan berlian semakin menurun di Amerika Serikat pada abad ke-20, terlebih lagi setelah terjadinya perang dunia I. Selama itu pulalah, di tahun 30-an, harga berlian anjlok. Di saat yang sama, riset pasar menujukkan bahwa cincin tunangan sudah tidak terlalu diminati lagi di kalangan generasi muda.
Namun pada 1938, sebuah kartel atau organisasi perusahaan-perusahaan besar bernama De Beers mulai bangkit kembali untuk melakukan kampanye pemasaran yang berdampak besar pada penjualan cincin tunangan. Mereka serempak menyebarkan kampanye bertajuk 4C, yakni 'cut, carat, color, and clarity' (model, karat, warna, dan kejernihan).
Mereka juga meyakinkan para konsumen bahwa sebuah cincin tunangan bertahtakan berlian adalah benda yang harus dimiliki sebelum menikah. Hingga akhirnya pada tahun 80-an, sebanyak 80% pasangan sudah memiliki cincin tunangan.
Di abad ke-21, khususnya dalam peradaban Barat, mengenakan cincin tunangan sudah menjadi hal yang lazim dilakukan oleh calon pengantin wanita. Mereka sengaja mengenakannya untuk menunjukkan komitmen yang sudah dibuat bersama pasangannya. Biasanya mereka menyodorkan cincin seraya meminta pasangannya untuk menjadi pendamping hidupnya. Jika sang pasangan menerima cincin tersebut, ini merupakan suatu simbol keterikatan seumur hidup.
Menggunakan cincin tunangan biasanya banyak ditemukan di negara-negara barat. Di sanalah cincin tunangan hanya dikenakan oleh wanita dengan bertahtakan batu berlian, karena batu tersebut adalah jenis batu permata yang paling tahan lama yang berasal dari ratusan juta tahun lalu dan diperkirakan akan bertahan selamanya.
Dalam suatu budaya lain, para pria dan wanita yang sudah bertunangan akan mengenakan cincin yang sama. Sedangkan di beberapa budaya lainnya, cincin tunangan digunakan juga sebagai cincin kawin. Di negara barat, biasanya cincin digunakan di jari manis tangan kiri, namun hal ini tentunya juga berbeda di setiap negara.
Setelah menikah, para wanita dapat menggunakan cincin tunangan dan cincin kawin secara bersamaan atau hanya cincin kawin saja. Tetapi ada pula yang menyatukan kedua cincin tersebut secara permanen dengan cara dipatri atau direkatkan dengan solder.
(int/hst)










































