Kisah Haru Istri Donorkan Ginjal demi Menyelamatkan Suami
Seorang wanita muda di China bernama Liang rela mendonorkan ginjalnya untuk menyelamatkan sang suami, Chung, yang menderita uremia. Keputusan itu diambil setelah kondisi kesehatan Chung memburuk dan ia tidak bisa menunggu donor ginjal lebih lama.
Melansir SCMP, Liang, 25 tahun, mendonorkan ginjal kirinya kepada Chung, 33 tahun, di Third Affiliated Hospital of Guangzhou Medical University pada September. Chung diketahui mengalami congenital megaureter, yaitu kondisi bawaan yang membuat saluran ureter membesar. Kondisinya kemudian berkembang menjadi uremia sekitar empat tahun lalu.
Ia telah menunggu donor ginjal dari orang yang telah meninggal selama tiga tahun. Namun, karena golongan darahnya O negatif, donor yang sesuai sulit ditemukan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Chung bahkan diperkirakan masih harus menunggu dua hingga tujuh tahun. Sementara itu, kondisi kesehatannya terus menurun. Ia bahkan pernah dirawat karena gagal jantung akut. Melihat keadaan tersebut, Liang akhirnya memutuskan menjadi donor untuk suaminya.
"Saya merasa seperti sedang kehilangan dia. Dia mungkin tidak punya cukup waktu untuk menunggu donor ginjal," ujar Liang.
Liang dan Chung sama-sama memiliki golongan darah O negatif. Namun, kecocokan golongan darah bukan satu-satunya syarat transplantasi ginjal.
Dokter Zhao Jiqiang dari bagian transplantasi organ menjelaskan bahwa tingkat keberhasilan transplantasi antara orang yang tidak memiliki hubungan darah umumnya hanya sekitar 5 hingga 10 persen.
Pemeriksaan complement-dependent cytotoxicity pada pasangan tersebut menunjukkan hasil negatif. Artinya, tidak ditemukan antibodi yang diperkirakan dapat menyebabkan tubuh Chung menolak ginjal Liang. Hasil ini dinilai cukup beruntung, terlebih Liang baru melahirkan anak Chung pada tahun sebelumnya.
Transplantasi ginjal berjalan lancar. Ginjal Liang dapat berfungsi dengan baik di dalam tubuh Chung dan ia akhirnya diperbolehkan pulang dari rumah sakit pada 23 September.
Liang mengaku operasi tersebut sangat menyakitkan. Menurutnya, rasa sakitnya bahkan sekitar 10 kali lebih berat dibandingkan melahirkan. Meski begitu, ia tidak menyesali keputusannya.
"Selama suami saya bisa sembuh, semuanya akan baik-baik saja," katanya.
Liang sendiri memang memiliki masa kecil yang tidak mudah. Setelah orang tuanya bercerai, ia mengatakan dirinya tidak lagi diasuh oleh kedua orang tuanya dan kemudian dibesarkan oleh neneknya. Menurut Liang, Chung memberinya kasih sayang dan keluarga yang selama ini ia inginkan.
"Kami bukan hanya sepasang kekasih. Kami adalah keluarga yang akan menghabiskan hidup bersama," ujarnya.
Kisah tersebut mendapat beragam tanggapan di media sosial. Banyak warganet memuji pengorbanan Liang, meski sebagian lainnya mempertanyakan keputusannya dan khawatir ia akan menyesal di kemudian hari. Dokter Zhao mengatakan keputusan Liang tergolong jarang, terutama karena ia masih muda tetapi memiliki keinginan kuat untuk menyelamatkan pasangannya.
Setelah pulih, Chung mengatakan ingin memperlakukan istrinya dengan lebih baik. Ia juga berharap dapat mengajak Liang bepergian ke berbagai tempat di dunia, sesuatu yang selama ini sulit dilakukan karena kondisi kesehatannya.
(vio/vio)









































