Liputan Khusus Pembatalan Pernikahan
Duh, Wanita Bisa Trauma Hingga Depresi Saat Ada Pembatalan Pernikahan
Arina Yulistara - wolipop
Jumat, 29 Nov 2013 11:30 WIB
Jakarta
-
Pembatalan pernikahan bisa dilakukan dengan beberapa penyebab, seperti pemalsuan identitas, poligami secara diam-diam, pasangan masih terikat pernikahan dengan orang lain, dan berbagai alasan lainnya. Semua orang tentu tidak mengharapkan pembatalan ini terjadi. Namun sebagian dari mereka memutuskan untuk melakukannya demi kebaikan bersama.
Seperti putus hubungan ketika pacaran yang menyebabkan galau atau kesedihan mendalam, pembatalan pernikahan juga mengakibatkan hal yang sama. Bahkan kondisinya bisa lebih parah karena dua orang yang tadinya terikat pernikahan harus terpisah. Berikut empat hal buruk yang bisa saja terjadi setelah melakukan pembatalan pernikahan.
1. Trauma
Trauma juga bisa dialami oleh wanita yang baru saja menghadapi kasus pembatalan pernikahan dengan pasangannya. Bagaimana tidak, ketika pernikahan seharusnya menjadi kehidupan baru yang membahagiakan tapi harus berakhir karena sebuah kebohongan, entah mengenai statusnya atau identitas pasangan. Namun tidak semua orang mengalami trauma setelah pernikahan akhirnya 'diputuskan'.
Menurut psikolog klinis, Ayoe Sutomo, M.Psi., trauma bisa dialami oleh wanita yang ketahanan psikologisnya tidak kuat. Ketahanan psikologis seseorang dipengaruhi oleh cara dia memandang dirinya, melihat masalah yang sedang dihadapi, serta dukungan sosial dari lingkungan sekitar.
"Kalau menimbulkan trauma iya tapi tidak dibilang pasti menimbulkan trauma. Setidaknya menimbulkan kehati-hatian lebih dan lebih berpikir ketika memutuskan akan menikah," tutur Ayoe saat diwawancara di rumahnya, di kawasan Duren Sawit, Jakarta Timur, Selasa (26/11/2013).
2. Depresi
"Dampak psikis itu pasti, untuk istri yang melakukan pembatalan pernikahan lalu ada anak, dia tentu sangat depresi, stres," tutur Zuma, selaku Staff Pelayanan Hukum Yayasan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) APIK, saat dihubungi Wolipop, Rabu (27/11/2013).
3. Kehilangan Semangat
Ayoe pun menambahkan, wanita yang sedang terpuruk karena masalah putus cinta atau batal menikah bisa kehilangan semangat. Hal itu juga akan berpengaruh terhadap lingkungan sekitar serta pekerjaannya. Untuk itu, psikolog lulusan Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara itu menyarankan agar mencari kegiatan baru setelah menghadapi masalah berat tersebut. Buat diri sesibuk mungkin agar tidak bisa mengingat kembali masalah yang baru saja terjadi.
4. Berpengaruh terhadap anak
Jika ternyata pernikahan menghasilkan anak, pembatalan pernikahan tentu akan mempengaruhi psikologis anak. Dampaknya sama saja seperti melakukan perceraian. "Walaupun secara hukum tidak berubah tapi secara psikis akan berubah, anak bisa jadi pemarah dan agresif," ujar Zuma.
(ays/fer)
Seperti putus hubungan ketika pacaran yang menyebabkan galau atau kesedihan mendalam, pembatalan pernikahan juga mengakibatkan hal yang sama. Bahkan kondisinya bisa lebih parah karena dua orang yang tadinya terikat pernikahan harus terpisah. Berikut empat hal buruk yang bisa saja terjadi setelah melakukan pembatalan pernikahan.
1. Trauma
Trauma juga bisa dialami oleh wanita yang baru saja menghadapi kasus pembatalan pernikahan dengan pasangannya. Bagaimana tidak, ketika pernikahan seharusnya menjadi kehidupan baru yang membahagiakan tapi harus berakhir karena sebuah kebohongan, entah mengenai statusnya atau identitas pasangan. Namun tidak semua orang mengalami trauma setelah pernikahan akhirnya 'diputuskan'.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau menimbulkan trauma iya tapi tidak dibilang pasti menimbulkan trauma. Setidaknya menimbulkan kehati-hatian lebih dan lebih berpikir ketika memutuskan akan menikah," tutur Ayoe saat diwawancara di rumahnya, di kawasan Duren Sawit, Jakarta Timur, Selasa (26/11/2013).
2. Depresi
"Dampak psikis itu pasti, untuk istri yang melakukan pembatalan pernikahan lalu ada anak, dia tentu sangat depresi, stres," tutur Zuma, selaku Staff Pelayanan Hukum Yayasan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) APIK, saat dihubungi Wolipop, Rabu (27/11/2013).
3. Kehilangan Semangat
Ayoe pun menambahkan, wanita yang sedang terpuruk karena masalah putus cinta atau batal menikah bisa kehilangan semangat. Hal itu juga akan berpengaruh terhadap lingkungan sekitar serta pekerjaannya. Untuk itu, psikolog lulusan Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara itu menyarankan agar mencari kegiatan baru setelah menghadapi masalah berat tersebut. Buat diri sesibuk mungkin agar tidak bisa mengingat kembali masalah yang baru saja terjadi.
4. Berpengaruh terhadap anak
Jika ternyata pernikahan menghasilkan anak, pembatalan pernikahan tentu akan mempengaruhi psikologis anak. Dampaknya sama saja seperti melakukan perceraian. "Walaupun secara hukum tidak berubah tapi secara psikis akan berubah, anak bisa jadi pemarah dan agresif," ujar Zuma.
(ays/fer)











































