Masalah Pernikahan Bisa Buat Bayi Sulit Tidur
wolipop
Kamis, 15 Sep 2011 17:14 WIB
Jakarta
-
Penelitian terbaru yang dilakukan Oregon State University menemukan bahwa masalah pernikahan tak hanya bisa berdampak pada pasangan suami dan istri saja. Menurut penelitian tersebut, masalah pernikahan bisa menyebabkan gangguan tidur pada anak.
"Kualitas hubungan antara orangtua dapat mempengaruhi kualitas hubungan orangtua dan anak, begitu juga sebaliknya," ujar Dr Anne Mannering, pemimpin studi dan profesor di Oregon State University, seperti yang dikutip dari thirdage.
Mannerring dan tim peneliti mempelajari lebih dari 350 keluarga yang mempunyai bayi dengan usia sembilan bulan. Para peneliti melakukan wawancara awal dengan orangtua mengenai status pernikahan. Selain itu, para orangtua juga menjawab beberapa pertanyaan tentang pola tidur bayi mereka.
Setelah bayi mereka berusia 18 bulan, para peneliti kembali mengajukan pertanyaan yang sama. Hasilnya, ditemukan bahwa ketidakstabilan pernikahan mampu mempengaruhi pola tidur bayi di kemudian hari.
"Kami menemukan bahwa tidak stabilnya perkawinan ketika bayi berusia sembilan bulan dapat mempengaruhi pola tidurnya ketika berusia 18 bulan. Namun kami tidak menemukan sebaliknya, pola tidur tidak mempengaruhi ketidakstabilan pernikahan," ujar Mannering.
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Child Development, diakui keakuratannya karena telah memperhitungkan faktor lain seperti, urutan kelahiran dan kecemasan orangtua.
(eya/eya)
"Kualitas hubungan antara orangtua dapat mempengaruhi kualitas hubungan orangtua dan anak, begitu juga sebaliknya," ujar Dr Anne Mannering, pemimpin studi dan profesor di Oregon State University, seperti yang dikutip dari thirdage.
Mannerring dan tim peneliti mempelajari lebih dari 350 keluarga yang mempunyai bayi dengan usia sembilan bulan. Para peneliti melakukan wawancara awal dengan orangtua mengenai status pernikahan. Selain itu, para orangtua juga menjawab beberapa pertanyaan tentang pola tidur bayi mereka.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami menemukan bahwa tidak stabilnya perkawinan ketika bayi berusia sembilan bulan dapat mempengaruhi pola tidurnya ketika berusia 18 bulan. Namun kami tidak menemukan sebaliknya, pola tidur tidak mempengaruhi ketidakstabilan pernikahan," ujar Mannering.
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Child Development, diakui keakuratannya karena telah memperhitungkan faktor lain seperti, urutan kelahiran dan kecemasan orangtua.
(eya/eya)











































