5 Mitos Paling Umum Tentang Vagina dan Faktanya yang Benar

Hestianingsih - wolipop Selasa, 27 Apr 2021 21:00 WIB
Ovulation, Cervical Cancer, Infographic, Vagina Foto: iStock
Jakarta -

Banyak info seputar vagina yang beredar di berbagai media. Beberapa ada yang berdasarkan fakta tapi tak sedikit pula yang hanya mitos.

Mitos-mitos seputar vagina yang tidak benar bisa saja menyesatkan. Terlebih lagi bagi mereka yang memang kurang terpapar edukasi soal kesehatan seks dan reproduksi.

Pakar seks Mia Sabat pun mencoba meluruskan beberapa mitos paling umum soal vagina yang ternyata keliru.

1. Seiring Waktu, Vagina Bisa Kendur

Menurut Mia Sabat, tak ada istilah 'vagina kencang' atau 'vagina kendur' dalam teori kesehatan seksual. Dua istilah tersebut hanyalah konstruksi sosial yang acap kali digunakan untuk mengejek wanita.

Pakar yang juga terapis seks ini menjelaskan bahwa vagina tidak menjadi kendur karena sering berhubungan seks atau setelah melahirkan. Sedangkan istilah 'kencang' atau 'kendur' lebih ditujukan untuk otot pelvis atau otot panggul. Senam kegel misalnya, bertujuan mengencangkan otot vagina, bukan mengencangkan vagina itu sendiri.

Jaringan dan otot vagina memang bisa berfluktuasi seperti merenggang atau menyusut. Namun pada akhirnya akan kembali seperti semula.

2. Vagina 'Basah' Tanda Wanita Terangsang Secara Seksual

Vagina yang 'basah' tidak selalu berarti menandakan seorang wanita sedang terangsang. Begitu pula jika vagina 'kering', bukan berarti dia tidak terangsang.

Dijelaskan Mia Sabat, lubrikasi alami pada vagina tergantung pada berbagai faktor. Meskipun vagina yang kurang terlubrikasi kadang mengindikasikan kalau perlu lebih lama foreplay, tapi kasusnya tidak sesederhana itu.

Ada banyak penyebab yang membuat vagina sulit terlubrikasi. Beberapa di antaranya ketidakseimbangan hormon, penggunaan alat kontrasepsi atau konsumsi obat-obatan.

"Bisa juga disebabkan faktor dari dalam seperti kondisi emosi atau stres," tuturnya, seperti dikutip dari Daily Star.

3. Pasta Gigi Bisa Mengencangkan Vagina

Tidak jelas dari mana mitos ini berasal dan siapa yang pertama kali menyebarkannya. Keberadaan media sosial diduga menjadi salah satu penyebab kenapa metode ini sempat populer.

Ide menggunakan pasta gigi untuk mengencangkan vagina tentu saja ditentang para pakar kesehatan. Dokter kandungan Vanessa Mackay sudah menegaskan bahwa cara itu hanyalah mitos belaka.

"Pasta gigi bisa mengencangkan vagina itu mitos. Memasukkan pasta gigi ke vagina atau vulva (bibir vagina) bukan hanya membuatmu tidak nyaman tapi juga bisa menyebabkan kerusakan serius," jelas Vanessa, seperti dikutip dari The Sun.

Dia juga menambahkan kandungan pasta gigi bisa mengganggu ekosistem flora pada vagina yang memicu infeksi seperti bacterial vaginosis (penyakit vagina yang disebabkan banyaknya bakteri) dan peradangan. Selain itu juga ada beberapa jenis pasta gigi mengandung partikel kecil yang bisa mengelupaskan kulit dan bersifat terlalu abrasif untuk dinding vagina. Akibatnya, Miss V bisa mengalami iritasi.

4. Vagina Harus Dibersihkan dengan Sabun

Seperti dilansir detikhealth, membersihkan vagina memang dianjurkan untuk menghilangkan kuman. Namun, cukup menggunakan air putih bersih dan hindari menggunakan sabun mandi atau sabun biasa.

Peneliti di Universitas Stanford mengatakan mencuci area vagina menggunakan sabun dapat mengganggu keseimbangan pH. Cara seperti itu justru membunuh bakteri baik dan membantu kuman berkembang biak.

5. Vagina Longgar Tanda Sudah Tidak Perawan

Rapat tidaknya vagina seorang wanita tidaklah berpengaruh pada status keperawanannya.

"Ukuran maupun bentuk miss V tidaklah berubah hanya karena ia pernah atau terlalu sering berhubungan intim, atau karena ukuran penis pasangan sebelumnya. Sebab vagina bersifat fleksibel. Buktinya, vagina wanita yang sudah melahirkan juga tak ada bedanya dengan yang belum," jelas Debby Herbenick, Ph.D. dari Indiana University.

(hst/hst)