Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network

Liputan Khusus Spornoseksual

Waspada Bahaya yang Muncul Saat Pria Spornoseksual Terlalu Sering Pamer Tubuh

Intan Kemala Sari - wolipop
Jumat, 06 Feb 2015 18:12 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Dok. Detikfoto
Jakarta - Apa yang tebersit di benak Anda saat melihat pria bertubuh kekar dengan perut 'kotak-kotak' dan lengan berotot yang gemar memamerkan tubuhnya di jejaring sosial? Para pria tersebut kini bisa disebut sebagai pria spornoseksual.

Istilah baru yang dicetuskan oleh jurnalis asal Inggris, Mark Simpson, sejak tahun 2014 lalu ini adalah gabungan dari kata sport, porn, dan metroseksual. Fenomena yang mulai menjadi tren di Amerika dan Inggris ini mulai menjadi bagian dari gaya hidup pria modern yang tinggal di kota besar, dan baru-baru ini mulai menghampiri Indonesia setelah kampanye hidup sehat mulai sering digalakkan.

Namun Zoya Amirin selaku pakar seksolog menilai kehadiran dari pria spornoseksual ini lambat laun bisa membahayakan. "Kalau untuk saya, yang ada kata-kata pornonya itu bahaya. Orang jadi menggampangkan bentuk seksualitas yang tidak sehat," tutur wanita lulusan seksologi Universitas Udayana Bali ini saat dihubungi Wolipop via telepon, Rabu (4/2/2015).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lebih lanjut ia mengatakan, salah satu bentuk seksualitas yang tidak sehat adalah pamer tubuh dengan tatapan sensual seperti yang banyak dilakukan oleh para pria spornoseksual. Menurutnya, hal itu justru membuat pornografi jadi terlihat biasa saja, terlebih lagi jika mereka mencoba menarik perhatian lawan jenis dengan cara tersebut, ini adalah suatu ide yang salah.

"Kalau mau mengekspresikan seksualitas harus dengan cara yang tepat, ya Anda harus bisa membahagiakan dan menggauli pasangan dengan benar. Jaga juga perasaannya, bukan malah pamer-pamer badan," kata wanita yang juga menjabat sebagai ketua komunitas studi perilaku seksual itu.

Kata 'porn' dalam istilah spornoseksual, menurut Zoya mungkin tidak dilihat dalam arti pornografi yang sebenarnya. Mereka hanya memamerkan tubuhnya, bukan melakukan adegan hubungan seksual. Namun hal ini tetap saja membuat orang yang melihatnya berpikiran bahwa pornografi adalah hal yang wajar-wajar saja untuk dilakukan.

"Karena orang-orang menganggapnya hal yang biasa saja, mereka jadi banyak yang meniru dan sah-sah aja untuk berperilaku seperti itu. Padahal ini dampak buruk yang bahaya sekali," imbuhnya lagi.

Sedangkan menurut psikolog Ajeng Raviando, bahaya yang datang justru dari para pria spornoseksual itu sendiri. Mereka seolah tidak mempunyai rasa empati terhadap orang lain karena sibuk dengan dirinya sendiri. Hal ini dikhawatirkan akan mengakibatkan kurangnya rasa peduli dan muncul sifat egois.

"Jadi seperti narsis ya, maunya dia terus yang muncul. Tidak peduli orang lain melihatnya senang atau tidak, yang penting dia tetap upload foto terus. Yang seperti ini biasanya identik dengan gay," ucapnya saat ditemui Wolipop di Hotel Mulia Senayan, Jakarta, Kamis (5/2/2015).

(int/eny)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads