Liputan Khusus Jadwal Bercinta
Perlukah Pasangan Mengatur Waktu untuk Bercinta?
Ketika pasangan disibukkan dengan urusan rumah tangga dan pekerjaan yang hampir menyita waktu, rutinitas seksual jadi sedikit terlupakan. Maka tak jarang, banyak pasangan yang berkomitmen untuk melakukan hubungan intim sesuai jadwal yang telah disepakati bersama. Sebenarnya, perlukah mengatur waktu untuk bercinta?
Dr. Ferryal Loetan selaku spesialis rehabilitasi medik dan konsultan seks mengatakan, waktu untuk melakukan aktivitas seksual sebenarnya tidak perlu diatur. Apabila pasangan membutuhkan satu sama lain dan keduanya sedang memiliki libido atau gairah yang kuat, tidak ada salahnya seks dilakukan secara spontan demi mencapai kepuasan yang maksimal.
Pria yang mengambil pendidikan spesialis rehabilitasi seksual di Amerika Serikat ini juga menambahkan, waktu bercinta yang dijadwalkan terkadang bisa berdampak kurang baik pada hubungan. Misalnya pasangan sudah mengatur waktu bercinta setidaknya dua kali dalam seminggu, jadwal ini, menurut Dr. Ferry, akan membuat salah satu individu merasa terpaksa dalam melakukannya sehingga dia tidak merasa puas akan hasil akhirnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih lanjut pria lulusan Magister Kesehatan di Universitas Gajah Mada ini menjelaskan, masalah yang timbul merupakan puncak akumulasi dari rasa orgasme yang sulit dicapai. "Misalnya, si istri libidonya tinggi, sedangkan suaminya lelah karena kerja lembur. Ketika hubungan intim ini terjadi, salah satunya akan merasa terpaksa dan justru tidak akan mencapai orgasme," paparnya lagi.
Namun menurut Zoya Amirin yang merupakan psikolog seksual, waktu bercinta dapat dibuat tergantung kepada masing-masing pasangan. Apabila salah satunya sangat sibuk bekerja sehingga tidak mempunyai waktu atau bahkan lupa, tidak ada salahnya untuk membuat jadwal.
Selain itu, wanita yang juga berprofesi sebagai dosen ini menekanan pentingnya hubungan intim bagi pasangan suami istri. Kedua belah pihak harus merasa terpenuhi kebutuhan seksualnya demi keharmonisan rumah tangga. "Jadi saran saya mungkin bisa dicari solusinya, dibicarakan dengan pasangan agar keduanya sama-sama mengerti," katanya.
(int/hst)











































