Edisi Perdana Kompetisi Desainer Muda FFD di JF3, Pemenang dari Papua
Menekuni profesi desainer bukan cuma soal alenta dan kreatif. Penguasaan teknik dasar dalam mengeksekusi ide di kepala juga sangat krusial. Di Future Fashion Designer (FFD), para generasi penerus disiapkan dalam sebuah kompetisi yang mengasah kemampuan tersebut agar mereka lebih siap menghadapi tantangan masa depan.
Future Fashion Designer (FFD) merupakan program baru buah kolaborasi JF3 Fashion Festival bersama Susan Budihardjo Fashion Forward Institute (dulu Lembaga Pengajaran Tata Busana Susan Budihardjo).
Berbeda dari Pintu Incubator yang mempersiapkan para desainer atau brand lokal dalam memasuki pasar global, FFD hadir sebagai kompetisi desain yang bukan sekadar ajang adu konsep, tapi juga untuk mematangkan kemampuan teknis peserta.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bukan cuma bisa gambar, tapi mereka harus mengerti cara bikin pola, punya pengetahuan menjahit, dan paham tentang bahan. Bukan cuma asal bisa tapi juga harus bagus saat menghasilkan suatu karya," ujar Thresia Mareta, penasehat JF3 Fashion Festival sekaligus pendiri Lakon Indonesia saat jumpa pers belum lama ini di Gavoy Kelapa Gading Jakarta Utara.
Thresia mengungkapkan, FFD berangkat dari kekhawatirannya setelah melihat performa sejumlah desainer dan brand yang produknya dijual Lakon Store. Ada yang berguguran lantaran tidak memiliki kesiapan untuk berkembang di industri yang dinamis ini.
Susan Budihardjo menekankan pentingnya pendidikan dasar fashion sebagai pondasi yang kuat ketika hendak terjun ke dunia mode. Selain itu, sebagai profesional, para desainer juga harus memiliki kedisiplinan dan kemandirian sebagai bentuk kesiapan mental dalam menghadapi berbagai tantangan.
Di FFD edisi perdana ini, peserta ditantang untuk menciptakan lima set busana dengan lima tema berbeda dalam kurun waktu 14 hari. Bentuknya mirip program TV 'Project Runway', kompetisi desainer yang dikemas dalam bentuk reality show dan dipandu model Heidi Klum.
"Untuk setiap tema, masing-masing peserta mendapat uang belanja Rp 500.000. Mereka cari sendiri bahannya di Tanah Abang," ungkap Susan.
Kelima tema mencakup Prototype, The Curve, Re'Heritage, Multifunction, dan Opposite. Masing-masing dirancang untuk menguji aspek yang berbeda, mulai dari eksplorasi identitas desain, interpretasi budaya, inovasi, kemampuan beradaptasi, hingga penyelesaian masalah secara kreatif.
Ketegangan meningkat ketika mereka hanya memiliki waktu dua hari untuk menyelesaikan satu busana sebelum dipresentasikan di hadapan para juri.
Selain Susan dan Thresia, panel juri terdiri dari desainer busana Hian Tjen, Didi Budiardjo, Sofie, perancang aksesori Rinaldy A. Yunardi, dan desainer sepatu Yongki Komaladi, desainer interior Ary Juwono, editor gaya hidup Harian Kompas Sarie Febriane, stylist Caren Delano, praktisi retail dan brand Richard Hartono dan show coordinator/koreografer Djafar.
Dari delapan peserta, tersisa lima finalis yang bertahan hingga akhir kompetisi. Mereka antara lain Arron Bryan, Agatha Lievia, Azzahra Najmanisa, Nabila Karimah, dan Tashannie Abigail Loekman.
Dan gelar pemenang pun jatuh ke tangan Arron Bryan, desainer muda asal Jayapura, Papua, yang kini berbasis di Jakarta.
Koleksinya berangkat dari eksplorasi budaya Papua yang diterjemahkan ke dalam pendekatan kontemporer. Di antara para finalis, Arron dinilai paling konsisten dalam menjawab setiap tantangan, dengan keseimbangan antara kreativitas, kemampuan teknis, kualitas eksekusi, dan kesiapan produksi.
Sebagai pemenang, Arron memperoleh hadiah sebesar Rp 50 juta. Selain itu, seluruh finalis juga mendapatkan kesempatan untuk menampilkan karya mereka di runway JF3 Fashion Festival 2026 pada akhir Juli nanti, berdampingan dengan desainer Indonesia dan internasional.
(dtg/dtg)









































