Benarkah Seks Pengaruhi Kepuasaan Pada Pernikahan?
wolipop
Rabu, 05 Okt 2011 08:39 WIB
Jakarta
-
Seks yang sehat akan menghasilkan pernikahan yang sehat juga, itulah nasihat yang selama ini kerap diberikan pakar. Apakah benar kualitas seks mempengaruhi pernikahan? Sebuah riset memiliki jawabannya.
Penelitian tersebut dilakukan oleh Kristina Dzara dari Southern Illinois University. Dalam penelitiannya, ia mencari tahu apakah memang seks bisa membuat sebuah pernikahan menjadi retak.
Dalam penelitiannya tersebut, Dzara menggunakan pasangan pengantin baru sebagai responden. Ada 1.000 pasangan dari Louisiana yang disurvei sejak 1998 sampai 2004. Usia rata-rata istri yang menjadi responden adalah 28 tahun, sementara usia prianya, 30 tahun.
Saat melakukan penelitian, Dzara menggunakan tiga cara untuk mengukur seksualitas pasangan dalam tiga sampai enam bulan pernikahan mereka. Tiga ukuran yang dipakai itu adalah frekuensi hubungan seks, kepuasan seks dan adanya kesepakatan tentang kehidupan seks. Tiga ukuran tersebut dipakai untuk memprediksi kemungkinan adanya perceraian setelah lima tahun menikah.
Apa hasilnya? Pertanyaan pertama soal apakah frekuensi seksual mempengaruhi pasangan tetap bersama, jawabannya ternyata tidak. Rata-rata pasangan pengantin baru ini mengaku berhubungan intim beberapa kali dalam seminggu. Tapi frekuensi hubungan tersebut tidak mempengaruhi kepuasaan mereka pada pernikahan.
Bagaimana soal kepuasaan pada hubungan seks tersebut? Dalam penelitiannya, Dzara mencari tahu jawabannya secara terpisah, baik dari pihak suami maupun istri. Untuk istri, kepuasaan mereka pada hubungan seks atau keintiman secara psikis menurunkan kemungkinan untuk bercerai. Tapi secara keseluruhan kualitas pernikahan dan kepuasaan pada keintiman itu sebenarnya memiliki efek yang sama. Dengan kata lain, untuk istri, kualitas pernikahan dan kepuasaan pada hubungan seks tidak bisa dipisahkan.
Sementara untuk para suami, probabilitas perceraian menurun drastis saat suami sangat puas dengan kehidupan seksualnya. "Pasangan dengan suami yang kepuasaan seksualnya tinggi, dibandingkan dengan suami yang kepuasaan seksualnya sangat rendah, lebih rendah kemungkinannya mengalami keretakan dalam pernikahan sekitar 83,7%," tulis Dzara dalam laporan penelitiannya.
Bagaimana dengan adanya kesepakatan antara suami-istri soal kehidupan seks? Faktor yang jadi alat ukur ketiga dalam penelitian Dzara ini ternyata tidak mempengaruhi kepuasaan seseorang pada pernikahan dan kemungkinan adanya perceraian.
Jika disimpulkan, inti dari penelitian Dzara tersebut, seks berpengaruh untuk sebuah pernikahan yang sehat. Untuk para istri, kepuasaan pada kehidupan seks dan pernikahan itu sendiri, merupakan faktor yang tidak bisa terpisahkan. Tapi pada pria, hal serupa tidak berlaku. Kemungkinan seorang pria bercerai menurun kalau dia puas pada kehidupan seksnya.
(eny/eya)
Penelitian tersebut dilakukan oleh Kristina Dzara dari Southern Illinois University. Dalam penelitiannya, ia mencari tahu apakah memang seks bisa membuat sebuah pernikahan menjadi retak.
Dalam penelitiannya tersebut, Dzara menggunakan pasangan pengantin baru sebagai responden. Ada 1.000 pasangan dari Louisiana yang disurvei sejak 1998 sampai 2004. Usia rata-rata istri yang menjadi responden adalah 28 tahun, sementara usia prianya, 30 tahun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apa hasilnya? Pertanyaan pertama soal apakah frekuensi seksual mempengaruhi pasangan tetap bersama, jawabannya ternyata tidak. Rata-rata pasangan pengantin baru ini mengaku berhubungan intim beberapa kali dalam seminggu. Tapi frekuensi hubungan tersebut tidak mempengaruhi kepuasaan mereka pada pernikahan.
Bagaimana soal kepuasaan pada hubungan seks tersebut? Dalam penelitiannya, Dzara mencari tahu jawabannya secara terpisah, baik dari pihak suami maupun istri. Untuk istri, kepuasaan mereka pada hubungan seks atau keintiman secara psikis menurunkan kemungkinan untuk bercerai. Tapi secara keseluruhan kualitas pernikahan dan kepuasaan pada keintiman itu sebenarnya memiliki efek yang sama. Dengan kata lain, untuk istri, kualitas pernikahan dan kepuasaan pada hubungan seks tidak bisa dipisahkan.
Sementara untuk para suami, probabilitas perceraian menurun drastis saat suami sangat puas dengan kehidupan seksualnya. "Pasangan dengan suami yang kepuasaan seksualnya tinggi, dibandingkan dengan suami yang kepuasaan seksualnya sangat rendah, lebih rendah kemungkinannya mengalami keretakan dalam pernikahan sekitar 83,7%," tulis Dzara dalam laporan penelitiannya.
Bagaimana dengan adanya kesepakatan antara suami-istri soal kehidupan seks? Faktor yang jadi alat ukur ketiga dalam penelitian Dzara ini ternyata tidak mempengaruhi kepuasaan seseorang pada pernikahan dan kemungkinan adanya perceraian.
Jika disimpulkan, inti dari penelitian Dzara tersebut, seks berpengaruh untuk sebuah pernikahan yang sehat. Untuk para istri, kepuasaan pada kehidupan seks dan pernikahan itu sendiri, merupakan faktor yang tidak bisa terpisahkan. Tapi pada pria, hal serupa tidak berlaku. Kemungkinan seorang pria bercerai menurun kalau dia puas pada kehidupan seksnya.
(eny/eya)











































