ADVERTISEMENT

Dianggap Terlalu Hemat, Wanita Pakai Ulang Tisu Toilet Jadi Kontroversi

Rahmi Anjani - wolipop Kamis, 05 Jan 2023 16:15 WIB
Young woman sitting in a bathroom taking toilet paper from a roll Foto: Thinkstock
Jakarta -

Mengurangi penggunaan tisu menjadi salah satu gerakan yang dikampanyekan untuk melindungi lingkungan. Dengan begitu, pohon yang ditebang untuk menjadi bahan baku tisu juga bisa berkurang. Meski tujuannya mulia, seorang influencer disebut keterlaluan karena memakai ulang tisu toilet. Tak sedikit yang menganggapnya menjijikkan.

Seorang wanita yang tergabung dalam Net Zero Company sering mengkampanyekan gerakan untuk menyelamatkan bumi. Salah satunya adalah dengan tidak menggunakan banyak tisu, termasuk untuk masalah higienitas. Sebagai ganti tisu, ia memakai kain ramah lingkungan yang bisa dibawa dan dipakai ulang.

"Setelah muncul kekurangan tisu toilet pada 2020, kami membuat versinnya yang bisa dipakai ulang," kata wanita tersebut.

@netzerocompany

Menurutnya, daripada tisu, selain menghemat penggunaan kertas dan uang, kain ramah lingkungan juga lebih lembut daripada tisu toilet di pasaran. Kain itu disimpan dalam sebuah tas kecil agar bisa dipakai lagi dan dibawa bepergian agar 27 ribu pohon tidak harus ditebang setiap hari untuk membuat tisu toilet.

Ia pun sadar bahwa banyak orang yang tidak setuju dengan metode tersebut lalu menjelaskan bahwa kain tersebut lebih cocok dipakai ketika menggunakan toilet dengan bidet. "Dan kepda 56 ribu komentar yang tidak menyetujuinya, kain itu dimaksudkan untuk mengelap air, kamu tahu, seperti mengeringkan tubuh setelah mandi," jelasnya lagi.

Meski sudah meyakinkan orang-orang tampaknya tidak banyak yang tergugah dengan cara tersebut. Beberapa menyebut gerakan ini keterlaluan. "Maaf aku sangat mendukung penyelamatan bumi tapi ini sudah terlalu jauh," "Aku sangat mendukung barang-barang daur ulang tapi ini sudah keterlaluan," "Akan mudah bau," "Dengan begitu kamu harus ekstra mencucinya, apakah itu bagus untuk lingkungan," tulis netizen.

Tapi banyak pula yang merasa cara tersebut adalah ide yang bagus. "Ini cukup jenius," "Aku suka misni ini," "Kamu mengubah dunia," "Ini akan berdampak di masa depan," tulis yang lain.

(ami/ami)