ADVERTISEMENT

'Vabbing' Tren Jorok Viral di TikTok, Pakai Parfum dari Cairan Miss V

Kiki Oktaviani - wolipop Senin, 11 Jul 2022 21:00 WIB
ilustrasi vagina Foto: iStock
Jakarta -

Di TikTok kerap kali menghadirkan tren kecantikan yang aneh. Seperti tren bernama vabbing yang baru-baru ini viral di media sosial tersebut. Tren kecantikan tersebut jadi pro dan kontra.

Vabbing menjadi tren terbaru di TikTok, di mana wanita mengoleskan cairan miss V-nya di area-area yang biasa disemprotkan parfum (lengan dan leher). Tujuannya memang sebagai pengganti parfum.

Menurut para wanita di TikTok yang telah mempraktikannya, cara ini berfungsi untuk menarik lawan jenis. Terdengar menjijikan dan jorok, namun para wanita tersebut meyakini bahwa aroma yang keluar dinilai seksi bagi kaum pria.

Influencer Mandy Lee yang mencoba vabbingInfluencer Mandy Lee yang mencoba vabbing Foto: dok. TikTok

"Aku bersumpah, kamu akan menarik pria saat kencan. Atau kamu bisa mendapatkan minuman gratis sepanjang malam," ungkap influencer Mandy Lee yang sudah mencoba tren vabbing.

Wanita-wanita lainnya pun telah mencoba tren tersebut. Entah demi viral atau memang kebetulan, banyak wanita yang memberikan testimoni bahwa mereka berhasil menggaet lawan jenis. Menurut para wanita itu, cairan vagina menghasilkan feromon, sensasi terangsang.

Pada 2019 lalu, pakar seks Shan Boodram berbagi tips tentang alternatif parfum dengan menggunakan cairan area intim wanita tersebut. Dia mengaku bahwa triknya itu selalu berhasil membuat pria mendekat dan mengajaknya berkenalan.

"Aku yakin setiap aku menggunakannya, itu membuatku merasa seperti dewi yang mempesona dengan aroma lezat tersebut," ungkap Shan dalam bukunya berjudul The Game of Desire.

Tren vabbing yang dinilai jorok oleh pakar kesehatan tersebut tentu saja dibantah dalam dunia medis. Menurut dokter kandungan dan penulis The Vagina Bible, Dr Jen Gunter, efek feromon tidak berguna di pada manusia, sementara hewan dan serangga memiliki kelenjar yang menghasilkan feromon. Tren tersebut pun dinilai sesat.

"Jika orang benar-benar percaya bahwa ada feromon, mereka telah disesatkan. Saya pikir ini menunjukkan betapa mudahnya disinformasi medis dapat dianggap sebagai fakta," ungkap Dr. Jen, seperti dikutip The Cut.

Profesor biologi evolusioner di University of Melbourne, Profesor Mark Elgar juga tidak membenarkan tren vabbing tersebut. Dia berharap, tidak ada orang yang benar-benar meyakini tren tersebut.

"Saya pikir seluruh ide vabbing itu lucu, dan saya harap tidak ada yang menganggapnya terlalu serius," kata Profesor Mark.



Simak Video "Pengumuman! BLACKPINK Konser di Jakarta Maret 2023"
[Gambas:Video 20detik]
(kik/kik)