Fenomena 'Face Loans', Rela Ngutang untuk Operasi Plastik Demi Jadi Cantik

Hestianingsih - wolipop Rabu, 03 Okt 2018 17:46 WIB
Foto: Thinkstock Foto: Thinkstock

Guangzhou - Makin banyak remaja di China yang ingin melakukan operasi plastik demi membuat penampilannya lebih menarik. Meskipun biayanya terbilang mahal --terlebih lagi untuk ukuran pelajar-- tak sedikit wanita muda di sana melakukan berbagai cara, termasuk mengajukan pinjaman uang, agar bisa operasi plastik.

China Daily melansir, 16,6 persen dari 300 pelajar dan mahasiswa yang menjalani operasi plastik di Guangzhou Huamei Aesthetic Hospital (GHAH) meminjam uang untuk melakukan prosedur kosmetik. GHAH sendiri merupakan penyedia fasilitas operasi plastik terbesar di Guangzhou, China.

Fenomena ini pun menjadi ladang bisnis bagi para kreditur yang menyasar klien operasi plastik sejak 2015. Salah satunya Ant Financial Services Group, perusahaan finansial online yang merupakan sister company dari e-commerce Alibaba.

Melihat adanya peluang pasar, Ant Financial Services Group menawarkan program pinjaman dan cicilan untuk operasi plastik. Besarnya pinjaman bervariasi, mulai dari Rp 23 jutaan hingga Rp 68,7 jutaan.
Fenomena 'Face Loans', Rela Ngutang untuk Operasi Plastik Demi Jadi CantikIlustrasi operasi plastik dengan injeksi. Foto: Thinkstock

Tak ada asap kalau tak ada api. Maraknya program pinjaman untuk operasi plastik ini tak terlepas dari semakin populernya prosedur kecantikan tersebut di Negeri Tirai Bambu. Sektor pasar di bidang ini bernilai miliaran yuan di China tahun lalu, dengan pertumbuhan sekitar 20 persen.

Sesuai hukum ekonomi, makin tinggi permintaan maka makin tinggi pula harga. Dan setiap tahunnya biaya operasi plastik pun semakin meningkat, 'memaksa' mereka yang ingin cantik lewat jalan bedah plastik harus mengajukan pinjaman.

Tren operasi plastik di China juga sepertinya sudah jadi hal lumrah. Tak sedikit pelajar yang ingin meminjam uang untuk biaya operasi plastik ditemani oleh orang tuanya.

"Pelajar biasanya memilih operasi plastik kecil seperti operasi kelopal mata, menghilangkan jerawat dan rambut tubuh, meratakan gigi dan dermal filler," kata Du Xiuming, public relations manager klinik kecantikan Guangzhou Mylike Aesthetic Medicine.

Pinjaman biasanya dilunasi selama enam bulan, dan kebanyakan pelajar serta mahasiswa menghasilkan uang untuk membayar utangnya dengan bekerja paruh waktu. Seperti yang diakui seorang mahasiswi asal Shanxi. Wanita 22 tahun ini mendapatkan pinjaman sebesar 7.000 yuan atau sekitar Rp 15,2 juta untuk biaya operasi kelopak mata dan hidung.
Fenomena 'Face Loans', Rela Ngutang untuk Operasi Plastik Demi Jadi CantikIlustrasi wanita operasi plastik. Foto: iStock

"Aku tidak punya tabungan untuk membayar operasi, dan pemikiran keluargaku masih konservatif, jadi makin sulit mendapat izin maupun uang," ungkap wanita tersebut yang berhasil melunasi utang selama tiga bulan.

Yang Xiaogang, peneliti dari Sun Yat-sen University menyebut fenomena utang piutang terkait operasi plastik ini dengan istilah 'face loans'. Dalam tulisannya yang bertajuk "'Face Loans' Prove China's Unnerving Obsession With Beauty" dan dimuat dalam situs Sixth Tone, Yang menyebut bahwa pinjaman dapat dengan mudah didapat hanya dengan menunjukkan KTP dan/atau kartu pelajar, selama mereka tidak atau belum pernah bermasalah dengan kredit macet.

Pinjam-meminjam uang memang sudah menjadi hal lumrah dalam kehidupan sosial manusia. Namun Yang menyoroti, betapa rasa tidak percaya diri berpengaruh besar terhadap cara seseorang mengambil keputusan dalam hidup.

Rela berutang demi operasi plastik ketimbang membeli rumah atau untuk modal usaha, menunjukkan bahwa penampilan fisik kini dianggap sebagai hal utama bahkan sudah menjadi sebuah kebutuhan. Tidak cantik, maka kamu tidak bisa eksis.
Fenomena 'Face Loans', Rela Ngutang untuk Operasi Plastik Demi Jadi CantikIlustrasi wanita operasi plastik. Foto: Thinkstock

"Saya mesti menekankan di sini, memang sepertinya tidak ada hal yang ilegal tentang 'face loans'. Tapi bagaimana nilai-nilai etika sosial di China? Jika kreditur yakin orang-orang yang mengambil 'face loans' pasti bisa melunasi utangnya, itu karena mereka mengerti pentingnya berpenampilan menarik dalam kehidupan sosial yang berkaitan erat dengan pentingnya fisik ketika menilai dan memuji wanita," urainya.

Yang juga menjelaskan adanya bukti-bukti nyata bahwa seseorang yang dianggap tidak menarik, menderita karena perilaku diskiriminatif dari lingkungan di sekitarnya. Baik soal asmara maupun karier. Masalah seperti ini, menurutnya, lebih banyak dialami wanita.

"Sekarang ini, seiring semakin banyaknya orang yang melihat bahwa penampilan biasa-biasa saja adalah halangan utama untuk mendapatkan penghasilan lebih tinggi, mereka akan lari ke operasi plastik sebagai solusinya," lanjutnya.

Menurut Yang lagi, 'face loans' mengundang keprihatinan baginya. Sebab secara tidak langsung para perusahaan pemberi pinjaman ini mencari keuntungan dari 'korban-korban' diskriminasi sosial. (hst/hst)