Apa Itu Mental Breakdown? Kenali Gejalanya yang Tak Boleh Disepelekan
Mental breakdown menjadi sebuah realitas yang seringkali tersembunyi di balik senyuman sehari-hari. Apa itu mental breakdown? Ketahui lebih lanjut mengenai gangguan mental yang seringkali dipicu oleh stres hebat.
Pada kehidupan modern yang penuh tantangan, individu kerap memiliki tekanan. Ketika tekanan ini mencapai titik puncak, mental breakdown dapat menjadi bentuk pelepasan emosional yang tidak terelakkan.
Mental breakdown bukanlah suatu kelemahan, tetapi seringkali merupakan respons alami terhadap tekanan dan beban hidup yang terlalu berat. Bagi individu yang mengalami mental breakdown, dokter biasanya akan merekomendasikan terapi bicara, pengobatan, dan perubahan gaya hidup.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apa Itu Mental Breakdown?
Mental Breakdown adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan periode tekanan mental yang intens atau penyakit yang terjadi secara tiba-tiba. Selama periode ini, kamu mungkin tidak dapat melakukan aktivitas sehari-hari.
Gangguan ini dapat disebabkan oleh beberapa pemicu, antara lain perubahan besar dalam hidup, kurang tidur, masalah keuangan, peningkatan tingkat stres, atau kelelahan, serta sebuah tragedi yang tiba-tiba. Istilah mental breakdown pernah digunakan untuk merujuk pada berbagai macam kondisi kesehatan mental, termasuk depresi, kecemasan dan gangguan stres akut.
"mental breakdown" bukanlah istilah medis atau diagnosis resmi dari suatu kondisi tertentu. Kata ini tidak memiliki definisi yang disepakati, tetapi digunakan oleh banyak orang untuk menggambarkan gejala stres yang intens dan ketidakmampuan untuk mengatasi tantangan hidup.
Gejala dan Tanda Mental Breakdown
Tanda-tanda mental breakdown berbeda-beda pada setiap orang. Penyebab yang mendasarinya juga dapat memengaruhi jenis gejala yang dialami.
Secara umum seseorang yang mengalami mental breakdown gejalanya meliputi merasa terus-menerus sedih atau putus asa, merasa bersalah atau tidak berharga, energi rendah atau kelelahan, kehilangan minat pada hobi atau aktivitas. Selain itu, munculnya pikiran untuk bunuh diri atau melukai diri sendiri juga merupakan tanda seseorang mengalami mental breakdown.
Kamu juga bisa mengetahui seseorang mengalami mental breakdown dengan melihat tanda-tanda seperti merasa gelisah atau gelisah, sifat lekas marah, tangan basah, pusing, sakit perut, perubahan nafsu makan, susah tidur. Orang yang mengalami mental breakdown juga mungkin menarik diri dari keluarga, teman, dan rekan kerja.
Perawatan Mental Breakdown
Jika kamu merasa kamu atau seseorang yang kamu sayangi mungkin mengalami mental breakdown, buatlah janji temu dengan dokter atau ahli kesehatan mental. Mengunjungi ahli kesehatan sangat penting terutama jika kamu berisiko melukai diri sendiri atau orang lain.
Seorang dokter akan melakukan pemeriksaan fisik lengkap dan mendiskusikan obat apa pun yang sedang dikonsumsi untuk memastikan faktor lain tidak berkontribusi terhadap gejala. Mereka kemudian mungkin merujuk ke psikoterapis atau psikiater untuk evaluasi dan perawatan lebih lanjut, yang dapat mencakup terapi bicara, obat-obatan, perubahan gaya hidup.
Salah satu jenis psikoterapi umum yang umum digunakan untuk seseorang yang mengalami mental breakdown disebut Cognitive Behavioral Therapy (CBT). Seperti dikutip Healthline, CBT telah terbukti efektif dalam mengatasi kecemasan, depresi, dan kondisi kesehatan mental serius lainnya. Ini melibatkan identifikasi pola pikir bermasalah dan mempelajari keterampilan mengatasi masalah untuk menavigasi situasi yang menantang dengan lebih baik.
Selain terapi bicara, dokter mungkin merekomendasikan obat resep untuk mengatasi gejala atau kondisi kesehatan mental lain yang didiagnosis. Ini mungkin termasuk obat antidepresan atau anticemas.
Jika kamu merasa kewalahan dan berada di ambang kehancuran, pertimbangkan beberapa strategi seperti menghindari kafein dan alkohol, berolahraga secara teratur, dan makan-makanan yang sehat. Tak hanya itu, untuk mengatasi mental breakdown kita juga perlu mengubah narasi seputar kesehatan mental menjadi percakapan terbuka yang mendorong empati dan dukungan.
(eny/eny)
Home & Living
Tidur Jadi Lebih Nyaman! Kasur dari Turu Lana Ini Bikin Tidur Kamu Makin Berkualitas!
Home & Living
Lovise Sofa Anna Tierslice, Sofa Estetik yang Bikin Ruangan Kamu Seperti di Internet!
Health & Beauty
Sering Pegal dan Cepat Capek? Review Swisse Ultiboost Calcium & Vitamin D untuk Kesehatan Tulang
Fashion
Bikin Kamu Tampil Keren dan Tetap Nyaman dengan Pilihan Sepatu Ini
Ramalan Zodiak Cinta 4 Januari: Gemini Menggebu-gebu, Libra Jangan Egois
Ramalan Zodiak 4 Januari: Cancer Lebih Selektif, Leo Waspada Pihak Ketiga
Ramalan Zodiak 4 Januari: Aries Banyak Peluang, Taurus Jangan Putus Asa
Ramalan Zodiak Cinta 3 Januari: Taurus Lebih Hangat, Gemini Harmonis
Tipe-tipe Zodiak Saat Musim Hujan, Kamu Tim Rebahan atau Tetap Aktif?
Gantengnya Park Bo Gum Pakai Hanbok, Cetak Rekor Dilihat 22 Juta Kali
130 Tahun Monogram Louis Vuitton: Sejarah, Inovasi, dan Warisan Abadi
Mengenal Lactic Acid, Bahan Skincare AHA yang Aman dan Lebih Ramah Kulit
Ramalan Zodiak 4 Januari: Cancer Lebih Selektif, Leo Waspada Pihak Ketiga











































