Liputan Khusus Pejuang Bayi Tabung

Cerita Haru Pasutri Pasuruan Keguguran 4 Kali, Kini Dianugerahi Bayi Kembar

Gresnia Arela Febriani - wolipop Selasa, 20 Apr 2021 10:35 WIB
Kisah pasangan Eny Katherin dan Lenny Pasquini jalani program bayi tabung selama 8 tahun menanti. Kisah pejuang dua garis biru. Foto: Dok. pribadi Eny Katherin.
Surabaya -

Bagi kamu yang sedang menanti dua garis biru tetaplah berjuang, sabar dan terus berdoa. Seperti kisah pasutri yang akhirnya bisa hamil dan dikaruniai momongan ini.

Ialah Eny Katherin (28 tahun) dan Lenny Pasquini (40 tahun) yang menikah pada 18 Februari 2020. Keduanya menjalani program bayi tabung. Dan kini tengah berbahagia karena memiliki anak kembar sekaligus. Sebelumnya, Eny pernah mengalami empat kali keguguran. Seperti apa kisahnya?

Eny mengatakan sebelumnya ia pernah menikah. Dari pernikahan yang pertama ada riwayat keguguran berulang. Dia pernah hamil ektopik. Saluran tuba falopi atau tempat berjalannya sel telur dari ovarium menuju rahim miliknya sebelah kanan juga sudah dipotong. Dia beberapakali hamil dan mengalami keguguran.

"Ini adalah pernikahan saya yang kedua, karena tahu riwayat sebelumnya seperti itu, awal nikah kita mulai program hamil (promil). Di sela-sela promil alami banyak sekali berbagai macam tes dan obat yang saya konsumsi. Yang paling saya ingat itu test Histerosalpingografi (HSG), prosesnya sakit sekali padahal saya termasuk orang yang betah sakit," ungkap Eny kepada Wolipop, Jumat (16/4/2021).

Kisah pasangan Eny Katherin dan Lenny Pasquini jalani program bayi tabung selama 8 tahun menanti.Kisah pasangan Eny Katherin dan Lenny Pasquini jalani program bayi tabung selama 8 tahun menanti. Foto: Dok. pribadi Eny Katherin.

Setelah promil alami yang ketiga kali gagal, Eny dan suami mencoba hamil melalui inseminasi sampai tiga kali. Sayangnya usaha tersebut masih membuahkan hasil negatif. Dokter pun menyarankannya untuk test HSG kembali.

"Saat itu sudah nggak mau meng-iya kan lagi. Inget sakitnya test HSG, inget sedihnya harus terima kegagalan promil sampai enam kali, perjuangan promil pertama sampai ke enam itu nonstop. Jadi bulan pertama promil, satu gagal, coba lagi bulan kedua promil kedua, gitu terus. Nggak kehitung berapa biaya dan waktu yang kita keluarkan," kenang Eny.

Pada awal 2019 Eny memutuskan untuk resign dari pekerjaannya dan fokus untuk rencana promil selanjutnya. Ia mendapatkan referensi dokter di Surabaya dari temannya, yaitu Dr. Benediktus A,MPH,Sp.OG(K). Pada Februari 2019 dia dan suami bertemu dengan dokter yang akrab disapa Benny itu.

"Waktu itu masih belum punya rencana buat promil in vitro fertilization (IVF). Cuma konsultasi aja, ceritain riwayat ektopik, keguguran berulang, sampai promil alami tiga kali gagal dan inseminasi tiga kali gagal. Di sana dokter saranin buat promil IVF aja, setelah saya dan suami tanya-tanya mengenai prosesnya, biayanya dan persentase kemungkinan positif, suami langsung setuju. Meng-iya kan saran dokter benny," ucapnya yang saat itu sangat antusias memulai promil IVF.

Kisah pasangan Eny Katherin dan Lenny Pasquini jalani program bayi tabung selama 8 tahun menanti.Kisah pasangan Eny Katherin dan Lenny Pasquini usai menjalani proses OPU.Foto: Dok. pribadi Eny Katherin.

Perjuangan Hamil Melalui Bayi Tabung

Dokter yang praktik di RS Morula, Surabaya, Jawa Timur itu langsung menghitung prediksi waktu proses IVF sampai Eny bisa dinyatakan hamil. Namun ternyata apa yang sudah direncanakan tidak semudah itu saat pelaksanaannya.

"Planing kita terbentur waktu, kalau nggak salah, bulan pertama jadwal promil IVF ditunda karena dokter Benny ada urusan keluar negeri, bulan kedua gantian suami saya ada urusan kerja ke luar negeri. Bulan ketiga tiba-tiba saya hamil alami. Mungkin karena pengaruh vitamin yang dari dokter Benny kasih. Saya ingat waktu itu pas pulang liburan dari Bali (bulan April). Iseng-iseng tes, lalu positif. Dokter Benny memberikan selamat karena bisa hamil alami di tengah-tengah mau mulai IVF," terangnya yang sangat lega.

Dua hari setelah kabar bahagia tersebut, Eny ternyata mengalami demam tinggi. Suaminya langsung melarikannya ke National Hospital, Surabaya. Setelah rawat inap ia dinyatakan terkena DBD.

"Karena posisi sedang hamil dipantau juga dengan dokter Benny. Malam harinya ada flek coklat lalu merah, panik nggak karuan, panggil suster, paginya diperiksa USG dokter Benny, sudah luruh aja kantong kehamilannya. Malam itu dijelaskan kemungkinan hamil kosong atau entah istilah kedokterannya saya lupa," imbuhnya.

Kisah pasangan Eny Katherin dan Lenny Pasquini jalani program bayi tabung selama 8 tahun menanti.Kisah pasangan Eny Katherin dan Lenny Pasquini jalani program bayi tabung selama 8 tahun menanti. Foto: Dok. pribadi Eny Katherin.

Saat itu, betapa hancur hati Eny dan suami. Namun keduanya tak mau berlarut dalam kesedihan. Mereka kemudian memutuskan untuk tetap meneruskan promil melalui proses IVF.

"Langsung text dokter Benny buat lanjut promil IVF. Bersyukur punya suami yang mendukung, kompak, sabar dan pengertiaan seperti Lenny. Jadi kita mulai tes dari awal lagi, karena hormon setelah hamil itu juga mempengaruhi," tuturnya yang pantang menyerah.

Kemudian dokter Benny menyarankan Eny dan suami melakukan freezer sperma, untuk antisipasi hasil dua bulan selama IVF. Lenny dan Ey pun melakukan beberapa rangkaian tes sebelum menjalani IVF.

"Banyak baget tes yang aku jalani sebelum IVF. Tes hepatitis B, C, HIV, analisis sperma buat suami. Keep freezer. Kalau untuk alur proses IVF-nya mungkin sama kayak kebanyakan orang ya, pertama dokter kasih vitamin asam folat dan banyak macam suntikan yang harus disuntikkan ke perut untuk menstimulasi telur-telur di indung telur," kata Eny.

Saat itu, Eny mendapatkan 16 ovum pick up (OPU) yaitu salah satu tahapan pada proses reproduksi berbantu, dengan tujuan untuk mendapatkan indung telur yang paling matang dan siap diambil. Setelah terseleksi ada sembilan sel telur yang bisa dibuahi sperma.

"Terus hanya tujuh yang bisa menjadi embrio dengan grade satu excelent dan enam good. Karena hormon saya belum stabil efek suntikan sebelumnya dan ketebalan rahim belum oke, dokter saranin untuk frezee embrio sambil tunggu hormon stabil dan ketebalan rahim oke," lanjutnya.

Setelah dilakukan freeze embrio transfer, pada 23 September 2019 Eny mendapatkan kabar dari dokter Benny kalau positif dengan nilai beta hcg 1.514. Bahkan kemungkinan dia bisa hamil anak kembar.

"Karena sebelumnya saya punya 7 embrio (lumayan banyak) dan dengan riwayat keguguran berulang, maka disaranin untuk transfer dua embrio sekaligus. Alhamdulillah dua embrio nempel sempurna dan benar hamil kembar," ujarnya penuh haru.

Pada 4 Mei 2020, perjuangan Eny dan suami untuk memiliki anak terbayar. Eny melahirkan bayi kembar yang dinamai Morgan dan Marcel di Rumah Sakit Surabaya, Jawa Timur melalui operasi caesar dengan persalinan dibantu dokter Benny.

Kisah pasangan Eny Katherin dan Lenny Pasquini jalani program bayi tabung selama 8 tahun menanti.Kisah pasangan Eny Katherin dan Lenny Pasquini jalani program bayi tabung selama 8 tahun menanti. Foto: Dok. pribadi Eny Katherin.

(gaf/eny)