Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network

2 Wanita Inspiratif Resmi Ditetapkan Prabowo Jadi Pahlawan Nasional 2025

Hestianingsih Hestianingsih - wolipop
Senin, 10 Nov 2025 17:39 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Adik aktivis buruh Marsinah, Wijiyati menangis di balik foto kakaknya usai mengikuti upacara pemberian gelar pahlawan kepada Marsinah dan sembilan tokoh lainnya di Istana Negara, Jakarta, Senin (10/11/2025). Presiden Prabowo menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada 10 tokoh yang dinilai berjasa besar bagi Indonesia, antara lain K.H. Abdurrahman Wahid, Jenderal Besar TNI H.M. Soeharto, Marsinah, Mochtar Kusumaatmaja, Hj. Rahma El Yunusiyyah, Jenderal TNI (Purn) Sarwo Edhie Wibowo,  Sultan Muhammad Salahuddin, Syaikhona Muhammad Kholil, Tuan Rondahaim Saragih, dan Zainal Abidin Syah. ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra
Marsinah Resmi Dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional. Foto: ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra
Jakarta -

Setiap generasi punya versinya sendiri tentang makna perjuangan. Bagi sebagian orang, perjuangan berarti melawan ketidakadilan. Bagi yang lain, perjuangan adalah keberanian untuk membuka jalan baru, menciptakan perubahan, dan menolak diam saat sesuatu terasa salah.

Dalam peringatan Hari Pahlawan Nasional yang jatuh pada hari ini, Senin (10/11/2025), pemerintah melalui Presiden Prabowo Subianto resmi menetapkan dua tokoh perempuan sebagai Pahlawan Nasional terbaru. Mereka adalah tokoh inspiratif Hajjah Rahmah El Yunusiyah dan Marsinah.

Keduanya datang dari latar dan era yang berbeda, namun memiliki satu kesamaan yakni mengobarkan semangat untuk memperjuangkan hak-hak perempuan dan kemanusiaan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hajjah Rahmah El Yunusiyah, Sang Perintis Pendidikan Perempuan

Jauh sebelum istilah women empowerment dikenal luas, Rahmah El Yunusiyah telah lebih dulu menanamkan gagasan kesetaraan lewat jalur pendidikan. Lahir pada 1900 di Padang Panjang, Sumatera Barat, Rahmah dikenal sebagai pendiri Perguruan Diniyah Putri, madrasah pertama di Indonesia yang secara khusus diperuntukkan bagi perempuan.

Melalui Perguruan Diniyah Putri Padang Panjang yang ia dirikan pada 1 November 1923, Rahmah ingin membuka ruang bagi perempuan untuk belajar, berpikir kritis, dan memiliki peran setara dalam masyarakat. Ia percaya bahwa pendidikan adalah kunci untuk mengangkat derajat kaum perempuan.

ADVERTISEMENT

Tak hanya berjuang di dunia pendidikan, Rahmah juga turun langsung ke medan perjuangan saat masa revolusi kemerdekaan tahun 1945. Ia memimpin barisan Sabilillah dan Hizbullah di Sumatera Barat sebagai Bundo Kanduang, simbol keberanian perempuan Minangkabau dalam memperjuangkan kemerdekaan.

Pengaruh Rahmah bahkan diakui dunia internasional. Ketika Rektor Universitas Al-Azhar Kairo, Dr. Syekh Abdurrahman Taj, mengunjungi sekolahnya pada 1955, beliau terinspirasi hingga kemudian mendirikan Kulliyatul Banat, fakultas khusus perempuan pertama di Al-Azhar. Atas kontribusinya, Rahmah dianugerahi gelar kehormatan 'Syaikhah', menjadikannya ulama perempuan pertama dari Indonesia yang menerima pengakuan dari lembaga pendidikan Islam tertinggi di dunia itu.

Pahlawan pendidikan Islam itu meninggal dunia pada malam takbiran Hari Raya Idul Adha, tepatnya 26 Februari 1969 di Padang Panjang. Rumah kediamannya kini menjadi Museum Rahmah El Yunusiyah.

Marsinah, Simbol Keberanian dan Keadilan untuk Kaum Buruh

Nama Marsinah mungkin tidak lahir dari lingkungan bangsawan atau akademisi, tapi semangat juangnya melampaui batas profesi. Lahir di Nganjuk, Jawa Timur, pada 10 April 1969, Marsinah adalah seorang buruh pabrik yang bekerja keras demi masa depan yang lebih baik.

Saat bekerja di PT CPS Sidoarjo pada awal 1990-an, Marsinah menjadi sosok yang vokal memperjuangkan hak-hak rekan-rekannya. Ia aktif di organisasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) dan menuntut keadilan bagi buruh, mulai dari hak cuti haid dan hamil hingga upah lembur yang layak.

Namun perjuangan itu harus dibayar mahal. Setelah mengikuti aksi mogok kerja pada 3-4 Mei 1993, Marsinah hilang tanpa kabar keesokan harinya.

Jasad Marsinah ditemukan tiga hari kemudian dengan kondisi mengenaskan. Diduga, Marsinah dianiaya, karena jasadnya penuh dengan luka dan tubuhnya kaku membiru.

Tiga dekade kemudian, perjuangannya diakui negara. Penetapan Marsinah sebagai Pahlawan Nasional 2025 menjadi bentuk penghormatan atas dedikasinya membela kaum buruh dan memperjuangkan kesetaraan di dunia kerja.

Kisah Rahmah El Yunusiyah dan Marsinah mengingatkan kita bahwa perjuangan perempuan datang dalam banyak bentuk, dari ruang kelas hingga pabrik, dari goresan pena hingga aksi nyata. Keduanya membuktikan bahwa keberanian, kepedulian, dan tekad untuk memperjuangkan sesama adalah esensi sejati kepahlawanan.

(hst/hst)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads