ADVERTISEMENT

Kerri Na Basaria, Putri Luhut Panjaitan Berkarya di Tengah Bayangan Ayah

Daniel Ngantung - wolipop Sabtu, 26 Feb 2022 16:00 WIB
Kerri Na Basaria Pendiri Tobatenun Kerri Na Basaria (Foto: Dok. Pribadi)
Jakarta -

Memiliki ayah yang seorang figur penting di Indonesia terkadang menjadi tantangan tersendiri bagi Kerri Na Basaria dalam berkarya. Namun, pendiri Tobatenun ini tetap fokus mendedikasikan diri untuk bangsa, terutama dalam mensejahterahkan para perajin ulos.

Kerri Na Basaria adalah putri dari Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi RI Luhut Binsar Pandjaitan. Lahir di Merlin, AS, pada 27 Februari 1991, ia anak bungsu dari empat bersaudara.

Berbeda dari sang ayah yang menggeluti bidang politik dan pemerintahan, Kerri berkecimpung di ranah seni dan budaya. Pada 2018, ia mulai merintis Tobatenun yang salah satu misi utamanya melestarikan ulos dengan pendekatan wirausaha sosial (social enterprise) yang sustainable.

Meski bertolak belakang, kehidupan Kerri tak bisa lepas dari bayang-bayang dari status ayahnya.

"Well, it is hard sometimes, tapi di sini aku bicara untuk diriku ya, tak mewakili kakak-kakakku. Walau begitu, kami fokus pada karya masing-masing. Bukan cuma untuk membuat orangtua bangga, tapi juga bermanfaat bagi orang lain," kata Kerri kepada Wolipop baru-baru ini.

Diakui Kerri pula, dulu ada beban tersendiri karena harus menjaga nama baik keluarga dan takut gagal menggunakan previlese untuk menjadi sosok yang berprestasi. Namun, Kerry yang rutin beryoga ini sudah berdamai dengan ketakutan tersebut dan lebih lega menjadi dirinya sendiri.

Di Tobatenun, ia menemukan hasratnya. Namun, keputusan Kerri untuk membentuk Tobatenun sempat dipandang sebelah mata oleh sang ayah. "Bapak sempat menganggap aneh sih karena aku bikin ini," senyum Kerri.

Pendiri Tobatenun Kerri Na Basaria, Anak Luhut Binsar Panjaitan(Foto: Dok. Pribadi)

Sebenarnya, tak pernah terbesit di benak Kerri untuk menjadi seorang entrepreneur. Latar belakang pendidikannya adalah sejarah dan sastra karena ia memang menyukai budaya.

Kerri menseriusi bidang tersebut dengan mengambil studi sastra Inggris di University St. Andrews, Skotlandia. Gelar master lalu diambilnya di Sydney, Australia.

Meski ayahnya sempat memandang sebelah mata pilihan Kerri untuk menjadi seorang wirausahawati sosial, ia memberikan diri dengan total agar Tobatenun berkontribusi secara signifikan dalam menciptakan ekosistem bisnis yang adil bagi para perajin ulos dan ramah lingkungan di tengah tantangan modernisasi.


"Di Tobatenun, social value dan business value harus berjalan berdampingan. Melakukan berbagai program pendampingan dan edukasi yang berkelanjutan untuk mendapatkan hasil karya tenun yang terstandarisasi, salah satunya adalah untuk menciptakan suatu produk atau motif tenun baru atau kontemporer," kata Kerri Na Basaria.

Baru tiga tahun eksis, Tobatenun dengan rumah komunitasnya yang bernama Jabu Bonang, telah menjangkau 176 partonun atau penenun kain ulos lewat program pelatihan dan lokakarya.



Simak Video "Jerit Perajin Dibalik Keindahan Kain Ulos Khas Batak"
[Gambas:Video 20detik]
(dtg/dtg)