ADVERTISEMENT

Intimate Interview

Julie Anwar, Kesetaraan Gender di Dunia Kerja dan Gen Z Berkualitas

Daniel Ngantung - wolipop Senin, 27 Des 2021 19:30 WIB
Head of Human Capital OCBC NISP Julie Anwar Head of Human Capital OCBC NISP Julie Anwar (Foto: Dok. Pribadi)
Jakarta -

Dinamika divisi pengembangan divisi sumber daya manusia atau HRD menjadi alasan Julie Anwar betah menggeluti bidang tersebut. Banting setir dari profesi terdahulu sebagai analis finansial jadi terasa sepadan.

Saat ini, Julie Anwar memangku salah satu jabatan penting di OCBC NISP. Ia memimpin divisi sumber daya manusia sebagai head of human capital. Namun, human resource justru bukan bidang yang dipilihnya dari awal terjun di dunia kerja.

Semasa muda, perempuan kelahiran Jakarta, 5 Juli 1974, ini ingin berkarier di sektor perekonomian. Keinginan tersebut lalu dimantapkannya dengan mengambil gelar sarjana di bidang bisnis dari University Deakin, Victoria, Australia.

Ia lulus pada 1998 ketika Indonesia sedang dihantam krisis ekonomi yang berakibat resesi. PHK besar-besaran terjadi di perusahaan berskala kecil hingga besar, tanpa terkecuali perbankan.

Namun, situasi tersebut tak mengurungkan niat Julie untuk bekerja sesuai passion-nya. Pesan sang ibu selalu terngiang di benaknya.

"Sejak kami kecil, Ibu menanamkan prinsip kepada anak-anaknya bahwa kita sebagai perempuan harus bisa hidup mandiri dengan bekerja," kata anak kedua dari tiga bersaudara ini saat berbincang dengan Wolipop beberapa waktu lalu.

Julie pun mendapat pekerjaan pertamanya. Ia memulai kerja secara profesional sebagai analis di SBC Securities Indonesia.

Namun pada 2001, tawaran untuk menggeluti profesi di bidang HRD menghampirinya. Sampai 2004, Julie berkarier Mercer Human Resources Consulting sebelum akhirnya pindah ke Citibank N.A. dan bekerja di sana selama sembilan tahun.

"Berkarier di dunia human resources itu unik dan tidak membosankan atau dapat dikatakan lebih lively karena bidang ini selalu berkembang bersama dengan perkembangan perusahaan, industri dan ekonomi secara keseluruhan," katanya.

Dari Citibank, ia digandeng Bank QNB Kesawan pada 2013 untuk memimpin bagian HRD. Hanya setahun bersama perusahaan tersebut, Julie akhirnya bergabung dengan OCBC NISP.

Sebagai pemimpin divisi tersebut, Julie berkutat dengan berbagai kebijakan ketenagakerjaan sambil memastikan karyawan berada di lingkungan kerja yang kondusif dan aman. Menekuni dunia personalia membawa kebahagiaan tersendiri bagi ibu dua anak ini. "Apalagi saat saya melihat organisasi dapat mencetak pemimpin dari lingkup internal," tambahnya.

Berbagai penghargaan diraihnya selama menjabat sebagai head of human capital di OCBC NISP. Salah satunya, UN Women - Women Empowerment Principles (WEP) 2020 untuk kriteria Honourable mentioned- Gender Inclusive Workplace 2020.

Menciptakan tempat kerja yang inklusif dan bebas dari diskriminasi berbasis gender menjadi prioritas Julie. Ia tak memungkiri bahwa perbankan didominasi oleh pekerja pria. Namun, Julie memastikan bahwa baik karyawan pria maupun wanita diperlakukan sama dan memiliki kesempatan yang sama.

Per Mei 2021, tercatat 55,47 persen atau 3.328 dari total 5.971 karyawan OCBC NISP adalah perempuan. Sementara itu, 40 persen karyawan perempuan berada di posisi manajemen pemimpin senior, dan dewan direksi terdiri 58 persen perempuan.

Di bawah arahan Julie, tersedia pula semacam wadah whistleblower. Di sini, karyawan bisa menceritakan berbagai keluhan tanpa perlu takut ada intervensi. Fasilitas ini menjadi wujud komitmen Julie dan timnya untuk menangkal tindakan pelecehan seksual di lingkungan kerja.

Mencari Gen-Z Berkualitas

Pandemi COVID-19 turut mengubah cara korporasi menjalankan perusahaannya. Karyawan pun dituntut untuk lebih peka dalam beradaptasi dengan berbagai perubahan yang berkaitan dengan job-desc mereka.

Bagi Julie, ada hikmah yang bisa dipetik dari situasi ini. "Kita perlu mengevaluasi cara kerja kita dan beradaptasi dengan kondisi baru di tengah ketidakpastian," katanya.

Untuk itu, lanjutnya, kita perlu memiliki kecerdasan sosial, kepemimpinan, berpikir out of the box sehingga memiliki kemampuan yang cepat dalam beradaptasi dengan segala perubahan. "Tentunya, skills inilah yang juga perlu diperhatikan dan akan berpengaruh dengan cara bekerja di masa mendatang," ujar dia.

Julie juga bicara soal masa depan dunia kerja di tangan Gen Z, terlepas apapun itu bidangnya. Tahun-tahun ini menjadi waktu bagi para generasi Z yang lahir pada 1997 ke atas untuk memulai karier.

"Jika konteksnya adalah pengembangan potensi diri bagi para Gen Z, maka saya akan menyarankan Gen Z untuk terus menjalankan fungsinya sebagai catalyst and ambassador untuk skillset yang baru yang akan menjadi krusial atau sangat penting untuk masa depan," katanya.



Simak Video "Melihat Aksi Modeling ASN Tasikmalaya di Gebu Fashion Week"
[Gambas:Video 20detik]
(dtg/dtg)