Intimate Interview

Mengenal Renitasari, Direktur Program Djarum Foundation yang Cinta Batik

Daniel Ngantung - wolipop Selasa, 02 Okt 2018 07:44 WIB
Foto: Daniel Ngantung/Wolipop Foto: Daniel Ngantung/Wolipop

Jakarta - Senyum semringah menghiasi wajah Renitasari Adrian, direktur program Bakti Budaya Djarum Foundation, usai acara 'Batik for the World' di Paris, Prancis, Mei 2018 lalu. Pameran batik yang dibuka dengan peragaan busana tiga desainer Indonesia di markas UNESCO itu berlangsung sukses. Satu lagi misinya sebagai 'promotor' budaya Indonesia selesai. Masih banyak pekerjaan lain yang menunggu...

Sudah tujuh tahun terakhir ini Renita, begitu panggilan akrabnya, sering berurusan dengan pelaku seni Indonesia. Pada 2011, Renita yang telah bergabung dengan Djarum sejak 2007, ditunjuk untuk mengurusi program perusahaan yang misinya mempromosikan budaya Indonesia dan mendukung seniman lokal.

"Kami menyebut diri sebagai promotor budaya Indonesia," kata Renita kepada Wolipop saat berada di Paris. Bersama timnya, perempuan kelahiran Bandung, Jawa Barat, 44 tahun lalu itu, getol membuat program kreatif agar kekayaan budaya Indonesia semakin dikenal, baik dalam negeri maupun internasional.

Seperti halnya 'Batik for the World' yang memanggungkan keindahan batik karya perajin Indonesia di salah satu pusat mode dunia, Paris. Adapun tiga desainer lokal yang terlibat di antaranya Oscar Lawalata yang mengangkat batik khas Jawa Timur, Denny Wirawan dengan batik dari Kudus, serta Edward Hutabarat yang mengeksplor batik megamendung.

Mengenal Renitasari, Direktur Program Djarum Foundation yang Cinta BatikRenitasari Adrian, Direktur Program Bakti Budaya Djarum Foundation. Foto: Ismail/detikHOT

Hajatan yang memakan waktu persiapan hingga satu tahun itu disambut secara antusias oleh komunitas internasional di sana. "Terharu baru banget pas lihat para tamu memberi standing ovation di akhir fashion show. Ini membuktikan budaya kita kan keren banget di mata dunia," kata Renita yang mengeyam ilmu hubungan masyarakat (humas) di Stamford College, Singapura.

Ia mengawali kariernya sebagai humas di Hotel Panghegar, Bandung, pada awal 1990-an sebelum akhirnya bergabung dengan sebuah agensi konsultan humas pada 1996 sebagai Account Executive. Setelah itu, selama enam tahun, ia mengurusi perhumasan perusahaan bir internasional di Indonesia sebelum akhirnya menjadi bagian PT Djarum.

Baca Juga: Alasan Desainer Senior Edward Hutabarat Minder Ciptakan Motif Batik Baru

Perjalanan karier Renita tak selalu berjalan mulus. Tantangan terberatnya datang di saat harus menyeimbangkan pekerjaan dengan rumah tangga yang di ambang perpecahan. "Saya ibu dua anak. Ketika saya ditinggal ayah anak-anak, itu berat sekali karena saya sebagai profesional juga harus tetap memikirkan pekerjaan," ungkap Renita.

Dari pengalaman tersebut, Renita belajar tentang kehidupan bahwa tidak semua yang diinginkan dapat terwujud dalam waktu bersamaan. Masing-masing indah pada waktunya dengan proses yang harus dijalani dalam penuh kesabaran. Ia pun mulai bangkit lagi dan kembali mengarungi bahtera rumah tangga dengan teman hidupnya yang baru.

Mengenal Renitasari, Direktur Program Djarum Foundation yang Cinta BatikRenitasari Adrian (kanan) bersama Oscar Lawalata, Edward Hutabarat dan Denny Wirawan di pameran Batik for the World di markas UNESCO, Paris. Foto: Daniel Ngantung/Wolipop

Tanpa pengalaman pahit itu, kata Renita, mustahil dirinya menjadi pribadi yang sesukses saat ini. Banyak penghargaan yang berhasil disabet Renita atas upaya-upayanya dalam mempromosikan budaya Indonesia. Salah satunya gelar Local Heroes Art & Culture 2012 versi Area Magazine hingga masuk dalam daftar 21 Srikandi Merah Putih 2014 Indosat.

Namun, pencapaian terbesar bagi Renita adalah kehadiran Galeri Indonesia Kaya (GIK) yang mewadahi seniman lokal untuk unjuk kebolehan. Berlokasi di pusat belanja Grand Indonesia, GIK juga menjadi oase bagi masyarakat yang haus akan pertunjukan budaya tanpa dipungut biaya sepeser pun.

"GIK adalah sebuah kebanggaan karena ini baby project pertamaku. Ibarat ibu yang mau punya anak, selama sembilan aku dan tim mempersiapkan 'bayi' ini sebelum akhirnya lahir pada Oktober 2013," kata Renita. Dalam waktu dekat, akan lahir 'adik' dari GIK, yakni Taman Indonesia Kaya di Semarang, Jawa Tengah, yang disusul dengan rencana pembangunan semacam rumah budaya di kampung halaman Djarum, yakni Kota Kudus.

Kehadiran tempat-tempat tersebut merupakan langkah-langkah kecil Renita dalam mewujudkan impian terbesarnya membangun sebuah gedung pertunjukan besar bertaraf internasional di Jakarta.

"Diharapkan, gedung itu nantinya menjadi kebanggaan seniman dan penonton Indonesia, di mana terjadi perputaran ekonomi. Saya sadar itu butuh proses yang cukup panjang karena harus mengedukasi masyarakat dulu agar terbiasa dengan pertunjukan seni lokal. Kami memulainya lewat GIK dengan menggratiskan acara di sana," terang perempuan yang hobi memasak itu.

Mengenal Renitasari, Direktur Program Djarum Foundation yang Cinta BatikMomen akrab Renitasari Adrian bersama tiga desainer ternama Indonesia, sebelum pameran Batik for the World. Foto: Hestianingsih/Wolipop

Targetnya, impian tersebut dapat terwujud dalam 10 tahun. Renita juga berharap, lewat kontribusinya, semakin banyak milenial yang notabenenya adalah generasi penerus bangsa dapat semakin mengapresiasi kebudayaan negaranya sendiri di tengah gempuran budaya asing.

Ada beberapa prinsip yang dipegang teguh oleh Renita dalam menuju kesuksesan. Bekerja dengan hati wajib baginya agar segala pekerjaan dilakoni dengan rasa bahagian tanpa ada beban. Percaya diri juga penting. "Selain itu, jangan takut gagal. Dari situlah, ada pelajaran hidup yang paling berharga," tambah istri Ryan Adrian itu.

Baca Juga: Oscar Lawalata Bicara Potensi Batik Bisa Eksis di Pasar Eropa

Bak ungkapan sastrawan Irlandia Oscar Wilde yang berbunyi 'life imitates art', tugas Renita sebagai 'promotor' budaya rupanya ikut membentuk seleranya dalam berbusana. Ia menjadikan gayanya sebagai 'fashion statement' agar dapat ikut mempromosikan kekayaan Nusantara.

Gaya andalan Renita adalah menyandingkan busana karya desainer lokal yang terbuat dari wastra Indonesia dengan produk-produk brand ternama. Tak jarang, penampilan Renita menarik perhatian orang seperti yang terjadi di Paris. Kala itu, ia stylish dalam balutan mini-dress batik karya Edward Hutabarat yang dipadu dengan sneakers Chanel dan baret Gucci.

"Banyak yang penasaran saya pakai baju apa, saya bilang ini batik dari Indonesia. Bahkan saking penasarannya,ada yang mau pegang baju saya. Meski dipadu dengan brand luar, fokusnya tetap di batik. Saya ingin mensejajarkan batik dengan produk berkelas dunia," katanya. (dng/hst)