ADVERTISEMENT

Brand Hijab Rabbani Salahkan Korban Pelecehan Seks, Ini Kata Pegiat Perempuan

Gresnia Arela Febriani - wolipop Rabu, 28 Des 2022 11:30 WIB
Konten Instagram brand hijab dan busana muslim, Rabbani kembali menjadi kontroversi di media sosial. Unggahan Rabbani tuai kontroversi. Foto: Dok. Instagram @rabbaniprofesorkerudung.
Jakarta -

Perusahaan garment yang bergerak dalam bidang retail hijab dan busana muslim, Rabbani sedang menuai kontroversi karena iklan mereka di Instagram. Rabbani membuat konten iklan yang menyebutkan bahwa cara berbusana wanita yang menjadi penyebab terjadinya pelecehan seksual.

Konten Rabbani yang menjadi sorotan itu diunggah ke akun Instagram @rabbaniprofesorkerudung yang memiliki lebih dari 330 ribu pengikut. Dalam unggahan Reels itu ada kata-kata yang menyebutkan wanita yang berpakaian terbuka itu bodoh dan mengundang pria untuk berpikiran buruk.

"Ketika perempuan berpakaian minim. Jika terjadi pelecehan. Siapakah yang salah? Posisi wanita tidak salah jika dilihat dari sudut wanita karena setiap wanita berhak menggunakan pakaian apapun. Jadi laki-lakinya aja yang mesum. Namun jika dilihat dari sudut pandangan pria. Wanita yang berpakaian terbuka itu bodoh. Tidak ada asap tidak ada api. Wanita yang berpakaian terbuka akan mengundang seorang pria yang berniat berpikiran buruk," tulis dalam keterangan video Rabbani.

Dalam unggahannya brand hijab dan busana muslim dari Bandung ini juga memberikan saran bagi pria agar tetap menjaga pandangan. Namun Rabbani juga bertanya pada netizen soal siapa yang salah dengan menyebut wanita yang berpakaian terbuka 'bodoh.'

"Tidak berlaku untuk sebaliknya. Wanita sehendaknya menggunakan pakaian tertutup. Tidak memberikan kesempatan untuk pria yang berpikiran jorok. Pria seharusnya menjaga dan minimalisir pandangan yang mengundang syahwat. Pria yang salah atau wanitanya yang bodoh," tulis akun Instagram Rabbani meminta pendapat netizen. Klik DI SINI untuk membaca kontroversi Rabbani.

Konten Instagram brand hijab dan busana muslim, Rabbani kembali menjadi kontroversi di media sosial.Konten Instagram brand hijab dan busana muslim, Rabbani kembali menjadi kontroversi di media sosial. Foto: Dok. Instagram @rabbaniprofesorkerudung.

Tak hanya kali ini saja konten Rabbani menuai kontroversi. Sebelumnya Rabbani pernah memasang iklan yang menampilkan gambar kambing berhijab, dalam menyambut Idul Adha dan Dirgahayu RI melalui papan reklame di gerbang tol Pasteur, Bandung, Jawa Barat.

Rabbani juga pernah memasang billboard iklan dengan kata-kata yang kontroversial menyudutkan perempuan. 'Anak Jaman Now. Rok Makin Di atas, Prestasi Makin Di Bawah. Jangan Sampe!' demikian yang tertulis di iklan.

Pegiat Isu Perempuan Tanggapi Unggahan Rabbani

Konten promosi Rabbani di media sosial yang dikritik netizen karena menyudutkan korban pelecehan seks khususnya wanita membuat geram Poppy R. Dihardjo, pegiat isu perempuan, advokasi kekerasan berbasis gender dan founder dari komunitas Perempuan Tanpa Stigma (PenTas). Poppy pun ikut memberikan komentar di unggahan Rabbani. Ia mengatakan konten Rabbani tersebut termasuk pembodohan publik.

"Kalau dari sudut pandang saya yang orang komunikasi dan advertising, yang bikin konten ini BODOH. Karena alih-alih memberikan informasi seputar pelecehan seksual yang faktual (data banyak kok yang bisa kalian akses. Jangan malas), malah ngalor ngidul bahas siapa yang salah. Kalau anak bayi umur 7 minggu diperkosa sampai meninggal, yang salah siapa? Anak bayi yang pake diapers jadi paha kemana2? Nggak paham lagi sama konten2 kaya gini. Pembodohan publik," tulis Poppy di kolom komentar Instagram Rabbani.

Saat dikonfirmasi Wolipop terkait kegeramannya pada Rabbani, Poppy menyampaikan brand busana muslim dan hijab itu minim empati. Poppy juga merasa Rabbani sudah berkali-kali membuat konten atau iklan yang kontroversial.

"Pertama kambing dihijabin. Ya kali nggak marah sih umat Islam ngeliatnya? Kedua, Michelle Obama & RA Kartini dihijabin plus nawarin kerudung gratis ke Rina Nose. Ini bodoh apa gimana? Memang ada ya anjuran memaksakan orang berhijab? Ketiga, penggunaan istilah mandi basah untuk jual produk yang jelas-jelas erat kaitannya dengan spiritualitas dan iman saudara saudari muslim. Terakhir, belum lagi yang iklan banjir dan visualnya ada orang-orang yang kelihatan tenggelam. I mean, seriously?" ungkap Poppy kepada Wolipop lewat WhatsApp, Rabu (27/12/2022).

Poppy R. Dihardjo pendiri No RecruitPoppy R. Dihardjo pendiri NoRecruit List.Foto: Dok. pribadi Poppy.

Pendiri NoRecruit List ini menuturkan membuat konten di media sosial itu kuncinya ada empat, yaitu narasi, diksi, antisipasi dan navigasi. Dan dia mengatakan, Rabbani sudah membuat diksi yang merendahkan wanita termasuk agama Islam.

"Objektinya apa, narasi apa yang mau dibangun? Buat diksi pemilihan kata-katanya. Apa kata-kata yang dipostingannya (Rabbani) kan ngomong ini pria yang salah atau perempuan yang bodoh? Itukan pemilihan diksi yang sebenarnya pemilihan diksi yang sebenarnya merendahkan perempuan dan kedua merendahkan agama Islam," kata Poppy melalui pesan suara.

"Selanjutnya antisipasi, kalau sudah tahu objektifnya apa, narasinya mau dibangun apa dan diksi yang mau dipakai apa? Kan bisa mengantisipasi, oh kira-kira orang-orang akan protes gak ya? Orang-orang akan berkomentar apa ya? Sehingga pada saat orang berkomentar miring, bisa navigasi dengan lebih baik untuk mengembalikan ke konteksnya. Konteksnya saja sudah tidak jelas. Narasinya yang mau dibangun juga gak jelas," jelas Poppy lagi.

Bagi Poppy, Rabbani yang notabene menjual produk, malah menjual kontroversi dan sensasional. Dia pun berharap pemerintah ikut ambil bagian dalam menanggapi iklan Rabbani agar tidak terjadi pembiaran. Selain itu juga bisa sebagai edukasi bagi masyarakat.

"Menariknya, iklan seperti ini masih bisa mendapatkan izin di billboard, spanduk yang sebenarnya ada di lokasi-lokasi yang ramai. Apakah memang target marketnya orang yang memang suka menertawakan orang lain atau polisi moral. Nggak jelas lah target marketnya," ucap Poppy.

"Tapi etika dalam beriklan dan menyampaikan informasi sebenarnya ada di periklanan. Cuma entah kenapa ya, Kementerian perdagangan dan agama aku nggak tahu ya apakah ditegur tapi ya udah. Tapi jadinya semakin eskalasi karena tidak ada teguran, kalau pemerintah bisa menegur sebenarnya bisa mengajari warga negara kita untuk tidak lebih inklusif dan menghargai agama sendiri bahkan," pungkas Poppy.

(gaf/eny)