Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Studi: Wanita Ngidam Belanja Barang Branded 2 Minggu Jelang Menstruasi

Rahmi Anjani - wolipop
Jumat, 04 Sep 2026 14:00 WIB
...
Ilustrasi Belanja Fesyen
Foto: iStock
Jakarta -

Jelang menstruasi, tubuh wanita biasanya mengeluarkan sejumlah pertanda. Selain rasa nyeri, kondisi tersebut terkadang membuat kita ngidam untuk memanjakan diri dengan makan enak dan belanja. Bukan hanya alasan, penelitian membuktikan bahwa PMS bahkan memang memicu keinginan untuk membeli barang mewah.

Belanja barang branded ternyata adalah hal yang biologis untuk seorang wanita. Hal itu terungkap dalam studi terbaru yang dilakukan peneliti Korea dan Amerika Serikat. Hasil penelitian menyebut bahwa keinginan untuk membeli barang, terutama produk fashion high end dimulai dua minggu jelang menstruasi.

Secara biologi, siklus ini merupakan masa ketika kadar estrogen dan tingkat kesuburan berada pada puncaknya. Penelitian menunjukkan bahwa selama ovulasi ini juga wanita memiliki dorongan seksual yang lebih tinggi dan cenderung lebih aktif memulai hubungan seksual.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Dalam studi ini, para peneliti meminta sekelompok wanita untuk menggambar berbagai logo brand mewah. Mereka kemudian menemukan bahwa partisipan menggambar logo dengan ukuran lebih besar saat masa ovulasi. Menurut mereka, hal ini mendukung gagasan bahwa wanita menginginkan kemewahan yang lebih mencolok pada masa tersebut agar menarik perhatian lawan jenis.

ADVERTISEMENT

Setelah itu, peneliti bertanya kepada partisipan mengenai barang apa yang ingin mereka beli. Wanita yang sedang dalam masa ovulasi memiliki keinginan lebih besar untuk membeli produk mewah di tempat umum namun tidak demikian saat berada di tempat pribadi. Para peneliti berpendapat bahwa hal ini mengindikasikan adanya anggapan bahwa membeli barang mewah dapat membuat mereka lebih diperhatikan.

Dalam studi ketiga, partisipan yang sedang mendekati masa ovulasi cenderung lebih memilih voucher hadiah senilai $100 (Rp 1,7 jutaan) untuk merek mewah, seperti Polo Ralph Lauren dibandingkan merek terjangkau, seperti Old Navy.

Namun, ketika diberi tahu bahwa pria tidak menyadari pakaian desainer yang dikenakan wanita, partisipan cenderung tidak lagi memilih brand mewah, meskipun mereka sedang mendekati masa ovulasi.

"Hal yang menurut kami paling menarik adalah bahwa pengaruh ovulasi terhadap hasrat akan barang mewah bukan sekadar peningkatan umum dalam preferensi terhadap produk-produk mahal,"

"Sebaliknya, hal ini tampaknya bersifat strategis secara sosial: pengaruh tersebut menguat ketika konsumsi barang mewah dapat dilihat orang lain dan relevan secara pribadi, namun menghilang ketika perempuan meyakini bahwa laki-laki tidak memperhatikan isyarat semacam itu." ujar para penulis.


Dilansir NY Post, tahun ini, data menunjukkan wanita menyumbang 56% dari total pembelian, khususnya di sektor mode, kecantikan, dan aksesori yang semakin membuktikan hasil penelitian. Selain terkait siklus menstruasi, studi tersebut juga menekankan hubungan barang branded dengan keinginan untuk tampil di depan lawan jenis.

"Anggapannya adalah bahwa barang-barang materi seperti mobil mencolok atau jam tangan mahal itu mirip dengan bulu merak jantan yang berwarna-warni, yang menjadi penanda kualitas diri mereka bagi merak betina,"

"Dengan kata lain, pemilik barang mewah menggunakannya sebagai sarana untuk memamerkan aksesnya terhadap sumber daya, sekaligus memberi sinyal bahwa ia adalah calon pasangan yang sangat bernilai." tulis Vinita Mehta untuk Psychology Today.

(ami/ami)
...
Hide Ads