Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Antiperspiran vs Deodoran: Mana Lebih Efektif Atasi Bau Badan? Ini Bedanya!

Adinda Salma - wolipop
Senin, 21 Sep 2026 15:30 WIB
...
Perbedaan Antiperspiran vs Deodoran
Foto: Dok. Ilustrasi Gemini AI
Jakarta -

Pernahkah kamu merasa bingung saat berdiri di depan rak minimarket, menatap puluhan produk perawatan ketiak tanpa tahu mana yang benar-benar dibutuhkan?

Masalah bau badan dan ketiak basah memang sering kali merusak rasa percaya diri saat beraktivitas sehari-hari. Mulai dari area ketiak hingga lipatan tubuh lainnya, produksi keringat adalah hal alami yang pasti dialami setiap orang.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Saat ini, kepedulian terhadap kesegaran tubuh bahkan melahirkan inovasi produk perlindungan seluruh tubuh (full-body deodorant) untuk mengatasi keringat di area seperti dada, punggung, hingga dahi.

"Di dunia dongeng, kita tidak akan berkeringat sama sekali. Tetapi kenyataannya kita semua berkeringat, dan bukan hanya di ketiak," ucap Ed Currie, salah satu pendiri merek deodoran di London. Menurutnya, banyak orang menggunakan produk kesegaran atau deodoran di area bawah dada hingga dahi untuk mengurangi rasa cemas akibat keringat berlebih.

ADVERTISEMENT

Oleh karena itu, memahami perbedaan antiperspiran dan deodoran menjadi langkah awal yang krusial agar kamu tidak salah memilih produk.

Perbedaan Antiperspiran dan Deodoran

Prinsip kerja kedua produk ini sebenarnya berbeda jauh, terutama dari kandungan bahan aktif di dalamnya.

"Antiperspiran mengandung garam aluminium dan bekerja dengan mengurangi produksi keringat, sedangkan deodoran tidak berpengaruh pada produksi keringat," ucap Dr. Heather Woolery-Lloyd, seorang dokter kulit di Miami.

Bagi kamu yang sering terganggu oleh ketiak basah, antiperspiran merupakan jalan keluar terbaik.

"Fungsi aluminium dan formula deodoran-antiperspiran konvensional pada dasarnya adalah menyumbat kelenjar keringat agar kulit tetap kering," kata Dr. Nadia Musavvir, seorang naturopathic doctor (dokter spesialis pengobatan alami) yang berfokus pada kesehatan kulit.

Di sisi lain, deodoran bekerja dengan cara menetralisasi atau mengalihkan aroma keringat agar tubuh tetap tercium segar. Menurut Dr. Teresa Song, dokter spesialis kulit di New York City, fungsi utama deodoran berfokus pada pengendalian aroma tubuh melalui pembasmian bakteri dan penetralan bau.

"Deodoran mengandung agen antimikroba untuk menghambat pertumbuhan bakteri, pewangi untuk menutup bau, serta bahan-bahan untuk menyerap kelembapan," jelasnya.

Lebih Baik Menggunakan Antiperspiran atau Deodoran?

Ilustrasi deodoran ketiak

Foto: Getty Images/iStockphoto/releon8211

Keputusan dalam memilih antara antiperspiran atau deodoran sepenuhnya kembali pada tingkat produksi keringat serta kenyamanan pribadi kamu.

Antiperspiran dikenal ampuh menahan basah berkat kandungan aluminiumnya. "Meskipun efektif untuk orang yang mudah berkeringat, beberapa orang mungkin ingin menghindari aluminium karena potensi iritasi atau sensitivitas kulit," ucap Dr. Julia Zhao, dokter kulit di New York.

Meski sempat beredar mitos bahwa kandungan aluminium berisiko memicu penyakit kanker atau Alzheimer, para pakar menegaskan bahwa hingga kini belum ada bukti ilmiah yang memvalidasi klaim berbahaya tersebut.

"Tidak ada bukti ilmiah yang menghubungkan penggunaan produk ini dengan perkembangan kanker payudara," tegas Dr. Julia.

American Cancer Society menyatakan bahwa tidak ada penelitian epidemiologi yang kuat untuk menghubungkan risiko kanker payudara dengan penggunaan antiperspiran. Alzheimer's Association juga menegaskan bahwa berbagai studi gagal mengonfirmasi peran aluminium dalam menyebabkan penyakit Alzheimer.

"Salah satu cara tubuh membuang limbah melalui kulit adalah lewat keringat," tambah Dr. Nadia. Menurutnya, hal itulah yang membuat sebagian orang tetap memilih deodoran dibanding penahan keringat.

Namun, jika kamu memiliki masalah hiperhidrosis (produksi keringat berlebih), antiperspiran tetap menjadi solusi terbaik. Menurut Dr. Jody Alpert Levine, dokter kulit di New York City, terdapat beragam formulasi antiperspiran clinical strength di pasaran yang dirancang khusus untuk menekan produksi keringat secara intensif.

Sementara itu, apabila produksi keringat kamu cenderung normal dan hanya terganggu oleh masalah bau, penggunaan deodoran sudah sangat mencukupi.

"Deodoran biasanya merupakan produk bebas aluminium yang bekerja dengan menurunkan kadar bakteri penyebab bau pada kulit," jelas Dr. Joshua Zeichner, dokter kulit di New York City.

Mengetahui secara pasti kebutuhan tubuh akan membantu kamu menentukan produk yang paling efektif untuk menjaga kesegaran dan rasa percaya diri setiap hari.

(eny/eny)
...
Hide Ads