Sering Manicure di Salon Kuku? Waspadai 5 Bahaya yang Mengintai Kesehatan
Tahukah kamu bahwa kebiasaan merawat kuku di salon ternyata dapat menyimpan bahaya tersembunyi bagi kesehatan?
Bagi sebagian besar wanita, merawat kuku di salon favorit sudah menjadi rutinitas untuk menunjang penampilan. Namun, kebiasaan melapisi kuku secara terus-menerus dengan cat kuku konvensional, gel, hingga dip powder berpotensi memicu masalah kesehatan dalam jangka panjang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Proses pengaplikasian dan penghapusan bahan eksternal pada permukaan kuku menyebabkan hilangnya lapisan luar kuku dan masuknya bahan kimia. Bahan kimia ini menyebabkan kuku mengering sehingga melemahkan strukturnya," ucap dokter kulit di Atlanta, dr. Corrie Alford.
Bahaya dan Risiko Kesehatan Akibat Sering Manicure
Sebelum kamu memutuskan untuk kembali melakukan perawatan di salon demi mengikuti tren warna cat kuku terbaru, penting untuk memahami risiko kesehatan yang mungkin mengintai. Sering kali, efek samping perawatan ini muncul tanpa disadari.
Infeksi Bakteri dan Jamur
Potensi infeksi pada jaringan kuku dapat muncul saat terjadi luka gores pada kulit atau akibat penggunaan alat salon yang kurang steril. Menurut dokter kulit di New York, dr. Viktoryia Kazlouskaya, PhD, infeksi bakteri umumnya ditandai dengan pembengkakan, rasa nyeri saat ditekan, kemerahan, rasa hangat, hingga penumpukan nanah di sekitar kuku.
"Dalam kebanyakan kasus, infeksi bakteri bersifat ringan dan sembuh sendiri, tetapi kadang-kadang infeksi tersebut dapat berkembang menjadi infeksi yang lebih serius atau abses yang membutuhkan antibiotik atau drainase," jelasnya.
Risiko infeksi ini sebenarnya lebih dipengaruhi oleh kerusakan pada kutikula dibandingkan seberapa sering kamu mengecat kuku. Dokter kulit dan ahli patologi, dr. Christina Sun, menjelaskan bahwa kutikula berfungsi sebagai batas pelindung alami antara permukaan kuku dan jaringan kulit di sekitarnya. Ketika kutikula dipotong habis atau didorong terlalu keras, celah terbuka dapat terbentuk sehingga jamur dan bakteri lebih mudah masuk.
"Manipulasi kutikula yang agresif setiap minggu jauh lebih mengkhawatirkan daripada manicure lembut setiap beberapa minggu," ucap dokter kulit di New York, dr. Nicole Lee, MPH.
Sun menambahkan bahwa apabila kuku sudah terlanjur terinfeksi, hentikan semua bentuk manicure hingga kondisinya benar-benar pulih.
Selain itu, kebersihan salon juga menjadi faktor penting yang menentukan keamanan. dr. Greeta Yadav, dokter kulit di Toronto, memperingatkan untuk waspada jika salon menggunakan alat yang diambil dari laci terbuka tanpa kantong steril. Hindari pula tempat yang tidak merendam instrumen dalam cairan disinfektan atau menggunakan kikir yang sama berulang kali untuk banyak pelanggan.
Kuku Terangkat dan Mengelupas
Kerusakan fisik dan paparan zat kimia keras selama proses perawatan dapat menyebabkan kondisi yang dikenal sebagai onikolisis (onycholysis). dr. Geeta mengatakan bahwa masalah ini terjadi ketika lempeng kuku terlepas dari bantalan kuku di bawahnya.
Tekanan mekanis dari pemasangan ekstensi, pengikiran berlebihan, hingga paparan cairan aseton saat merendam gel kuku dapat mengikis kelembapan alami, membuat kuku menjadi sangat rapuh dan mudah patah.
Jika kuku kamu mulai tampak menipis, retak, atau terangkat, segera berikan waktu istirahat untuk kuku. dr. Geeta menyarankan jeda pemulihan sekitar dua hingga tiga bulan agar jaringan kuku baru yang sehat dapat tumbuh dengan baik.
Dermatitis Kontak Alergi
Penggunaan produk kecantikan kuku secara terus-menerus dapat memicu reaksi alergi pada kulit di sekitar jari. Menurut dr. Viktoryia, bahan kimia dari kelompok akrilat seperti 2-Hydroxyethyl Methacrylate (2-HEMA) dan Methyl Methacrylate (MMA) sering ditemukan pada lem kuku, gel, maupun akrilik dan menjadi pemicu utama alergi ini.
"Banyak orang berasumsi bahwa karena mereka telah menggunakan suatu produk selama bertahun-tahun, produk tersebut tidak mungkin tiba-tiba menyebabkan reaksi. Padahal, dermatitis kontak alergi umumnya berkembang setelah paparan berulang dalam jangka waktu tertentu," jelasnya.
dr. Nicole mengatakan bahwa gejala alergi ini meliputi sensasi terbakar, gatal menyengat, kulit mengelupas, hingga ruam bersisik di sekitar kuku. Bahkan, sentuhan tangan ke area wajah atau leher dapat memindahkan alergen dan menyebabkan iritasi di sekitarnya.
Begitu tubuh menunjukkan reaksi alergi, dr. Corrie menyarankan untuk menghentikan penggunaan produk berbahan kimia tersebut guna mencegah gejala menjadi lebih parah di kemudian hari.
Penuaan Dini pada Kulit Tangan
Foto: Getty Images/Doucefleur
Menurut dr. Corrie, akibat paparan sinar tersebut, kulit di punggung tangan dapat lebih cepat keriput, muncul flek hitam, dan pembuluh darah halus menjadi lebih terlihat.
Meskipun belum ada batasan pasti mengenai frekuensi aman melakukan manicure gel dengan sinar UV, dr. Nicole mengatakan bahwa paparan berkala setiap dua minggu tentu meningkatkan akumulasi radiasi pada kulit.
dr. Christina menyarankan untuk menyelingi penggunaan cat kuku gel dengan cat kuku konvensional serta tidak melakukan manicure gel dalam waktu yang lama guna meminimalkan efek buruk radiasi ini.
Risiko Kanker Kulit
Kekhawatiran akan kanker kulit akibat penggunaan lampu UV maupun LED sering menjadi perbincangan di kalangan pecinta perawatan kuku. Meski lampu LED dianggap sedikit lebih aman karena durasi pengeringannya yang singkat, alat ini tetap memancarkan radiasi ultraviolet.
Namun, menurut Skin Cancer Foundation, tingkat radiasi dari alat pengering kuku masih tergolong rendah jika dibandingkan dengan bahaya tanning bed.
Sebagian besar dokter kulit sepakat bahwa risiko penuaan dini pada kulit tangan akibat paparan sinar matahari jauh lebih nyata dibandingkan risiko kanker kulit akibat manicure gel.
Jenis Manicure Apa yang Paling Aman?
Foto: Getty Images/iStockphoto/liveslow
Menurut dr. Christina, jenis ini tidak membutuhkan sinar UV untuk pengeringan, memiliki kandungan alergen yang lebih sedikit, serta tidak mengikis lapisan kuku saat dibersihkan.
"Meskipun lebih aman, tetap penting untuk meluangkan beberapa hari setiap bulan agar kuku dapat bernapas dan untuk menilai kesehatan kuku," jelasnya.
dr. Viktoriya menambahkan bahwa pada jenis akrilik dan dip powder biasanya dilakukan lebih banyak pengikiran, tekanan fisik pada kuku, dan paparan akrilat. Sementara itu, manicure gel memberikan daya tahan lebih lama, tetapi membutuhkan paparan lampu kuku UV dan perendaman dalam aseton.
Sebagai perbandingan, dr. Nicole dan dr. Christina merekomendasikan waktu istirahat untuk kuku (nail break) yang ideal pada setiap jenis manicure.
Pertama, jika kamu menggunakan cat kuku konvensional, tunggu beberapa hari di antara jadwal perawatan.
Kedua, jika kamu menggunakan manicure gel, istirahatkan kuku selama dua hingga tiga minggu setelah beberapa kali menggunakannya secara berturut-turut.
Ketiga, jika kamu menggunakan akrilik dan dip powder, luangkan waktu pemulihan minimal empat minggu atau lebih, tergantung pada tingkat kerusakan kuku.
Cara Aman Merawat Kuku Tanpa Merusak Kulit
Foto: Getty Images/Yulia Lisitsa
1. Gunakan Sunscreen
Aplikasikan sunscreen pada punggung tangan sekitar 15-20 menit sebelum proses pengeringan gel, atau kenakan sarung tangan pelindung anti-UV tanpa jari.
2. Biarkan Kutikula Utuh
Mintalah teknisi kuku untuk tidak memotong atau mengikis kutikula secara agresif. Cukup dorong bagian tersebut secara perlahan karena kutikula merupakan benteng utama untuk mencegah infeksi.
3. Rutin Menjaga Kelembapan Jaringan Kuku
Gunakan pelembap tangan (hand cream) dan cuticle oil secara teratur. Mengaplikasikan pelembap sesaat setelah membersihkan cat kuku sangat membantu mengurangi efek kekeringan akibat cairan aseton.
4. Pilih Salon dengan Standar Higienis Tinggi
Pastikan salon pilihanmu menerapkan standar sanitasi yang ketat, menggunakan alat steril yang dibuka dari kemasan khusus, serta tidak mengikir lempeng kuku hingga terlalu tipis.













































