Gen Z Terobsesi Neuroplastisitas, Rajin Meditasi & Journaling untuk Reset Otak
Istilah neuroplastisitas semakin populer di kalangan Gen Z. Di media sosial, konsep ini sering dikaitkan dengan meditasi, journaling, dopamine detox, hingga berbagai kebiasaan yang diklaim bisa membantu 'reset otak'.
Padahal, neuroplastisitas merupakan konsep ilmiah yang menjelaskan kemampuan otak untuk terus beradaptasi dengan membentuk koneksi saraf baru sebagai respons terhadap pengalaman dan kebiasaan. Salah satu prinsipnya adalah bahwa kebiasaan yang terus diulang akan semakin mengakar.
"Neuron yang aktif bersama akan terhubung bersama. Artinya, semakin sering suatu pola pikir atau perilaku diulang, semakin kuat jalur saraf yang terbentuk di otak," ujar neuropsikolog Donald Hebb, dikutip dari Neuro Skills.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketertarikan Gen Z terhadap konsep ini dinilai wajar. Di tengah tekanan media sosial, kecemasan, dan burnout, banyak anak muda mulai rutin bermeditasi, menjaga kualitas tidur, latihan pernapasan, hingga menulis jurnal sebagai upaya meningkatkan kesehatan mental.
Meski sebagian kebiasaan tersebut didukung penelitian, para ahli mengingatkan bahwa perubahan otak tidak terjadi secara instan. Menurut Times Now, mengubah pola pikir atau respons terhadap trauma tidak bisa dicapai hanya lewat tantangan 30 hari, melainkan membutuhkan waktu, latihan berulang, dan terkadang bantuan profesional. Neurolog Dr. David Perlmutter menegaskan bahwa kemampuan otak untuk berubah memang nyata.
"Kemampuan neuroplastisitas memungkinkan otak terus beradaptasi terhadap pengalaman dan perubahan yang dialami seseorang sepanjang hidupnya," jelasnya.
Namun, kemampuan tersebut bukan berarti otak bisa berubah dalam semalam. Layaknya membangun kebiasaan baru, proses 'reset otak' membutuhkan konsistensi dan berlangsung secara bertahap.
(kik/kik)










































