Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network

Ini Pola Makan dan Olahraga yang Tepat di Setiap Fase Siklus Menstruasi

Shandrina Shira - wolipop
Selasa, 13 Jan 2026 11:45 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Fase Menstruasi
Foto: Getty Images/Fauzi Muda
Jakarta -

Menjadi tamu bulanan bagi setiap perempuan, menstruasi rata-rata berlangsung selama tiga hingga tujuh hari. Keluarnya darah saat menstruasi sebenarnya hanyalah satu fase dari rangkaian empat fase yang terus berputar dalam siklus menstruasi. Keempat fase tersebut umumnya terjadi dalam rentang 21 hingga 35 hari, tergantung kondisi masing-masing individu.

Dalam keempat fase tersebut, hormon mengalami naik turun sepanjang bulan. Perubahan ini memengaruhi energi, suasana hati, dan fokus tubuh. Karena itu, terdapat cara untuk memaksimalkan kerja hormon dengan menyesuaikan pola makan, aktivitas, dan olahraga. Pendekatan ini dikenal sebagai sinkronisasi siklus, yakni menyelaraskan pola makan, aktivitas fisik, dan rutinitas harian dengan empat fase menstruasi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Konsep sinkronisasi siklus ini diperkenalkan oleh pelatih kesehatan dan nutrisi sekaligus penulis buku How to Understand and Balance Your Hormones, Chloe Couchman.

"Seiring naik turunnya hormon seperti estrogen dan progesteron sepanjang bulan, energi, suasana hati, dan fokus juga dapat berubah. Alih-alih melawan perubahan ini, sinkronisasi siklus mendorong kita untuk bekerja selaras dengannya," tulis Chloe Couchman seperti dikutip dari Hello Magazine.

ADVERTISEMENT

Dengan menyesuaikan latihan, pola makan, dan rutinitas harian, metode ini dinilai dapat membantu memaksimalkan tiap fase dalam siklus menstruasi:

Sinkronisasi Siklus dalam Empat Fase Menstruasi

Siklus menstruasi umumnya berlangsung selama 28 hari. Namun, siklus yang teratur berada pada rentang 21 hingga 35 hari, dengan empat fase berikut:

Fase Menstruasi
Fase ini dimulai pada hari pertama menstruasi, ketika lapisan rahim luruh melalui vagina akibat sel telur yang tidak dibuahi. Pada fase ini, tingkat energi cenderung menurun sehingga disarankan untuk lebih fokus pada istirahat.

Pola makan: Konsumsi makanan kaya zat besi dan bersifat anti-inflamasi, seperti daging, ikan, dan kacang-kacangan untuk membantu mengembalikan zat besi yang hilang. Asupan vitamin C dari buah dan sayur juga bermanfaat untuk mendukung daya tahan tubuh.Olahraga: Pilih olahraga ringan seperti yoga atau peregangan.

Fase Folikular (sekitar 14 hari)

Young female jogger running in the urban park in city, with modern city skyline as background

Foto: Getty Images/AsiaVision

Fase ini berlangsung sejak hari pertama menstruasi hingga menjelang ovulasi. Pada fase ini, lapisan rahim kembali menebal dan folikel di ovarium mulai berkembang untuk menghasilkan sel telur matang. Kadar estrogen dan testosteron meningkat, sehingga energi tubuh ikut meningkat.

Pola makan: Protein dan lemak sehat diperlukan untuk mendukung produksi hormon dan menjaga energi. Kacang-kacangan, biji-bijian, alpukat, serta makanan fermentasi dapat membantu keseimbangan hormon dan kesehatan usus.Olahraga: Olahraga berintensitas lebih tinggi seperti lari atau angkat beban bisa menjadi pilihan.

Fase Ovulasi (sekitar hari ke-14)

Young woman standing in front of open refrigerator and drinking cold water while suffering from a hot summer heat at home

Foto: Getty Images/deepart386

Ovulasi terjadi ketika ovarium melepaskan sel telur yang telah matang. Pada fase ini, kadar estrogen dan testosteron mencapai puncaknya, sehingga energi tubuh berada dalam kondisi optimal.

Pola makan: Perbanyak serat dan sayuran silangan seperti brokoli dan kembang kol yang membantu metabolisme hormon. Asupan air putih juga penting untuk mencegah dehidrasi.Olahraga: Waktu yang tepat untuk mencoba olahraga baru atau aktivitas fisik yang lebih menantang.

Fase Luteal (sekitar hari ke-15 hingga 28)

Ilustrasi salmon

Foto: Getty Images/alicjane

Setelah ovulasi, sel telur bergerak menuju rahim melalui tuba falopi. Jika tidak terjadi pembuahan, kadar estrogen dan progesteron menurun, dan siklus kembali ke fase awal. Pada fase ini, gejala PMS sering muncul.

Pola makan: Konsumsi magnesium, vitamin B, dan karbohidrat kompleks untuk membantu meredakan kram, menjaga keseimbangan gula darah, dan menstabilkan suasana hati. Ubi jalar, salmon, beras merah, buncis, dan sayuran hijau dapat menjadi pilihan.Olahraga: Kurangi olahraga intens dan pilih aktivitas ringan seperti pilates atau berjalan kaki.

Itulah cara menyesuaikan pola makan dan aktivitas dengan siklus menstruasi. Meski demikian, masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memastikan efektivitas metode ini dalam mengurangi gejala PMS dan meningkatkan kesejahteraan secara keseluruhan.

(eny/eny)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads