Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network

Olahraga Ekstrem Demi Turun BB, Wanita Ini Berakhir Tak Lagi Alami Menstruasi

Vina Oktiani - wolipop
Selasa, 13 Jan 2026 08:38 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Close up of sporty woman tying shoelace while kneeling outdoor, In background bridge. Fitness outdoors concept.
Foto: Getty Images/dusanpetkovic
Jakarta -

Olahraga sering dianggap sebagai kunci hidup sehat dan tubuh ideal. Namun, jika dilakukan secara berlebihan tanpa diimbangi asupan energi yang cukup, dampaknya justru bisa membahayakan kesehatan tubuh, terutama bagi perempuan.

Melansir SCMP, seorang wanita berusia 23 tahun di Provinsi Zhejiang, China timur, mendadak menjadi perbincangan di media sosial setelah mengungkap bahwa menstruasinya terhenti akibat terlalu sering olahraga. Kisahnya ramai diperbincangkan dan telah dibaca lebih dari 15 juta kali di salah satu platform media sosial China.

Wanita tersebut mengaku mulai rutin berolahraga enam kali dalam seminggu, dengan durasi sekitar 70 menit setiap sesi. Awalnya, ia termotivasi untuk menurunkan berat badan setelah sempat mengalami binge eating hingga berat badannya mencapai 65 kilogram.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Binge eating sendiri ialah penyimpangan perilaku makan, di mana penderitanya sering makan dalam jumlah yang sangat banyak dan sulit menahan dorongan untuk makan. Dalam beberapa bulan terakhir, olahraga menjadi rutinitas yang nyaris tidak pernah ia lewatkan.

Namun, perubahan drastis itu berdampak pada kesehatannya. Ia menyadari volume menstruasinya semakin berkurang hingga akhirnya hanya berlangsung selama dua jam.

ADVERTISEMENT

Pemeriksaan medis di rumah sakit menunjukkan kadar hormon wanitanya setara dengan perempuan berusia sekitar 50 tahun. Dokter juga menemukan gejala kekurangan fungsi ginjal dan memintanya menghentikan sementara aktivitas olahraga berat. Ia pun diberikan sejumlah obat tradisional China untuk membantu menyeimbangkan kondisi tubuhnya.

"Dulu, saat saya beristirahat sebulan karena sakit dan dirawat di rumah sakit, menstruasi saya justru teratur. Sekarang saya terlalu banyak berolahraga hingga menyebabkan gangguan hormon dan insomnia. Rasanya seperti merusak tubuh sendiri," ujarnya.

Dokter spesialis kandungan senior dari Zhejiang Zhongshan Hospital, Fan Yibing, menjelaskan bahwa kondisi yang dialami wanita tersebut disebut Exercise Associated Amenorrhea. Gangguan ini terjadi ketika energi yang masuk ke tubuh tidak sebanding dengan energi yang dikeluarkan akibat aktivitas fisik berlebihan.

Menurut Fan, kondisi ini sebenarnya dapat disembuhkan. Menstruasi bisa kembali normal dengan menurunkan intensitas olahraga dan memastikan keseimbangan energi. Ia juga menekankan bahwa persentase lemak tubuh perempuan sebaiknya tidak kurang dari 17 persen agar siklus menstruasi tetap normal. Sebaliknya, kadar lemak tubuh yang terlalu tinggi, di atas 32 persen, juga bisa mengganggu keseimbangan hormon.

Pendapat serupa disampaikan oleh Liu Haiyuan, dokter dari Beijing Union Medical College Hospital. Ia menyebut bahwa penurunan berat badan lebih dari 15 kilogram dalam waktu singkat sangat berisiko memicu amenore atau berhentinya menstruasi. Liu juga mengingatkan agar perempuan tidak sembarangan mengonsumsi produk kesehatan yang mengandung hormon wanita tanpa pengawasan dokter karena dapat meningkatkan risiko kanker payudara.

Dalam kasus ini, Liu menyarankan agar wanita tersebut menghentikan latihan intens selama dua hingga tiga bulan. Setelah kondisi membaik, olahraga bisa dilanjutkan tiga hingga empat kali seminggu dengan gerakan ringan dan menenangkan seperti yoga.

Kisah ini pun memicu beragam komentar dari warganet. "Segala sesuatu yang berlebihan tidak pernah baik. Kuncinya adalah moderasi," tulis salah satu netizen.

Sementara komentar lain mengatakan, "Sepertinya saya baru menemukan alasan yang bagus untuk tidak terlalu memaksakan diri saat olahraga."

(vio/vio)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads