Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network

Riset: Pernikahan Harmonis Bisa Bantu Turunkan Berat Badan, Ini Faktanya

Vina Oktiani - wolipop
Rabu, 10 Des 2025 10:45 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Ilustrasi pasangan
Foto: Getty Images/simon2579
Jakarta -

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering melihat pasangan yang makin nyaman justru makin malas berolahraga. Namun sebuah penelitian terbaru menunjukkan bahwa pernikahan yang bahagia ternyata bisa memberikan manfaat kesehatan yang tidak disangka, termasuk menurunkan risiko obesitas.

Melansir New York Post, sebuah penelitian dari UCLA menemukan bahwa kualitas hubungan pernikahan memiliki hubungan langsung dengan kesehatan fisik, khususnya berat badan. Menurut peneliti utama, Arpana Church dari UCLA Health, hubungan sosial yang kuat memang sudah lama diketahui bisa meningkatkan peluang hidup hingga 50%. Namun mekanisme biologis di balik manfaat tersebut kini baru mulai terungkap.

Dalam studi yang melibatkan hampir 100 warga Los Angeles, para peneliti menilai berbagai aspek mulai dari indeks massa tubuh (BMI), pola makan, pemindaian otak, kadar hormon, tingkat dukungan emosional, hingga kualitas pencernaan. Hasilnya menarik, pasangan yang menikah dan memiliki dukungan emosional kuat cenderung memiliki BMI lebih rendah dan tanda-tanda kecanduan makanan lebih sedikit dibanding mereka yang kurang mendapatkan dukungan dalam pernikahan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ketika peserta diperlihatkan gambar makanan, individu dalam pernikahan yang kurang bahagia menunjukkan aktivitas lebih tinggi pada bagian otak bernama dorsolateral prefrontal cortex, area yang berperan dalam mengatur keinginan dan menahan godaan. Uniknya, pola ini tidak ditemukan pada mereka yang lajang, baik yang memiliki dukungan sosial maupun tidak.

Peneliti juga menemukan bahwa komunikasi antara otak dan usus menjadi kunci penting. Pasangan yang bahagia memiliki perubahan positif pada metabolit triptofan di usus, yang berperan dalam mengatur peradangan, metabolisme, respons imun, serta fungsi neurologis. Salah satu metabolit penting adalah serotonin, hormon yang memengaruhi suasana hati, tidur, dan nafsu makan.

ADVERTISEMENT

Tak hanya itu, pasangan yang berada dalam hubungan berkualitas tinggi juga memiliki kadar oksitosin lebih tinggi dibanding mereka yang masih lajang. Oksitosin, yang dikenal sebagai 'hormon cinta', dapat menurunkan stres, menstabilkan tekanan darah, hingga mempercepat proses penyembuhan. Para peneliti menduga hormon tersebut dapat membantu meningkatkan pengendalian diri dan mendukung kesehatan usus.

Church menggambarkan oksitosin sebagai 'konduktor' yang mengatur kerja sama antara otak dan usus. Hormon ini diyakini memperkuat kemampuan otak menahan godaan makanan sekaligus mendorong proses metabolisme yang lebih sehat. Dengan kata lain, pernikahan yang harmonis bisa membantu seseorang lebih mampu mengendalikan makan, memiliki metabolisme lebih baik, dan menjaga berat badan tetap stabil.

Selain itu, Church menyebut bahwa pernikahan dapat menjadi 'latihan' bagi kemampuan mengendalikan diri. Menjaga hubungan jangka panjang membutuhkan upaya untuk menghindari perilaku destruktif dan memprioritaskan tujuan bersama, keterampilan tersebut juga berperan dalam mengatur pola makan.

Meski begitu, penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan, termasuk mayoritas peserta yang berada pada kategori kelebihan berat badan atau obesitas, serta pengambilan data yang hanya dilakukan satu kali.

(vio/vio)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads