Langgar Prokes COVID-19 untuk Beli Boba Drink, Perawat Singapura Dipenjara

Hestianingsih - wolipop Rabu, 27 Jan 2021 19:00 WIB
Back view of nurse caregiver support walking with elderly woman outdoor Ilustrasi perawat. Foto: iStock
Singapura -

Seorang perawat di Singapura menjalani hukuman penjara karena melanggar protokol kesehatan COVID-19. Ia harus mendekam di tahanan selama 7 minggu lamanya.

Pelanggaran terjadi pada 21 Maret 2020, awal merebaknya pandemi virus Corona ke berbagai belahan dunia. Kala itu perawat bernama Nurul Afiqah ini baru pulang liburan dari Australia.

Pemerintah Singapura saat itu memberlakukan aturan bagi siapa saja yang kembali dari luar negeri harus menjalani karantina di rumah selama 14 hari. Namun selama periode karantina, perawat tersebut justru keluar rumah sebanyak tujuh kali.

Pertama kali ia keluar rumah pada 23 Maret 2020 selama 1,5 jam untuk alasan yang tidak darurat, yakni membeli minuman bubble tea. Setelah itu menurut laporan CNA, Nurul pergi ke Nanyang Politechnic untuk mengajukan aplikasi permohonan lanjut studi, dengan menumpang taksi online.

Kemudian pada 2 April 2020, perawat yang pernah bekerja di Singapore General Hospital ini pergi lagi dan menghabiskan waktu di luar rumah selama lima jam. Dia mengunjungi rumah temannya beberapa kali untuk membantu mempersiapkan pernikahan.

Gejala sakit mulai dirasakan Nurul 10 hari setelahnya. Dia mengalami radang tenggorokan serta demam dan memutuskan memeriksakan diri ke rumah sakit. Saat itulah hasil tes menunjukkan kalau dirinya positif COVID-19.

Selama hampir satu bulan Nurul dirawat di fasilitas kesehatan hingga akhirnya keluar setelah dinyatakan negatif pada 17 Mei 2020. Atas kelalaiannya, Jaksa Umum Joshua Lim menuntutnya hukuman 7 minggu penjara, meskipun tidak ada bukti kalau Nurul telah menyebarkan virus ke siapapun yang ditemuinya.

Namun dia tidak lagi menjadi perawat di Singapore General Hospital (SGH) sebagai konsekuensi atas perbuatan tak bertanggungjawabnya itu.

"SGH mengambil tindakan serius untuk masalah ini. Semua staf kami harapkan bisa memegang tingkat profesionalisme tertinggi dan harus sepenuhnya mematuhi aturan. Kami akan mengambil tindakan disiplin tegas kepada siapa saja staf yang melanggar peraturan," ujar Tam Yang Noi dari pihak HRD rumah sakit, seperti dilansir CNA.

Nurul sendiri divonis penjara 7 minggu pada 22 Januari 2021.

(hst/hst)