Anak dari Tenaga Medis Kena Corona, Meninggal Dunia Setelah Diobati di Rumah

Vina Oktiani - wolipop Rabu, 08 Jul 2020 18:20 WIB
Pouring medicine Ilustrasi Minum Obat / Foto: Getty Images
Jakarta -

Gejala terinfeksi COVID-19 memang sulit diidentifikasi dengan jelas tanpa bantuan pemeriksaan lab lebih lanjut, mengingat gelanya yang mirip dengan penyakit pernapasan, seperti flu. Salah-salah menyimpulkan penyakit yang diderita bisa membuatmu salah memilih pengobatan yang tepat. Akibatnya, nyawa yang menjadi taruhannya.

Seperti dikutip dari Today, seorang remaja dari Fort Myers, Florida, pada Juni dikabarkan meninggal karena kesalahan pengobatan yang diterimanya. 13 hari sebelum kepergiannya, tepatnya tanggal 10 Juni, remaja 17 tahun itu pergi ke acara di tempat ibadahnya bersama 100 anak-anak lainnya tanpa menerapkan aturan untuk jaga jarak sosial dan menggunakan masker.

Pada 13 Juni, remaja bernama Carsyn Leigh Davis itu mulai memperlihatkan gejala seperti pusing, sinus, dan batuk ringan. Kedua orangtuanya, ibunya yang bekerja sebagai suster, dan ayahnya yang seorang asisten dokter lalu memberikan Carsyn obat azithromycin, antibiotik yang digunakan untuk mengobati infeksi bakteri. Azithromycin sendiri bukanlah obat yang tepat untuk mengobati infeksi COVID-19.

Carsyn LeighCarsyn Leigh Foto: dok. gofundme.com


Sekitar 6 hari setelah mengonsumsi obat tersebut gejala yang dialami Carsyn semakin parah. Bahkan sang ibu mulai menyadari jika warna kulit Carsyn mulai berubah menjadi abu-abu ketika Carsyn tidur. Melihat hal itu, ibunya segera mengukur kadar oksigen Carsyn dan menemukan bahwa oksigen dalam tubuh Carsyn berada dalam level yang berbahaya, yaitu hanya sekitar 40 an. Level oksigen di bawah 90 dianggap sudah sangat memprihatinkan.

Setelahnya sang ibu langsung memasangkan Carsyn selang oksigen milik kakeknya. Berkat bantuan oksigen tersebut, level oksigen dalam tubuh Carsyn meningkat menjadi 60. Selain itu, kabarnya kedua orangtuanya juga memberikan Carsyn obat hydroxychloroquine, obat yang biasanya diberikan untuk mengobati malaria dan lupus.

Setelah kedua orangtua Carsyn memberikannya beberapa rangkaian pengobatan di rumah, mereka akhirnya memutuskan untuk membawa putrinya ke rumah sakit setempat. Pada 19 Juni, hasil tes Carsyn menunjukkan bahwa dirinya positif terinfeksi Corona. Empat hari setelahnya Carsyn lalu dipindahkan ke Nicklaus Children's Hospital di Miami untuk mendapatkan perawatan intensif. Namun sayang hal itu sudah terlambat karena pada akhirnya Carsyn menghembuskan nafas terakhirnya di rumah sakit tersebut.

Menurut pemeriksaan medis yang telah dilakukan, Carsyn memang memiliki kondisi kesehatan yang kurang baik selama hidupnya. Hingga usianya lima tahun, dia menderita kelainan sistem saraf yang langka dan obesitas.

Pihak tempat ibadah di mana Carsyn sempat berkunjung sebelum dirinya meninggal juga mengatakan bahwa mereka telah melakukan tindakan pencegahan. Namun mereka memang tidak bisa memaksa anak-anak untuk mengikuti aturan jaga jarak sosial.



Simak Video "Rugi Miliaran Gegara Corona, EO Putar Otak Bikin Pertemuan Virtual"
[Gambas:Video 20detik]
(vio/eny)