Kisah Perawat RSCM Meninggal karena Virus Corona, Suami Ungkap Pesan Haru

Hestianingsih - wolipop Rabu, 01 Apr 2020 12:51 WIB
Stressed And Overworked Female Doctor Wearing Scrubs Sitting On Floor In Hospital Corridor Ilustrasi perawat. Foto: iStock
Jakarta -

"Saya hidup untuk orang yang saya sayangi dan mati untuk orang yang saya sayangi, termasuk (untuk) profesi saya," kalimat itu yang mungkin akan selalu diingat Arul, suami dari Ninuk, perawat RS Dr. Cipto Mangunkusumo yang menjadi korban virus corona.

Ninuk meninggal dunia pada 12 Maret 2020 setelah mengalami demam hingga 39 derajat Celsius, kelelahan, diare dan sesak napas. Perawat berusia 37 tahun ini menjadi tenaga medis pertama yang dilaporkan meninggal akibat COVID-19.

Kepada wartawan BBC Indonesia, Callistasia Wijaya, Arul mengenang saat-saat Ninuk terbaring lemah sebagai pasien RSCM karena penyakit yang dideritanya. Kala itu dia bertanya-tanya, apakah dia akan selamat atau tidak.


"Yah , aku positif Covid-19... masih bisa hidup nggak aku ya?" tanya Ninuk, berdasarkan cerita dari sang suami saat menemaninya di RSCM pada 10 Maret 2020.

Arul pun bercerita terus mencoba menenangkan Ninuk yang terus merasakan nyeri dan mengeluarkan keringat saat dia dirawat. Dia mengatakan hidup-mati manusia berada di tangan Tuhan dan manusia hanya bisa berdoa serta berusaha.

Ninuk, perawat RSCM yang meninggal karena virus corona. Foto: Dok. Keluarga Almh. Ninuk/BBC Indonesia


"Saya bilang tenang saja. Allah yang memberikan sakit, Allah juga yang menyembuhkan. Saya hanya bisa menyemangati saat itu," cerita Arul.

Kondisi Ninuk yang dirawat di IGD RSCM tak kunjung membaik. Ia mengalami kesulitan bernapas hingga harus dibantu ventilator. Sejak itu keluarga dilarang bertemu dengan Ninuk yang akhirnya dirawat di rumah sakit rujukan COVID-19, RSPI Sulianti Saroso, Jakarta Utara. Dua hari diisolasi, Ninuk harus berpulang.

Ninuk, perawat RSCM yang meninggal karena virus corona. Foto: Dok. Keluarga Almh. Ninuk/BBC Indonesia


Kepergian Ninuk tentu menjadi pukulan berat bagi Arul dan kedua anaknya. Sebab mereka tidak bisa melihat jenazah orang terkasih untuk terakhir kalinya, dikarenakan prosedur pemakaman pasien virus corona harus melalui tahapan khusus. Dibungkus plastik, tak dimandikan dan langsung dikubur, tanpa dihadiri pelayat.

Arul pun mencoba memberi pengertian kepada anak-anaknya bahwa ibu mereka meninggal secara terhormat. Menjadi pahlawan di garda depan untuk menyembuhkan pasien-pasien nya.

"Saya sebagai ayahnya, saya bilang mama itu pahlawan. Mereka bangga punya ibu seperti itu, yang secapek apapun setelah dinas, nggak pernah marah atau menunjukkan dia lelah," tuturnya.


Sang suami menduga Ninuk terpapar virus corona saat bertugas di RSCM atau RS Grogol. Almarhumah istrinya pun tidak tahu apakah dia pernah menangani pasien COVID-19. Menurut sepengetahuannya, Ninuk tidak diperlengkapi dengan APD (alat pelindung diri) saat menangani pasien.

Ninuk sudah bekerja sebagai perawat di RSCM selama 12 tahun. Sebelum meninggal, dia tercatat sebagai mahasiswi D-4 keperawatan di Jakarta Selatan. Ninuk juga menjalani praktik lapangan di Rumah Sakit Jiwa Dr. Soeharto Heerdjan, Grogol, Jakarta Barat.

Selamat jalan, Ninuk.



Simak Video "Resepsi Nikah Ditunda karena Corona, Gimana Vendor Fotografi Menyikapinya?"
[Gambas:Video 20detik]
(hst/hst)