Cermat Memilih, Kandungan Gizi Susu Ada Levelnya

Hestianingsih - wolipop Sabtu, 25 Jun 2016 15:00 WIB
Foto: iStock
Jakarta - Susu sapi yang kaya kalsium baik dikonsumsi setiap hari tak hanya untuk menguatkan tulang, tapi juga relaksasi otot dan mencegah penyakit jantung. Selain itu menurut pakar nutrisi Emilia Achmadi, MS, RD, jika dikonsumsi secara benar dan dalam jumlah cukup, susu juga bisa membantu melangsingkan tubuh.

Namun ia mengingatkan tak semua susu diproduksi sama. Kandungan gizi susu memiliki tingkatan tergantung proses pembuatannya. Cermat membaca label pada kemasan, adalah hal bijak dilakukan sebelum membeli sebuah produk terutama produk makanan.

"Susu ada kastanya dari kacamata kualitas dan alaminya," terang wanita yang akrab disapa Emil ini, dalam Media Workshop 'Tetap Sehat Setelah Ramadan' bersama Greenfields di H Tower, Jl. HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (22/6/2016).

Syahbantha Sembiring, Indonesia Country Head Sales & Marketing PT AustAsia Food menjelaskan sedikitnya ada empat jenis produk susu dari sapi yang banyak beredar di pasaran dan diketahui masyarakat umum. Masing-masing memiliki nilai dan tingkatan gizi yang berbeda. Apa saja?

1. Susu Segar
Biasa disebut juga dengan susu pasteurisasi, yakni susu yang diperah dari sapi dan langsung dikemas dalam kotak atau botol kedap udara. Proses dari pemerahan, pengemasan dan pendistribusian sangat cepat sehingga bisa dikatakan susu pasteurisasi merupakan produk susu yang paling mendekati bentuk aslinya, sehingga kandungan nutrisinya terbilang paling baik.

"Campur tangan manusia akan sedikit mengurangi manfaat dari sebuah produk alami. Contohnya saja kalau kita masak sayur, pasti nutrisinya berkurang dari saat baru dipetik. Susu pasteurisasi ini paling sedikit campur tangan manusianya," kata Emil.

Syahbantha menambahkan bahwa susu pasteurisasi harus selalu disimpan dalam suhu dingin, tak lebih tinggi dari empat derajat Celsius untuk menjaga kualitasnya. Jadi jika Anda ingin mencari susu segar, pilihlah yang berlabel 'fresh milk', 'pasteurisasi' atau 'susu segar' pada kemasannya. Produk susu ini biasanya ditempatkan di area khusus yang bersuhu dingin di supermarket.

"Susu segar bertahannya juga tidak lama. Usia pakai maksimal 40 hari," ujar pria yang biasa disapa Antha ini.

2. Susu UHT
UHT merupakan singkatan dari ultra high temperature, yaitu metode pengawetan minuman dengan proses pemanasan hingga 135 derajat Celsius selama tiga detik. Proses ini bertujuan menghilangkan kuman dari susu. Karena susu sapi berpotensi tidak steril dan mengandung kuman dari tubuh sapi.

Karena telah mengalami proses pemanasan, tingkat kandungan gizi susu UHT sedikit di bawah susu segar. Namun bukan berarti tidak baik dikonsumsi.

"UHT dan pasteurisasi sama-sama susu cair tapi UHT prosesnya lebih panjang jadi nutrisinya sedikit di bawah. Produk ini bagus jika kita mau bepergian dan harus minum susu, tapi tidak ada lemari pendingin. Jadi kualitasnya tidak rusak," ucap Emil.

Susu UHT bisa bertahan 3-6 bulan. Setelah dibuka, harus segera disimpan di lemari es dan dihabiskan dalam waktu tiga hari.

3. Susu Bubuk
Antha menjelaskan, susu bubuk adalah susu yang mengalami proses pengeringan hingga membentuk butiran-butiran susu yang solid dan halus. Susu bubuk memiliki daya tahan yang jauh lebih lama ketimbang susu cair dan tidak harus disimpan dalam kulkas. Proses pengeringan membuat susu bubuk tak rentan terhadap bakteri. Susu bubuk biasanya juga diberi beberapa tambahan vitamin dan mineral, namun gizinya tidak sealami susu pasteurisasi atau UHT.

4. Susu Kental Manis
Produk ini sangat kecil kandungan susu aslinya, hanya 3-5 persen dalam satu kemasan. Sisanya adalah gula. Tidak disarankan untuk dikonsumsi setiap hari karena kandungan lemak dan gulanya yang tinggi.

"Menurut saya susu kental manis tidak termasuk produk susu. Tapi sirup rasa susu," ucap wanita yang menjadi nutriotionist selama 25 tahun ini. (hst/asf)