Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network

Liputan Khusus

Pole Dance & Striptis, Serupa Tapi Tak Sama. Apa Bedanya?

Arina Yulistara - wolipop
Jumat, 15 Mar 2013 12:12 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Dok. Thinkstock
Jakarta -

Imej pole dance selama ini identik dengan tarian striptis. Memang kedua jenis aktivitas tersebut mirip, tapi sebenarnya tak sama. Apa yang membedakannya?

Jun Ko Agus, pelopor tarian Zumba di Indonesia yang kini juga menjadi instruktur pole dance mencoba memberikan gambaran perbedaan dua aktivitas tersebut. "Sebenarnya sama aja, tapi tergantung melakukannya di mana. Kalau melakukannya di klub malam jadilah striptease. Tapi kalau melakukannya di suatu fitness center, jadi sesuatu yang positif, fitness," urai Jun Ko saat berbincang di kantor wolipop, Jl. Warung Jati Barat, Jakarta Selatan, Senin (11/3/2013).

Perbedaan lainnya adalah dalam gerakan. Gerakkan-gerakkan dalam striptease cenderung mengarah ke hal seksualitas. Sementara pole dance, gerakannya lebih ke arah pembentukan tubuh.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Pole dance itu lebih kepada pembentukan tubuh, membentuk otot dan melenturkan tubuhnya sendiri," ujar Liza Natalia, penyanyi yang kini membuka studio zumba dan pole dance, Liza Natalia's Arena, di La Codefin, Kemang, Jakarta Selatan. Liza ditemui di studionya pada Rabu (13/3/2013). Selain sebagai pemilik, dia juga ikut melatih zumba dan pole dance.

Jun Ko lebih jauh menjelaskan, pole dance sebenarnya berawal dari India. Pada ribuan tahun lalu, olahraga itu dinamai Mallakhamb. Pria dan wanita bisa berpatisipasi melakukan olahraga tersebut menggunakan tiang yang terbuat dari kayu. Di China, olahraga serupa juga ditemukan, hanya saja menggunakan dua tiang. Identik sebagai akrobat, pemain pole dance meloncat dari satu tiang ke tiang lainnya.

Situs thepolepower menulis, pole dance mulai berkembang menjadi striptis atau tarian erotis pada 1950-an. Pada 1980-an, striptis mulai populer di Kanada, kemudian Amerika Serikat.

Di Indonesia sendiri kini perlahan konotasi negatif pole dance bergeser. Beberapa bulan belakangan mulai banyak orang yang tertarik dengan olahraga olah tubuh ini tanpa berpikir yan tidak-tidak. Jun Ko menilai kehadiran Yohana, peserta Indonesia Mencari Bakat 2 yang piawai pole dancing ikut membantu menghapus stigma negatif pada pole dance.

"Karena Yohana di IMB jadinya pole dance sekarang sangat terkenal," kata pria yang kerap menjadi instruktur pole dance bersama Vicky Burki itu.

Tidak seperti striptis, untuk mencoba pole dance, ada latihan tersendiri dulu yang harus dilakukan. Jun Ko menerapkan program pole gym, bagi Anda yang belum pernah melakukan pole dance dan tertarik mencoba pertamakalinya.

"Pole gym itu adalah program yang bisa melatih mereka dulu sebelum pole dancing untuk mengencangkan otot, kayak push-up, angkat beban bisep, jadi biar mereka kuat dulu, bisa lebih prepare untuk pole dancing," urainya.

Liza pun mengeluarkan pernyataan yang sama dengan Jun Ko. Menurutnya pole dance tidak mudah diikuti orang awam. Harus ada pengenalan dulu mulai dari kaki hingga tubuh saat memegang tiang. "Jangan anggap tiang hanya sekadar tiang, harus diresapi bahwa ini partner Anda, seakan-akan sedang bermesraan dengan seseorang," jelasnya.

(ays/eny)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads