Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network

Riset: Mencoba Baju Renang Bisa Picu Stres & Bad Mood

Eya Ekasari - wolipop
Rabu, 25 Apr 2012 08:09 WIB

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Dok. Thinkstock
Jakarta -

Apakah Anda pernah merasa ketika sedang mencoba baju renang dan seketika merasa bad mood? Jika ya, Anda tidak sendirian. Menurut riset, berbelanja baju renang bisa merusak suasana hati wanita.

Membayangkan dan melihat diri sendiri mengenakan baju renang dapat meningkatkan 'self-objectification'. Istilah yang digunakan oleh psikolog untuk menjelaskan perilaku seseorang yang lebih memikirkan pendapat orang lain dan mengabaikan pendapat diri sendiri.

"Self-objectification memiliki berbagai konsekuensi negatif --selalu khawatir dengan bagaimana Anda melihat, merasa mau terhadap tubuh sendiri dan terkait pada gangguan makanan serta depresi," ujar salah satu peneliti Marika Tiggemann, seorang psikolog di Flinders University, Australia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam penelitiannya, Marika Tiggemann menguji 120 wanita yang belum lulus kuliah dengan cara membaca skenario dan berimajinasi di dalamnya. Setelah itu, para peserta penelitian diminta untuk mengisi kuesioner yang dirancang untuk mengukur suasana hati serta perasaan mengenai tubuh mereka.

Pada skenario pertama, para wanita diminta untuk membayangkan diri mereka ketika mencoba baju renang di dalam ruang ganti. Dalam skenario kedua, para wanita diminta membayangkan diri mengenakan baju renang sambil berjalan di pantai. Dua skenario lainnya juga memiliki background sama, hanya saja para wanita diminta membayangkan diri mereka dalam balutan celana jeans.

Hasilnya, membayangkan diri mengenakan baju renang dapat membuat wanita merasa buruk terhadap bentuk tubuh mereka ketimbang saat memakai jeans. Yang lebih mengejutkannya, wanita akan merasa depresi mengenakan baju renang tak hanya ketika berada di area publik seperti pantai, tetapi juga saat mencobanya di ruang ganti. Menurut Tiggemann, adanya hasil tersebut menekankan bahwa 'self-objectification' benar-benar merupakan proses internal.

"Kehadiran fisik pengamat jelas tidak perlu. Lebih khusus, ruang ganti pakaian di sebuah toko cenderung memiliki fitur 'self-objectification', misalnya cermin besar dan pencahayaan yang terang. Sehingga membuat wanita terus mengevaluasi tubuh mereka," jelas Tiggemann, seperti yang dikutip dari Huffingtonpost.

Walau membahayakan, self-objectification bukan tidak bisa dicegah. Sebagai rekomendasi, Tiggemann menyarankan untuk lebih sering menghindari cermin, tidak membandingkan diri dengan orang lain dan fokus pada fungsi dari tubuh, bukan penampilan.

(eya/hst)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Artikel Fokus Selanjutnya
Artikel Terkait
Detiknetwork
Hide Ads