Kontroversi Batik Aime Leon Dore dan 'Dosa' Brand Internasional yang Berulang
Belum cukup dengan perang yang sedang terjadi di Timur Tengah, orang Indonesia lagi-lagi dibuat geram oleh (brand) Amerika Serikat. Kali ini, bukan karena masalah geopolitik, melainkan menyangkut batik sebagai warisan budaya.
Baru-baru ini, Aime Leon Dore (ALD), sebuah jenama fashion yang berbasis di New York City, menjadi bulan-bulanan netizen Indonesia karena menjual kemeja bermotif batik.
Masalahnya, ALD menamai produk tersebut 'Printed Abstract Shirt'. Dalam deskripsi detail produk di situs resmi, tertulis 'made in India' yang menyatakan kemeja itu dibuat di India.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kendati demikian, sulit untuk membantah kemiripannya dengan kemeja batik tambal khas Yogyakarta.
Kemeja yang menyerupai batik di koleksi ALD Spring-Summer 2026. (Foto: Dok. Aime Leon Dore) |
"'Printed Abstract Shirt' 💀 you gotta be kidding me," demikian salah satu bunyi komentar di unggahan Instagram ALD yang menyertakan kemeja dari koleksi Spring-Summer 2026 itu.
Foto tersebut menampilkan model pria kulit hitam memakai kemeja batik sebagai luaran jaket. Permainan gaya layering yang menarik, tapi 'dosa' ALD terlalu besar untuk dimaafkan.
Setelah 'dirujak' di media sosial, jenama yang didirikan Teddy Santis pada 2014 ini memang akhirnya mengganti nama produk tersebut sebagai 'Batik Inspired Print Shirt'. Namun, menurut penulis dan konsultan bisnis Lynda Ibrahim, itu saja tidak cukup.
"Harusnya tetap ditulis 'Indonesian batik print' dan dibarengi permintaan maaf terbuka. Akuilah telah berbuat salah," katanya kepada Wolipop belum lama ini.
(Foto: Dok. Aime Leon Dore) |
Batik yang merupakan seni menggoreskan canting berisi malam di atas kain telah diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) sejak 2009.
Organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan, itu bahkan secara spesifik menyebutnya 'Indonesian Batik' sebagai pembeda dari teknik serupa yang ditemui di negara-negara Afrika atau Asia lainnya.
Diungkapkan Lynda, kekeliruan tersebut bisa saja terjadi lantara pihak ALD memang kurang wawasan tentang batik. Kemungkinan terburuk adalah cultural appropriation dan cultural erasure, atau genosida versi budaya.
Sungguh sangat disayangkan, label sekelas ALD yang pernah berkolaborasi dengan New Balance dan North Face, serta mendapat suntikan dana dari LVMH, induk perusahaan Louis Vuitton dan Dior, melakukan kesalahan sefatal ini di tengah kecanggihan teknologi yang dapat dimanfaatkan dalam hal riset dan verifikasi.
"Ekspetasi saya, mereka harusnya jauh lebih baik dalam mengetahui ini. Mau itu mereka dimiliki LVMH atau tidak. Jaman sekarang banyak search engine untuk visual. Sejatinya bisa dicek dulu motif itu dari mana," tambah Lynda yang pernah terlibat sebagai periset dalam pembuatan dokumenter Kebaya Gaya Nusantara yang dirilis Mediacorp Singapore pada 2023 itu.
Seperti deja vu, Lynda teringat kembali pada salah satu koleksi blus merek Inggris Marks & Spencer 11 tahun lalu yang bermotif batik megamendung tapi tanpa akreditasi dan justru diklaim buatan Turki. Desainer AS Diane von Furstenberg pernah pula meluncurkan terusan lilit ikonisnya dalam motif batik. "Ditulis di deskripsi asalnya, tapi juga bukan buatan Indonesia," ujar Lynda.
Tidak dibuat di Indonesia, artinya perajin batik kita yang telah susah payah melestarikan budaya ini tidak ikut menikmati keuntungan materil yang dikantongi oleh para brand tersebut.
Di situs ALD, 'Batik Inspired Print Shirt' itu masih tersedia seharga US$ 225 atau Rp 3,8 juta.
Belajar dari Prada yang sempat dituduh mencuri desain sendal tradisional India, ALD semestinya harus melayangkan permohonan maaf, lalu merangkul perajin batik sesungguhnya.
(dtg/dtg)














































