Makna Negatif di Balik Nama Gamis Bini Orang yang Jadi Tren Baju Lebaran 2026
Gamis Bini Orang hingga Gamis Kebanggaan Mertua mewarnai tren baju Lebaran 2026. Di balik nama-nama yang terkesan jenaka itu, tanpa disadari tersirat makna yang mungkin mendiskreditkan perempuan.
"Yang perlu dikhawatirkan rasanya adalah penamaan sejumlah istilah yang misoginis," ungkap Dosen Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia Asri Saraswati kepada Wolipop dalam wawancara lewat surat elektronik baru-baru ini.
Menurutnya, penamaan tersebut bisa dimaknai sebagai karakter perempuan yang kerap bersaing satu sama lain untuk menarik perhatian orang lain.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Penggunaan nama-nama ini juga berpotensi disalahartikan, hingga seakan mendorong perempuan untuk berpakaian demi mengesankan orang lain dan bukan untuk kebahagiaan dan ekspresinya sendiri," terang akademisi yang topik penelitiannya kerap mengeksplorasi hubungan antara fashion dan identitas dalam konteks global ini.
Dari segi desain dan material, baju yang digadang-gadang sebagai tren Lebaran 2026 itu tak berbeda jauh dari koleksi modest wear yang sudah ada.
Koleksi Gamis Bini Orang dipajang di salah satu kios di Pasar Tanah Abang baru-baru ini. (Foto: Gresnia/Wolipop) |
Seperti diungkapkan desainer Denny Wirawan, nama tersebut hanyalah sebuah strategi pemasaran demi menarik minat pembeli. Terbukti ampuh, banyak orang yang memburunya di tempat-tempat seperti Pasar Tanah Abang dan Thamrin City.
"It's a trick. Mungkin di era media sosial, orang lebih mudah terpanggil dengan gimik. Nama baju tersebut juga semakin mudah tersebar lewat media sosial sampai akhirnya viral," tutur Denny yang dihubungi Wolipop secara terpisah.
Asri pun sepakat. Nama tersebut mungkin saja merefleksikan sesuatu yang negatif dari budaya kita, tapi di sisi lain merefleksikan pula penggunaan bahasa yang kreatif.
"Dengan beberapa kata yang catchy, sejumlah makna tersampaikan sekaligus. Saat penjualan baju banyak dilakukan lewat platform seperti TikTok dan Shopee Live, penamaan ini jadi bermanfaat karena penjual bisa menggambarkan pakaian secara singkat dan cepat yang bisa langsung dipahami calon konsumen," tambahnya.
Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, kembali dipadati warga yang berburu berbagai kebutuhan busana Lebaran lebih awal. Sabtu (7/3/2026), lorong-lorong Blok F terlihat ramai sejak pagi, dengan pengunjung datang dari berbagai wilayah Jabodetabek untuk mencari pakaian dengan harga grosir yang relatif lebih terjangkau dibandingkan pusat perbelanjaan lain. (Foto: Pradita Utama/detikFoto) |
Melihat antusiasme pembeli, Asri pun memandang bagaimana baju dapat berperan lebih dari sekadar penutup tubuh. Pakaian secara tidak langsung menjelma sebagai medium untuk menyematkan perasaan dan emosi.
"Misal keinginan seseorang untuk diterima oleh keluarga mertua, atau keinginan mencapai kemapanan selayaknya 'sultan' seakan bisa dicapai melalui baju. Pakaian dengan demikian menjadi semacam medium untuk menautkan harapan," kata pengajar Program Studi Inggris itu.
Sekali lagi, nama-mana yang terkesan humoris itu turut memperlihatkan ekspresi humor masyarakat di tengah kondisi ekonomi yang tak tentu. Yes, in this economy...
(dtg/dtg)














































