ADVERTISEMENT

Cerita Pendiri Sukkha Citta, Tinggalkan World Bank Demi Bantu Perajin Kain

Daniel Ngantung - wolipop Kamis, 19 Jan 2023 13:53 WIB
Liputan Sukkhacitta x DBS Denica Riadini-Flesch, pendiri jenama mode ramah lingkungan Sukkha Citta. (Foto: Daniel Ngantung/detikcom)
Jakarta -

Ada rasa bangga tersendiri saat memakai batik atau kain Nusantara lainnya. Namun, pernahkah terbesit di benak kita soal nasib para perajin yang kebanyakan masih hidup di bawah garis kemiskinan?

Pertanyaan tersebut terus membayangi benak Denica Riadini-Flesch saat masih bekerja di Bank Dunia pada medio 2011-2012. Bekerja sebagai konsultan program sosial Bank Dunia, Denica kerap ditugaskan ke desa-desa untuk melakukan riset terkait pemberantasan kemiskinan.

Saat turun ke lapangan, ia melihat langsung bagaimana para perajin kain dan pekerja pakaian yang umumnya ibu-ibu 'berumur' tidak diupah secara etis. Situasi tersebut lantas menggugah hati Denica dan memotivasinya untuk mendirikan Sukkha Citta, sebuah jenama mode ramah lingkungan yang berkonsep social entrepreneurship dan mengusung pemberdayaan perempuan, pada 2016.

Denica merasa miris saat menemukan sebuah fakta di balik industri mode Indonesia. "Yang sangat menyedihkan, 98 persen ibu-ibu yang bikin baju kita mendapat bayaran yang masih di bawah UMR," ungkap Denica di jumpa pers DBS Foundation, Rabu (18/1/2023).

Liputan Sukkhacitta x DBSDenica Riadini-Flesch mempresentasikan profil Sukkha Citta, jenama ramah lingkungan yang didirikannya pada 2016 untuk membantu para perempuan perajin kain dan pembuat pakaian yang tidak diupah secara layak. (Foto: Daniel Ngantung/detikcom)

Masalah lain, lanjut Denica, adalah bagaimana proses pembuatan pakaian yang merusak lingkungan. Pemakaian warna sintesis untuk baju berujung limbah yang mencemari sungai-sungai yang juga merupakan salah satu sumber air bagi masyarakat sekitar. "Apa yang kita pakai menyumbang 20 persen polusi di dunia," tambah Denica.

Lewat Sukkha Citta, ia ingin kembali mengangkat pewarnaan alami yang sejatinya sudah lumrah dipakai di Indonesia sejak zaman nenek moyang. Bicara soal sustainable fashion juga tak lepas dari isu jejak karbon. Sudah menjadi komitmen Denica pua bersama Sukkha Citta untuk mencari solusi permasalahan tersebut.

Walau demikian diakui Denica, mengubah situasi tak segampang membalikkan telapak tangan. Ia harus menelusuri permasalahan tersebut hingga ke akarnya agar dapat membawa perubahan yang positif secara menyeluruh.

"Kalau tidak ditelusuri, kita tidak akan bisa membuat dampak yang nyata untuk mengubah supply chain dari hulu ke hilir," kata Denica yang turut didukung oleh suaminya, Bertram Flesch, yang menjabat sebagai chief operating officer (COO).


Mencari Kebahagiaan dalam Kesederhanaan


Kunjungan Denica ke desa-desa juga membuka mata tentang makna hidup. Melihat kesederhanaan masyarakat desa, Denica menemukan arti baru tentang kebahagiaan.

Saat masih bekerja kantoran, ia merasa definisi hidup yang bahagia hanya seputaran kesuksesan yang iraih dan harta yang dimiliki. Namun, pandangan tersebut berubah saat ia melihat masyarakat desa tetap bisa bahagia meski hidup di tengah keterbatasan.

Itu pula yang menginspirasi Denica dalam memilih nama Sukkha Citta yang berarti bahagia. "Ejaannya kami ambil dari bahasa Sansekerta, karena kami ingin kembali ke akar. Nama ini diharapkan dapat mengingatkan kembali bahwa kita bisa bahagia saat hidup kita memberi makna bagi orang lain," kata alumnus Erasmus Universiteit Rotterdam ini.

Mendirikan Sukkha Citta terbilang nekat karena Denica tidak memiliki pengetahuan soal desain mode. Ia pun memulai perjalanannya sebagai social enterpreneur dengan menggandeng tiga perajin.

[Gambas:Instagram]



Sukkhacitta menawarkan koleksi busana siap pakai yang dihiasi motif batik kontemporer. Tim desainnya yang saat ini terdiri dari tiga orang selalu menggali inspirasi dari motif-motif batik yang terancam punah di daerah asal perajin yang Sukkhacitta gandeng.

Salah satunya motif Seribu Bunga di batik lawas karya perajin Gesikharjo, Jawa Timur. "Anak-anak perempuan di sana belajar membatik dengan motif ini. Semoga dengan dipakainya motif bunga ini lagi, ibu-ibu perajin bisa 'mekar' lagi untuk mendapat kehidupan yang lebih baik," ungkap Denica.

Dari segi potongan busana, Sukkha Chita mengedepankan konsep busana yang easy to wear dengan mengeksplorasi siluet busana tradisional seperti kebaya dan baju kurung. Di jajaran busana pria, siluet longgar yang nyaman mendominasi pilihan kemeja hingga celana.

Adapun pilihan warna alami menjadi daya tarik tersendiri. Biru pekat berasal dari daun indigo, kuning dari buah jalawe, coklat dari kayu mahoni, dan pink dari sampah batang pisang.

"Tanaman tersebut harus dipasok dari sumber yang bertanggung jawab agar tidak terjadi deforestasi. Oleh karena itu, kami juga berkomitmen untuk menanam satu pohon untuk setiap satu pakaian Sukkha Citta yang terjual," ungkap Denica.


Kapas Regeneratif

Berpegang pada filosofi 'Farm-to-Closet', Sukkha Citta turut memberdayakan para petani kapas yang selama ini kurang mendapat perhatian. Tanaman kapas menjadi sumber yang esensial dalam pembuatan benang berserat alami. Namun, fakta berkata bahwa Indonesia justru mengimpor material mentah kapas.

Denica melihatnya sebagai sebuah keironisan karena Indonesia dulu merupakan salah satu eksportir kapas terbesar di dunia. "Terbukti dari warisan leluhur kita yang berupa kain-kain tradisional," terang Denica.

USA, Cotton, Hand, Crop - Plant, HarvestingIlustrasi tanaman kapas (Foto: Getty Images/iStockphoto)

Praktik pembudidayaan kapas yang mengancam kelestarian alam menjadi masalah pelik lainnya bagi Denica. Kapas kerap mendapat julukan 'tanaman terkotor' di dunia karena petani lebih suka menggunakan pestisida dan herbisida dalam memproduksi tanaman kapas.

Sebagai solusi, tim Sukkha Citta membuat program ' Mama Kapas' yang fokus pada riset dan pengembangan kapas regeneratif dengan mengadopsi teknik penanaman 'tumpang sari'.

"Kapas tidak boleh ditanam sendiri, tapi disertai sekitar 20 tanaman lainnya, agar saling bersimbiosis-mutualisme. Jadi kapas tidak hanya organik, tapi juga regeneratif," jelas Denica.

Di luar fungsinya sebagai bahan utama benang, kapas terbukti secara ilmiah dapat menyerap gas karbon dioksida. Menurutnya, proyek ini bisa secara efektif menangkal isu jejak karbon karena hampir 70 persen jejak karbon dihasilkan dalam tahap awal pembuatan pakaian, dari kapas hingga menjadi benang.

Baru enam tahun eksis, Sukkha Citta mengklaim telah berhasil mengurangi jejak karbon dengan memangkas 25 metrik ton emisi gas rumah kaca serta mencegah lebih dari satu juta limbah air dengan menggunakan 100% pewarna alami untuk tiap pakaiannya.

Di luar itu, Sukkha Citta juga telah menjangkau 1.400 anggota keluarga dan memperbaiki kesejahteraan rumah tangga dengan meningkatkan pendapatan para ibu hingga 60 persen.

Komitmen dan pencapaian Sukkha Citta dalam pemberdayaan perempuan dengan pendekatan yang menitik-beratkan pada upaya pelestarian lingkungan mendapat apresiasi dari lembaga swasta. Salah satunya, Bank DBS Indonesia yang melalui DBS Foundation memberi bantuan berupa dana hibah.

Liputan Sukkhacitta x DBSLiputan Sukkhacitta x DBS Foto: Daniel Ngantung/detikcom

Sukkha Chitta menjadi satu dari 23 wirausaha sosial di kawasan Asia yang memenangkan DBS Foundation Grant Programme 2022. Sekitar 900 aplikan berpartisipasi dalam kompetisi pendanaan ini. "Tahun ini, DBS Foundation memberikan dana setotal SGD 3 juta yang dibagi kepada 23 penerima hibah," kata VP Communication & CSR PT Bank DBS Indonesia Riany Agustina Warganegara.

Dana hibah tersebut akan digunakan Sukkha Citta untuk mengembangkan Mama Kapas. "Setelah Jawa Timur, kami ingin mengekspansi riset kapas ke kawasan Timur, seperti Bali, NTB, dan NTT," ujar Denica.

Pencapaian tersebut melengkapi prestasi Sukkha Citta sebagai penerima sertifikasi B Corp, standar bagi sebuah perusahaan yang terbukti menjalankan usahanya secara etis baik terhadap pekerja, lingkungan, dan komunitas di sekitarnya.

"Model bisnis farm to closet kami mendapat pengakuan sebagai sesuatu yang dapat mengubah dunia," kata Denica.



Simak Video "Wanita Indonesia Ini Konsisten Kenalkan Batik ke Dunia"
[Gambas:Video 20detik]
(dtg/dtg)