ADVERTISEMENT

Intimate Interview

16 Tahun di Jepang, Desainer Nila Baharuddin Siap Bersaing di Tanah Air

Daniel Ngantung - wolipop Kamis, 24 Nov 2022 15:30 WIB
Koleksi Nila Baharuddin memperagakan Busana Ala Jepang di Jakarta Nila Baharuddin saat mempresentasikan koleksi Spring-Summer 2023 yang bertajuk 'Watashi No Tabi'. (Foto: Andhika Prasetia/ Detikcom)
Jakarta -

Dengan kariernya yang masih seumur jagung sebagai desainer, nama Nila Baharuddin mungkin masih terdengar asing di Indonesia. Setelah 16 tahun hidup di Jepang, sambil menimba ilmu desain pakaian, ia pantas diperhitungkan di tengah sengitnya persaingan di industri mode Tanah Air. Koleksi terbaru bertajuk 'Watashi No Tabi' memperkuat eksistensinya.

Beberapa jam sebelum trunk show koleksi tersebut, Nila Baharuddin berbincang dengan Wolipop di butiknya di kawasan Brawijaya, Jakarta Selatan.

Sulit untuk tidak teralihkan oleh penampilannya yang nyentrik dengan rambut bob merah keunguan. "Mungkin orang-orang suka anggap aku ibu-ibu yang funky," katanya seraya memvalidasi gayanya.

Nila menuturkan, karakter gayanya tak lepas dari pangaruh budaya Jepang, negara yang sempat menjadi rumahnya selama 16 tahun.

Kehidupan Nila di Negeri Sakura bermula saat ayahnya yang bekerja sebagai pegawai negeri ditugaskan ke Negeri Sakura. Saat orangtuanya pindah, Nila masih di Jakarta karena harus menyelesaikan masa SMA-nya yang memasuki tahun akhir.

Lulus SMA, Nila memutuskan untuk bertahan di Jakarta dan melanjutkan pendidikannya di perguruan tinggi dengan mengambil jurusan Sastra Jepang di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia.

Desainer Nila BaharuddinDesainer Nila Baharuddin di butiknya. (Foto: Daniel Ngantung/detikcom)

"Ayahku dulu sering ketemu rekan bisnisnya yang kebanyakan orang Jepang. Dari situ, aku sesekali dengar percakapan mereka dan jadinya mulai tertarik dengan budaya Jepang," kata perempuan kelahiran Plaju, Sumatera Selatan, ini.

Setahun ia kuliah, keinginan untuk menyusul orangtuanya di Jepang baru terbesit di benak. Ia akhirnya melepaskan kuliahnya di Indonesia dan melanjutkannya di Jepang pada akhir 1980-an.

Namun, pilihannya kali ini fashion design di Sugino Gakuen, Tokyo. Nila sejak kecil ternyata menyimpan ketertarikan pada dunia mode. Masih teringat betul olehnya momen-momen jelang Lebaran semasa SD, ia sudah sibuk menyiapkan baju Lebaran sendiri.

"Kalau diajak seragaman, aku selalu tolak. Maunya tampil beda pakai baju bikinan sendiri. Jadi aku ke tukang jahit langganan ibuku. Bayangin dong, aku masih SD padahal," kenang Nila.

Darah seni juga mengalir kuat di keluarga Nila. Ayahnya berasal dari kalangan sastrawan, sementara ibunya merupakan seniman makrame sekaligus pengagum karya mendiang Ramli, salah satu desainer legendaris Indonesia. Nila semakin jatuh cinta dengan keindahan sebuah kreasi mode saat menemani ibunya belanja koleksi Ramli.

Maka ketika memutuskan untuk mempelajari mode secara akademis, ia mendapat dukungan penuh dari orangtua.

[Gambas:Instagram]



Butuh enam tahun bagi Nila untuk menamatkan pendidikan modenya di sekolah yang juga mencetak desainer besar sekelas Hanae Mori, desainer perempuan Asia pertama yang label couture-nya diakui oleh Fédération française de la couture di Paris, Prancis. Jelang tahun akhir, Nila mewakili kampusnya untuk mengikuti kompetisi desain antar universitas se-Jepang dan keluar sebagai salah satu finalis terbaik.

Pengalaman tersebut sebenarnya sudah bisa menjadi bekal Nila untuk merintis karier sebagai desainer profesional di Indonesia. Namun sekembalinya ke Jakarta pada 2005, ia kaget dengan iklim persaingan yang didominasi oleh pemain yang kurang mengedepankan kualitas.

"Mungkin karena aku terbiasa dengan desain Jepang yang serba detail, jadi kelihatan banget kalau ada baju yang kusut, benang yang keluar," ungkapnya.

Menurutnya, preferensi konsumen di Indonesia kala itu lebih condong ke status popularitas sang desainer ketimbang kualitas yang ditawarkan. Ia pun merasa belum siap untuk ikut bersaing. Ditambah lagi kondisi kesehatan ayahnya kian menurunkan sehingga membutuhkan perhatian lebih dari Nila.

[Gambas:Instagram]



Sebagai 'pelarian', ia mengisi waktu luangnya dengan mendalami ilmu desain interior dan visual merchandising. Secara khusus, ia mengambil gelar master dari kedua bidang tersebut di The Art Institute of Seattle, Seattle, Amerika Serikat.

Bisnis kriya, pernak-pernik dan interior digeluti Nila selama beberapa tahun sampai akhirnya datang sejumlah penawaran yang memotivasinya untuk berbalik ke fashion. Beberapa di antaranya undangan untuk memamerkan karya di sejumlah ajang internasional seperti Paris Fashion Week dan London Fashion Week. "Agensi yang mengundang terafiliasi dengan pihak resmi penyelenggara pekan mode tersebut," kata Nila meyankinkan.

Periode 2018 - 2019 menandai kembalinya Nila ke panggung mode. Untuk koleksi yang dipresentasikan di luar negeri, ia mencoba mengangkat keindahan wastra Nusantara, khususnya songket Palembang dari tanah kelahirannya, dalam garis desain yang kontemporer, kaya detail, dengan sentuhan avant-garde.

Diakui Nila, ada buyers yang tertarik dengan koleksinya. Sayang, ia tak mampu memenuhi permintaan karena terkendala pasokan wastra. "Pricing point juga terlalu mahal kalau pakai kain-kain tradisional, jadi aku perlahan mulai rebranding," tuturnya.

Koleksi 'Watashi No Tabi'

Koleksi terbaru Nila yang bertajuk 'Watashi No Tabi' kembali mencerminkan strateginya untuk mengubah citra, dari desainer yang tadinya banyak bermain dengan kain tradisional menjadi sebaliknya. Kendati demikian ia tetap menyisipkan kain jumputan Palembang sebagai aksen untuk koleksi Spring/Summer 2023 yang terdiri dari 20 look ini.

Lewat 'Watashi No Tabi' yang berarti 'perjalanan' dalam bahasa Jepang, Nila bernostalgia dengan hari-harinya berkomuter di Tokyo. Suasana stasiun Shibuya yang sibuk, orang-orang lalu-lalang dan kekagumannya pada selera gaya warga Tokyo mengilhami Nila dalam proses kreatifnya.

Koleksi Nila Baharuddin memperagakan Busana Ala Jepang di JakartaKoleksi Spring-Summer 2023 persembahan desainer Nila Baharuddin yang bertajuk 'Watashi No Tabi'. (Foto: Andhika Prasetia/ Detikcom)

"Sumber inspirasinya datang dari perjalanan aku ke Tokyo naik kereta saat masih kuliah. Perilaku dan karakter orang-orang yang aku lihat di kereta menarik buat diangkat. Termasuk gaya busana mereka. Semuanya fashionable. Jadi kalau mau tahu apa yang sedang tren, bisa lihat gaya mereka," katanya.

Inspirasi tersebut ia tuangkan di atas kain dengan motif ciptaannya sendiri. Hadir sebuah blouse bersiluet A yang dihiasi motif gantungan tangan di gerbong kereta. Bagian keliman tangan dibuat detail mengerut yang unik. Melengkapi look tersebut, sebuah celana 3/4 bermotif garis.

Koleksi Nila Baharuddin memperagakan Busana Ala Jepang di JakartaKoleksi Spring-Summer 2023 persembahan desainer Nila Baharuddin yang bertajuk 'Watashi No Tabi'. (Foto: Andhika Prasetia/ Detikcom)

"Orang Jepang terobsesi dengan motif garis-garis dan kotak-kotak karena gampang dipadu-padankan dan bisa menjadi corak baru," tambah Nila yang juga mengeksplor material seperti jacquard, satin, dan organdi.

Terusan bervolume, perpaduan corak yang terasa jenaka, styling busana yang mengedepankan layering, desain yang struktural, dan sentuhan makrame, menjadi daya tarik tersendiri dari koleksi ini. Dengan kejelihannya pada detail, Nila Baharuddin siap beradu di ranah mode Indonesia.

Koleksi Nila Baharuddin memperagakan Busana Ala Jepang di JakartaNila Baharuddin bersama para modelnya. (Foto: Andhika Prasetia/ Detikcom)


Simak Video "Pemain Jepang Takuma Asano Disebut Netizen Mirip Komika David Nurbianto"
[Gambas:Video 20detik]
(dtg/dtg)