ADVERTISEMENT

Terpikat Tenun Sambas, Kain Karya Perajin RI yang 'Dibajak' Negara Sebelah

Daniel Ngantung - wolipop Selasa, 06 Sep 2022 15:02 WIB
Koleksi Liliana Lim di JF3 Fashion Festival 2022 Peragaan busana 'Jalinan Lungsi Pakan' persembahan Cita Tenun Indonesia (CTI) di JF3 Fashion Festival 2022. Liliana Lim, desainer mitra CTI, menampilkan busana dari tenun songket lungsi karya penenun Sambas. (Foto: Mohammad Abduh/ Wolipop)
Jakarta -

Satu hari menjelang berakhirnya JF3 Fashion Festival 2022, Senin (5/9/2022), keindahan dari ragam wastra Nusantara masih menggaung nyata. Salah satunya di panggung 'Jalinan Lungsi Pakan' persembahan Cita Tenun Indonesia (CTI).

Memasuki tahun ke-10 kolaborasinya dengan JF3, CTI masih berkomitmen untuk melestarikan dan memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia yang tersirat dalam tenunan perajin daerah kepada khalayak dengan menggandeng sejumlah desainer.

Jalinan Lungsi Pakan Cita Tenun Indonesia (CTI) di JF3 Fashion Festival 2022. Liliana Lim menampilkan busana dari tenun songket lungsi karya penenun Sambas.Jalinan Lungsi Pakan Cita Tenun Indonesia (CTI) di JF3 Fashion Festival 2022. Liliana Lim menampilkan busana dari tenun songket lungsi karya penenun Sambas. (Foto: Dok. JF3/Umar Fauzy)

Salah satu kain yang menjadi highlight untuk perhelatan tahun ini adalah tenun songket lungsi dari Sambas, Kalimantan Barat. Desainer Liliana Lim yang digandeng untuk mengolah kain ini.

Tentu ini bukan kali pertama tenun khas Sambas diangkat oleh CTI di JF3. Menurut Ketua Dewan Pengurus CTI Sjamsidar Isa, ada urgensi untuk terus memberdayakan para perajin tenun di Sambas agar kreasi mereka tidak diklaim negara tetangga mengingat letak mereka yang berada di perbatasan.

"Karya mereka lebih terkenal di Serawak (Malaysia) dan Brunei Darussalam. Perajin Sambas sudah lama mereka diambil sebagai pekerja tenun di sana," kata Tjami, demikian ia akrab disapa, saat jumpa pers sebelum peragaan.

Kondisi tersebut sudah berlangsung saat ia dan CTI membina perajin tenun Sambas 12 tahun lalu. Tjami mengatakan, para perajin tidak punya akses pemasaran selain ke kedua negara tersebut.

Situasi tersebut lantas dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang ingin mengambil keuntunganbesar dengan mengupahi mereka seminimal mungkin.

"Para perajin di Sambas memang dapat fixed salary dari sana. Tapi mereka disuruh menenun selama 15 jam. Itu kan tidak manusiawi," tegas Tjami.

Koleksi Liliana Lim di JF3 Fashion Festival 2022Foto: Mohammad Abduh/ Wolipop

Akses untuk mendapatkan bahan baku juga menjadi kendala lain. Saat ini, tim CTI bersama Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia sedang melakukan pendataan di beberapa daerah, Sambas, untuk mengetahui lebih lanjut tantangan yang dihadapi para perajin. Di Sambas sendiri, sudah 1.000 perajin yang terdata.

"Selama ini kita suka marah kalau negara lain mengklaim warisan budaya kita. Tapi kita sendiri tidak punya data yang menyatakan bahwa itu buatan perajin kita," kata Tjami.

Pesona Tenun Sambas

Masyarakat lokal menyebutnya kain lunggi. Didominasi motif tanaman yang tumbuh di sekitar sungai di Sambas, tenun songket lungsi ini menawarkan keistimewaan yang berbeda dari tenun lainnya.

"Karakternya terasa lebih feminin. Kalau songket Palembang kesannya lebih gagah," ungkap Tjami. Ia menambahkan, kain tersebut tidak memiliki peruntukan tertentu, misal untuk seremoni kelahiran atau perkawinan sehingga aman untuk segala kesempatan.

Koleksi Liliana Lim di JF3 Fashion Festival 2022Foto: Mohammad Abduh/ Wolipop

Namun, daya tarik utama dari kain ini terletak pada teknik pembuatannya. Para perajin lokal mengenalnya sebagai cual, yakni teknik tenun ikat ke lungsi.

"Ini satu-satunya di Indonesia. Biasanya, tenun ikat kombinasinya pakan, seperti kain endek di Bali," lanjut Tjami.

Lungsi adalah benang lurus ke depan dalam kain tenun, sedangkan benang kiri ke kanan disebut pakan. Menurut Tjami, teknik cual di kemungkinan ada di Sambas karena pengaruh kebudayaan Dayak.

Reinterpretasi Liliana Lim

Di tangan Lilianan Lim, kain tenun ini menjelma dalam rentetan cocktail dress yang elegan. 'Reinterpreted', demikian ia menamai koleksi yang terdiri dari delapan set busana (looks) ini.

Pemilihan nama tersebut menyampaikan gagasan Liliana dalam menafsirkan ulang cara pemakaian tenun sambas. "Tenun ini biasanya dipakai sebagai kain panjang. Lewat koleksi ini, saya menawarkan opsi yang lebih modern," kata desainer anggota Ikatan Perancang Mode Indonesia (IPMI) ini.

Koleksi Liliana Lim di JF3 Fashion Festival 2022 Foto: Mohammad Abduh/ Wolipop

Ia lantas memadukannya dengan material seperti duchess dan tweed untuk membuat koleksi dengan garis desain yang klasik ini. Hadir atasan tenun Sambas bernuansa biru cerah dalam potongan crop-top yang berpadu dengan celana kulot keemasan, lalu sheath dress yang elegan, hingga gaun bersiluet ball-gown untuk tampilan yang lebih formal.

Koleksi ini sekali lagi memperlihatkan ragam tenun songket lungsi dari warna-warna natural hingga emas dan perak. Bikin terpikat!



Simak Video "Melihat Proses Produksi Kain Tenun Majalaya Secara Manual"
[Gambas:Video 20detik]
(dtg/dtg)