ADVERTISEMENT

5 Beda Gaya Pemakai Tas Branded Hermes Hingga Coach, Kamu Termasuk yang Mana?

Vina Oktiani - wolipop Kamis, 01 Sep 2022 19:30 WIB
ilustrasi tas Foto: dok. iStock
Jakarta -

Mengoleksi tas-tas branded dengan harga yang tidak murah menjadi hobi beberapa orang, khususnya kaum hawa. Tak dapat dipungkiri jika mengenakan tas-tas branded akan membawa kebanggaan tersendiri sekaligus bisa menunjang penampilan pemakainya.

Edha Clarissa selaku pemilik Lavergne yang menjual dan menyewakan tas-tas branded menggandeng kedua rekannya, Joy Roesma dan Nadia Mulya untuk membuat sebuah buku cerita fiksi sekaligus edukasi mengenai tas-tas branded. Dalam buku berjudul Livia Garnetta yang baru dirilis, Clarissa membahas beberapa fakta mengenai tas branded yang mungkin belum diketahui oleh banyak orang.

Dalam buku tersebut disebutkan bahwa terdapat dua 'aliran' tas bermerek. Tahukah kamu apa saja aliran tersebut?

- Pertama, ada European brand yang memiliki kesan lebih luks dan mahal, seperti Louis Vuitton, Hermes, Christian Dior, Gucci, Prada, Celine, dan Loewe.

- Kedua, ada American brand yang cenderung memiliki harga yang lebih terjangkau, seperti Michael Kors, Kate Spade, Tory Burch, Coach, dan Marc Jacobs.

Jika diperhatikan, para pemakai tas branded tersebut juga memiliki gayanya yang berbeda-beda. Di dalam buku berjudul Livia Garnetta itu disebutkan bahwa terdapat 5 gaya pemakai tas branded, kamu termasuk yang mana?

The Lady

Biasanya mereka ini tipe wanita yang tidak neko- neko, berkelas, dan setia pada brand tertentu, yaitu brand dari rumah mode ternama dengan sejarah panjang. Sementara untuk model, pastilah yang klasik dan everlasting, sama seperti pilihan busana dan perhiasannya. Jangan heran kalau mereka memiliki tas vintage dalam kondisi excellent disertai cerita menarik di balik kulit matangnya. Para "ladies" ini akan menjauhi model tas yang ribet dan warna mencolok. Mereka sudah lama mapan dan tidak perlu membuktikan diri dengan memaksa mengikuti tren. If they like it, they buy it. Diskon, new arrival, gimmick marketing umumnya tidak akan mempan untuk mereka. Mereka juga bukan tipe wanita yang suka menjual koleksi tas. Bagi mereka, tas adalah their investment pieces. Untuk selamanya, karena prioritas mereka adalah kualitas, bukan tren.

The Trendsetter dan Her Fashionable Followers

Inilah duet maut. Si trendsetter adalah tipe wanita yang fashion conscious, selalu terdepan dan sangat gercep (gerak cepat) dengan perkembangan fashion terkini. Mereka ini akrab dengan client advisor di butik branded high end atau trusted reseller, sehingga memiliki akses terhadap tas-tas yang baru dirilis, dan kemudian membuat tas ini menjadi booming karena pengaruh mereka diikuti pengikut setianya.

Para influencer, selebritas, dan customer VVIP umumnya adalah kaum trendsetter. Namun, yang membuat tas-tas tersebut menjadi naik daun adalah geng fashionable follower yang jumlahnya masif. Umumnya harga tas-tas yang meledak ini tergolong masih bersahabat.

The Anti Mainstream

Umumnya mereka adalah wanita yang sangat percaya diri dan senang tampil unik. Bagi mereka, haram hukumnya mengonsumsi barang fashion sejuta umat. Tampil bak seorang lady dengan rambut blow natural disasak, bandage dress, dan sepatu stiletto is not their cup of tea. Yang mereka inginkan adalah style out of the box seperti mengikuti aliran Harajuku atau Brit Pop. Pilihan tas mereka, of course, yang eksklusif. Entah limited edition dari brand yang masih terbilang populer di kalangan tertentu, kolaborasi dengan seniman, atau brand yang tidak mainstream.

Kalau yang limited edition dengan brand populer, contohnya koleksi Hermes X Yohji Yamamoto atau Louis Vuitton VS Rei Kawakubo atau LV x Frank Gehry. Untuk brand yang tidak terlalu mainstream, seperti yang dijajakan di butik multibrand terpilih, sebut saja Acne Studios, J.W Anderson, Delvaux, dan Thom Browne.

The Brand Minded

Mereka adalah pengusung moto: 'if you got it, flaunt it'. Kebanyakan mereka adalah the new wealthy. Mereka senang memilih tas dan barang fashion yang meneriakkan brand dari head to toe. Barang yang kurang terlihat mereknya, tak sudi mereka beli. Tas dengan motif monogram, motif khas brand tersebut, serta tulisan merek yang terpampang nyata, sudah pasti banyak tersimpan di lemari tas mereka.
Mereka juga lumayan update dengan tren terkini. Mereka ini menjadi kesayangan para sales assistant, karena dengan sedikit bujuk rayu --dan desakan bahwa item tersebut limited serta banyak yang mau-- mereka rela merogoh kantong dalam-dalam, like literally, karena tidak sedikit yang cash keras. Walau kadang orang seperti ini pelit untuk urusan kecil, seperti uang parkir, mereka akan jor-joran spending untuk menunjang penampilan.

The Eclectic

Mereka adalah tipe wanita yang berani bereksperimen dan memiliki karakter playful. Wanita- wanita ini sangat piawai memadu-padankan fashion items sehingga menghasilkan total look standout dan tak terpikirkan sebelumnya, seperti para fashion influencer di media sosial. Mereka tidak segan menggabungkan high end dengan high street, hobi bergaya tabrak lari, dan memilih warna-warna bold untuk barang-barang seasonal, seperti mengawinkan active wear dengan tas exotic leather, namun tetap terlihat cool. Mereka juga hobi hunting ke toko-toko vintage saat liburan ke luar negeri.
Bedanya dengan The Anti Mainstream, mereka justru mengikuti tren seperti The Trendsetter, namunselalu memberikan their own twist sehingga tas seharga puluhan atau ratusan juta sekalipun terlihat tidak mengintimidasi dan bisa masuk ke gaya apa pun.



Simak Video "Selamat! Gelar Putri Pariwisata Indonesia 2022 Jatuh Kepada Tania Saputra "
[Gambas:Video 20detik]
(vio/vio)