ADVERTISEMENT

Liputan Khusus #KebayaGoesToUNESCO

Melihat Sejarah Kebaya Indonesia, Ada Pengaruh Islam dan Barat

Daniel Ngantung - wolipop Jumat, 19 Agu 2022 19:30 WIB
FRANCE - CIRCA 1889:  Paris 1889 Worlds Fair. Javaneses. ND-15433.  (Photo by ND/Roger Viollet via Getty Images) Potret wanita Jawa berkebaya yang dipamerkan di Paris pada akhir 1890-an. (Foto: Roger Viollet via Getty Images/ND)
Jakarta -

Kebaya seperti sudah menjadi identitas perempuan Indonesia. Bukan hanya Jawa, tapi hampir seluruh perempuan di seluruh penjuru Tanah Air memakainya. Jejak kebaya bisa ditelusuri mulai dari pertama kali Islam masuk ke Nusantara.

Kebaya sedang disiapkan untuk menjadi warisan budaya tak benda asli Indonesia di UNESCO. Sebagai bentuk dukungan, muncul tagar Kebaya Goes To UNESCO yang belakangan viral di media sosial.

Pengajuan kebaya awalnya menggunakan jalur multination bersama tiga negara lain seperti Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam. Namun, banyak organisasi pecinta kebaya yang berharap pemerintah Indonesia menominasikan kebaya sebagai warisan budaya asli Indonesia secara mandiri (singlenation) karena banyak bukti sejarah yang menguatkan bahwa kebaya berasal dari Indonesia.

Menurut Dr. Yuliarma, M.Ds, dosen Tata Busana dan Desain Fakultas Pariwisata dan Perhotelan Universitas Negeri Padang, kebaya lahir saat Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-7.

"Mayoritas masyarakat di pulau Jawa memeluk agama Hindu dan Budha. Pakaian yang dipakai memiliki atasan terbuka, disebutnya baju bungkus. Sampai akhirnya Islam muncul, mereka memakai baju yang tertutup, sebutannya baju panjang," ungkap Yuliarma kepada Wolipop baru-baru ini saat menceritakan cikal-bakal kebaya.

Batavian Woman, 1860s-70s. Artist Unknown. (Photo by Heritage Art/Heritage Images via Getty Images)Potret wanita Batavia pada 1860. (Foto: Heritage Images via Getty Images)

Baju tradisional untuk wanita di Sumatra, kata Yuliarma, juga terpengaruh. Siluet baju kurung khas Minangkabau misalnya mengalami penyesuaian dengan tambahan bukaan di bagian depan.

Bukaan di bagian depan yang akhirnya menjadi pakem kebaya. "Selain itu, kebaya juga harus memiliki lengan, panjang atau pendek," tambah Yuliarma yang membuat disertasi tentang desain bordiran Minangkabau.

Model kebaya terus berevolusi mengikuti dinamika budaya dan sosial. Setelah kelahiran kebaya yang dipengaruhi Islam, kolonialisme bangsa Eropa membawa pengaruh baru terhadap cara berkebaya wanita di Indonesia, khususnya Jawa.

(Original Caption) 6/1953-Jakarta, Indonesia- A meeting was organized at the Presidential Palace on the occasion of the commemoration of Ratusan wanita berkebaya saat menghadiri pendeklarasian Hari Kartini di Istana Kepresidenan pada 1953. (Foto: Bettmann Archive/Bettmann)

"(Kebaya Jawa) mengambil ide blus orang Eropa. Makanya kebayanya pendek dan ramping. Sisi kiri dan kanan dirampingkan sehingga sesuai bentuk badan. Sebagai variasi supaya tidak monoton, ditambah selendang," terang Yuliarma.

Blus tersebut berkembang sampai akhirnya kita mengenal kebaya kutubaru, kebaya kartini, dan kebaya encim. Menurut Yuliarma, penyebaran bentuk kebaya Jawa berakhir di kebaya Sunda yang mendapat penambahan kerah dan berbagai macam hiasan di lengan.

Yuliarma juga menyoroti penyebaran kebaya di luar Jawa dan Sumatra. Di Minahasa (Sulawesi Utara) dan Maluku, muncul kebaya noni.

Dengan keunikan estetikanya masing-masing, kebaya memiliki fungsi yang berbeda di setiap daerah. Kebaya bagi masyarakat Minang merupakan penanda seorang wanita telah memasuki masa akil baligh. "Jadi hanya bisa dipakai jika wanita tersebut sudah menikah. Sejumlah masyarakat masih mempertahankan tradisi tersebut," kata Yuliarma.

President General Suharto of Indonesia and his wife Madame Tien Suharto, with Queen Elizabeth II and the Duke of Edinburgh at Buckingham Palace before a State banquet in their honour.   (Photo by PA Images via Getty Images)Presiden Soeharto, didampingi Ibu Tien, menerima undangan jamuan kenegeraan dari Ratu Elizabeth II di Istana Buckingham pada 1979. Ibu Tien tampak berbalut kebaya kutubaru. (Foto: PA Images via Getty Images/PA Images)

Lain lagi di Jawa. Tempo dulu, anak perempuan sudah dibiasakan memakai kebaya. Kebaya pun menjadi pakaian sehari-hari.

Bicara soal kebaya, tentu berkaitan dengan kain tradisional yang dipadankan sebagai bawahan. Yuliarma mengungkapkan, Ibu Tien pernah berupaya mendeklarasikan kebaya Jawa sebagai pakaian nasional dalam sebuah lokakarya yang digelar pada 1983.

Pada kesempatan tersebut, muncul gagasan aturan baku bahwa kebaya harus berpasangan dengan kain batik Jawa yang diwiron (dilipit bersusun). "Kemudian karena setiap daerah memiliki pakaian yang yang berbeda, diputuskan bahwa semua pakaian daerah adalah pakaian nasional yang sudah disederhanakan. Maka untuk kebaya, bagian bawah bisa diganti sarung, songket atau tenun," papar Yuliarma.



Simak Video "Arti Kebaya di Mata Dian Sastrowardoyo"
[Gambas:Video 20detik]
(dtg/dtg)