Jakarta Fashion Week Hadir di Metaverse, Ini Untungnya Bagi Desainer

Daniel Ngantung - wolipop Rabu, 06 Apr 2022 14:30 WIB
Koleksi Sejauh Mata Memandang DFK di JFW 2021 Jakarta Fashion Week 2021 yang digelar secara virtual. (Foto: Dok. JFW 2021)
Jakarta -

Satu per satu merek fashion dunia mulai merambah metaverse. Perlukah desainer dan jenama Indonesia mengikuti jejak mereka? Lalu, bagaimana metaverse dapat ikut memajukan industri mode Tanah Air? Apa saja yang perlu dipersiapkan?

Selasa (5/4/2022) menandai perjalanan baru bagi industri mode Indonesia menuju masa depan dengan ditandatanganinya nota kesepahaman antar perusahaan teknologi WIR Group dan Jakarta Fashion Week (JFW). Keduanya sepakat untuk mengembangkan Metaverse Indonesia sebagai peluang bisnis bagi pelaku industri ini.

Menurut CEO GCM Group sekaligus Ketua Pelaksana JFW Svida Alisjahbana, ada urgensi bagi ekosistem mode Indonesia untuk segera masuk ke metaverse karena masyarakat mulai antusias dengan konsep fashion dalam dunia maya. Ia mencontohkan tingginya partisipasi tamu di JFW yang dua tahun terakhir berlangsung secara virtual.

Dewi Fashion Knigths 2020 di JFW 2021Dewi Fashion Knigth di JFW 2021 (Foto: Dok. JFW 2021)

Selain itu, perubahan gaya hidup yang kini lebih digital-sentris karena pandemi COVID-19 ikut berperan. "Metaverse tadinya diprediksi baru ada lima tahun lagi. Namun, pandemi membuatnya jadi lebih cepat," ujar Svida dalam kesempatan tersebut.

Metaverse adalah dunia virtual yang digerakkan dengan teknologi augmented reality. Di dalamnya, individu berinteraksi dengan individu lainnya secara daring menyerupai konsep gim Sim City.

Svida meyakini, kehadiran metaverse bakal sangat menguntungkan bagi para desainer, khususnya mereka yang kuat dalam pengarsipan koleksi.

"Dalam sebuah diskusi tahun lalu, desainer Didi Budiardjo dan perwakilan Maison ChloƩ sepakat betapa pentingnya arsip fashion. Tak cuma untuk kepentingan dokumentasi saja, tapi juga komersialisasi. Nantinya itu bisa menjadi produk jualan desainer saat masuk ke metaverse," jelas Svida.

Didi BudiardjoDesainer mode Indonesia Didi Budiardjo (Foto: Daniel Ngantung/Wolipop)

Didi Budiarjo disebut Svida sangat serius mengarsipkan karya-karyanya sejak menggeluti profesi desainer mode 32 tahun lalu. Koleksi tersebut sempat dipamerkan di Museum Tekstil Indonesia pada 2015 sebagai selebrasi 25 tahun dia berkarya.

Ia pun berpesan, desainer dan jenama lokal yang ingin menjadi bagian dari ekosistem Metaverse Indonesia dapat memulainya dengan memperkuat pengarsipan desain dan koleksi.

Selain untuk menjual arsip, metaverse juga dapat dimanfaatkan desainer untuk menawarkan opsi produk dengan harga yang lebih terjangkau. "Kalau merasa beli tas Louis Vuitton asli mahal, di metaverse bisa lebih murah," kata Svida.

Ia menambahkan, keuntungan lain dari metaverse bagi kemajuan industri mode transaksi yang lebih mudah dan aman, serta hak cipta yang terjamin. Biasanya, pengguna akan memperoleh aset digital yang bisa digunakan sebagai bukti kepemilikan barang yang dapat dibeli melalui aset kripto atau non-fungible token (NFT).

Koleksi Albert Yanuar di JFW 2021Koleksi Albert Yanuar di Jakarta Fashion Week 2021 (Foto: Dok. JFW)

Menurut Svida, kehadiran metaverse bukan untuk menggantikan fashion dalam rupa fisik, melainkan justru saling melengkapi. "Ini adalah suatu journey yang memberikan kehidupan alternatif dan experience baru bukan identitas. Arsip bisa menjadi kekayaan yang sangat luar biasa," katanya.

Chief Marketing Officer WIR Group Gupta Sitorus mengaku sangat antusias dengan kolaborasi ini. Harapannya, pelaku industri mode bisa memanfaatkan Metaverse Indonesia dengan menciptakan karya atau produk mode yang berkualitas. "Kami akan lebih banyak berperan dari sisi teknologi digital. Jakarta Fashion Week dapat ambil peran di inkubasi desainer," ujar Gupta.



Simak Video "Menengok Metaverse Fashion Week untuk Pertama Kalinya"
[Gambas:Video 20detik]
(dtg/dtg)