Melihat Perjalanan Karier Didi Budiardjo di Museum Tekstil
Desainer kenamaan Indonesia, Didi Budiarjo telah berkiprah di dunia kreatif fashion selama 25 tahun dengan membawa nama harum Indonesia hingga ke mancanegara. Untuk mempresentasikan kreasi kedua dari trilogi karyanya, yakni Pilgrimage, Didi mengambil langkah beda dengan membuat sebuah pameran busana lintas waktu dan zaman di Musem Tekstil. Dengan menampilkan semua hasil karyanya maupun koleksinya, Didi ingin setiap orang yang datang juga bisa mendapatkan inspirasi seperti dirinya.
Pada acara resmi pembukaan pameran ini, turut pula hadir istri dari Gubernur DKI Jakarta, Veronica Tan Basuki Tjahaja Purnama. “Banyak orang-orang kreatif seperti mas Didi Budiardjo di Jakarta ini, mari kita sama-sama bangkitkan kreativitas anak-anak muda mulai dari Jakarta ini," ujar Veronica saat membuka acara di Museum Tekstil, Jakarta Pusat, Kamis (15/01/15).
Didi Budiardjo mengganggap dirinya di dunia fashion ini seperti ibu yang melahirkan anak-anak. “Saya menggangap setiap hasil karya cipta saya layaknya puteri-puteri saya, dimana saya menamai saudara tertua untuk koleksi tertuanya pada tahun 1989 dan saudari termuda untuk setiap busana yang lahir hingga kini dan seterusnya di karya saya nanti,” tutur Didi Budiardjo saat membuka acara pamerannya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pameran pertama di museum itu mempertunjukkan 70 set busana yang terdiri dari 300 benda yang dipamerkan (termasuk aksesori dan kelengkapan lainnya). Selain dari hasil karyanya, Didi juga mengundang desainer lain seperti Sebastian Gunawan, Susan Budihardjo, Adrian Gan, dan Eddy Betty untuk berpartisipasi memamerkan benda dari hasil-hasil koleksi mereka. Tak ketinggalan juga, untuk memberi penghormatan kepada orang-orang yang berjasa di dunia mode Indonesia, Didi menghadirkan kenangan dari mereka yakni; Karya kolase almarhum Pieter Sie (1929-2011), koleksi batik almarhum Iwan Tirta (1935-2010) dan salah satu busana dari almarhum Muara Bagdja (1957-2012).
Keunikan yang dapat dirasakan pengunjung saat mendatangi pameran ini yakni seperti dibawa berkelana waktu dari satu ruangan ke ruangan lainnya yang sudah dikelompokan berdasarkan warna dan jenis busananya. Adapun nama-nama ruangan tersebut sebagai berikut:
The Atelier : Ruangan representasi dari sebuah ide yang digarap, dipenuhi sketsa, foto-foto, tumpukan buku-buku, moodboard dan langkah awal sebuah busana diciptakan.
The Reflection : ruangan yang menyajikan busana koleksi awal perjalanan sang perancang.
The White Forest : Berisi segala koleksi busana-busana berwarna putih.
The Moonless : baju serba hitam menjadi ilham ruangan ini.
The Gula Kelapa : inspirasi ruangan ini datang dari bendera kerajaan Majapahit (Merah Putih) sesuai dengan artinya dan didedikasikan untuk menampilkan kebaya dan batik, seluruhnya kebaya nyonya/kebaya renda putih dipadankan dengan ragam batik berwarna merah.
The Eastern : ruangan karya-karya dari Cina dan Jepang yang kental terasa di dua ruangan yang dijadikan satu.
The Gleaming Lights : ruangan yang berisikan tiga baju yang dibuat berputar yang penuh dengan bling-bling yang memantulkan cahaya-cahaya indah dari setiap sorotan lampu.
The Embroidery : ruangan kumpulan baju sulam embroidery dari Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas), Yayasan Sulam Indonesia (YSI) dan busana yang disponsori oleh Perusahaan Gas Negara (PGN).
The Birds : ruangan yang mengemukakan tiga gaun dengan detail bulu-bulu dan dua buah karya dari desainer aksesori Rinaldi A. Yunardi.
The Day Before : ruangan replika suasana belakang panggung dengan berbagai koleksi gaun warna merah.
The Gazing Room : ruangan yang memamerkan baju dan wastra koleksi Didi Budiardjo serta kain-kain Nusantara koleksi dari Museum Tekstil.
Didi menyiratkan pesan harapan agar melalui pameran dan karya-karya ciptanya dapat menjadi embrio dan penyemangat bagi peminat mode, terutama kaum muda, untuk semakin dapat mengenal dan ikut peduli pada pengarsipan sebuah karya dalam upaya melestarikan dunia mode Indonesia.
Pameran fashion yang memajang berbagai macam koleksi mode dari masa ke masa itu dapat kita nikmati di Museum Tekstil Jakarta dari tanggal 16 – 25 Januari 2015, dengan bebas tiket masuk atau gratis.
(asf/kik)
Hobbies & Activities
Upgrade Raket Padel Andalan! 4 Rekomendasi Produk Biar Makin Semangat Latihan!
Hobbies & Activities
Nggak Cuma untuk Anak! Ini Rekomendasi Mainan Anti Stres untuk Dewasa, Bikin Pikiran Lebih Rileks
Hobbies & Activities
Berkendara Lebih Aman dan Tenang dengan Dashcam Retouch Riding System Sprite S2
Home & Living
Tidur Jadi Lebih Nyaman! Kasur dari Turu Lana Ini Bikin Tidur Kamu Makin Berkualitas!
130 Tahun Monogram Louis Vuitton: Sejarah, Inovasi, dan Warisan Abadi
Brand Fashion Favorit Kate Middleton Terancam Bangkrut
Makna Mendalam di Balik Baju Istri Zohran Mamdani saat Inaugurasi
Tren Fashion 2026 dari Pinterest, Minimalism Out, Gaya Dramatis Mendominasi
Glamor di Malam Tahun Baru, Victoria Beckham Pakai Gaun Rp 30 Juta
Gantengnya Park Bo Gum Pakai Hanbok, Cetak Rekor Dilihat 22 Juta Kali
7 Rekomendasi Drama Korea tentang Musuh Jadi Cinta yang Bikin Baper
Sinopsis Greenland, Film di Bioskop Trans TV Hari Ini
130 Tahun Monogram Louis Vuitton: Sejarah, Inovasi, dan Warisan Abadi











































