Nike dan H&M Diboikot Publik China karena Isu Kerja Paksa Uighur di Xinjiang

Rahmi Anjani - wolipop Kamis, 25 Mar 2021 15:02 WIB
SHANGHAI, CHINA - APRIL 15: Chinese customers shop the just launched limited edition Ilustrasi Foto: Getty Images/Cancan Chu
Jakarta -

H&M dan Nike tengah mendapat sorotan di China karena masalah kapas. Publik di sana bahkan memboikot dua brand kenamaan itu karena pernah memberikan pernyataan yang menuduh China melakukan pelanggaran HAM terhadap suku Uighur. Kedua merek itu sendiri memang sempat menyatakan kekhawatiran mengenai pemberitaan terhadap apa yang terjadi dengan kalangan minoritas itu dan menolak membeli kapas dari Xinjiang.

"Kami tidak ingin bekerja dengan pabrik manufaktur garmen yang berlokasi di daerah otonomi Xinjiang Uighur dan material kami tidak berasal dari sini," tulis H&M dalam pernyataannya.

Sementara Nike mendapat kritikan dari publik China juga karena mengomentari soal Xinjiang. Ketika itu, Nike mengaku prihatin dengan laporan bahwa di daerah tersebut terjadi kerja paksa. Merasa difitnah, publik Tiongkok merasa marah bahkan tiga e-commerce sudah berhenti menjual produk-produk H&M.

Laporan mengenai pelanggaran HAM yang terjadi pada umat muslim Uighur sudah berlangsung cukup lama. Akhir tahun lalu BBC mempublikasi laporan investigasi bahwa kaum tersebut terlibat dalam kerja paksa, termasuk di ladang kapas Xinjiang. Karena itu, H&M dan Nike merilis pernyataan seolah mereka tidak ikut mendukung kerja paksa tersebut.

Pernyataan-pernyataan dari kedua brand itu sebenarnya dibuat tahun lalu namun baru mendapat perhatian sekarang ini. Dilansir BBC, gerakan untuk memboikot Nike dan N&M dipengaruhi oleh sebuah postingan di media sosial. Disebutkan bahwa kedua brand menyebar fitnah mengenai kapas tapi ingin menghasilkan uang dari China.

Selain kemarahan publik dan aksi boikot, hal ini juga berpengaruh pada selebriti-selebriti yang menjadi brand ambassador untuk kedua merek. Beberapa artis terkenal, seperti Wang Yibo, Victoria Song, dan Huang Xuan telah merilis pernyataan bahwa mereka memutus kontrak dengan mereka.

"Kepentingan negara lebih penting dari apapun. Kami secara tegas menangkal semua stigma terhadap China dan sangat tidak setuju dengan penggunaan strategi bisnis seperti ini untuk memfitnah dan menjelekkan negara dan warganya," tulis Victoria Song Studio dalam pernyataan resminya.

(ami/ami)