Buah Manis Pandemi dalam Koleksi 3 Kesatria Mode Indonesia di JFW 2021

Daniel Ngantung - wolipop Senin, 30 Nov 2020 11:48 WIB
Dewi Fashion Knigths 2020 di JFW 2021 Dewi Fashion Knights 2020 di JFW 2021. (Foto: Dok. JFW 2021)
Jakarta -

Tiga desainer ini sepakat bahwa selalu ada hikmah di balik musibah. Dengan segala keterbatasan karena pandemi, mereka tetap berkreasi sembari belajar menghasilkan koleksi busana yang berkelanjutan bagi kebaikan bumi.

Pesan itulah yang tersirat di koleksi terbaru Toton, Sejauh Mata Memandang dan Lulu Lutfi Labibi. Koleksi tersebut naik pentas secara virtual di Dewi Fashion Knights (DFK) 2020 yang sekaligus menutup perhelatan Jakarta Fashion Week (JFW) 2021, Minggu (29/11/2020).

Sudah menjadi tradisi di setiap penyelenggaraannya, JFW selalu berakhir dengan kemeriahan dan kemegahan peragaan DFK yang menyuguhkan koleksi para 'kesatria mode' terpilih. Namun, pandemi membuat DFK tahun ini terasa berbeda karena berlangsung tanpa riuh penonton yang menyaksikan langsung.

Dewi Fashion Knigths 2020 di JFW 2021Koleksi Toton di Dewi Fashion Knigths 2020 yang digelar sebagai penutup JFW 2021 (Foto: Dok. JFW 2021)

Situasi dunia yang harus bergumul dengan wabah virus Corona ini seakan menjadi momen refleksi tersendiri bagi para desainer yang berkesempatan lagi untuk memamerkan karyanya lagi di panggung DFK.

Bagi ketiga nama tersebut, ini memang bukan DFK pertama mereka. Namun, pandemi justru memberi perspektif baru bagi mereka dalam menghasilkan karya inovatif tanpa merusak alam sehingga selaras dengan tema DFK tahun ini, 'Gaia' atau 'Mother Earth'.

Toton Yanuar misalnya, memanfaatkan momen pandemi untuk mensyukuri segala pencapain yang mungkin terlupakan. "Prapandemi, kita dituntut untuk selalu memberikan yang baru, sementara kita lupa telah mengerjakan banyak hal," kata Toton saat jumpa pers beberapa waktu lalu.

Dewi Fashion Knigths 2020 di JFW 2021Koleksi Toton di Dewi Fashion Knigths 2020 (Foto: Dok. JFW 2021)

Lalu muncullah ide untuk memanfaatkan material yang sudah tersimpan di studio sehingga tak perlu membeli baru. Selain menghemat biaya produksi, pilihan tersebut juga dirasa sesuai dengan semangat ramah lingkungan yang diusung di DFK 2021.

Ia pun bernostalgia dengan mengaplikasikan teknik-teknik yang sempat ditinggalkannya. "Untuk koleksi musim panas 2021 di DFK ini, secara keseluruhan kami pakai bahan yang sudah ada di workshop. Teknik-teknik yang sudah jarang kami pakai, seperti bordir dan makrame, juga dieksplor kali ini untuk menciptakan tampilan baru," kata pria asal Makassar tersebut.

Dalam catatan mode di situs JFW, Toton menggali inspirasi dari arca-arca peninggalan agama Hindu dan Budha yang penuh makna. Tidak hanya sebagai simbol keagamaan, melainkan juga mencerminkan doa dan harapan. Koleksi yang menggunakan bahan-bahan sisa dari koleksi-koleksi sebelumnya ini menerjemahkan siluet pakaian adat Aceh dan Sulawesi Selatan.

Dewi Fashion Knigths 2020 di JFW 2021Koleksi Lulu Lutfi Labibi di Dewi Fashion Knigths 2020. (Foto: Dok. JFW 2021)

Seperti Toton, Lulu Lutfi Labibi memutuskan untuk memanfaatkan material yang ada. "Kalau ada yang bilang pandemi guru terbaik, itu benar. Dulu, saya suka emosional beli bahan. Saking banyaknya, saya baru ingat pernah beli bahan tersebut di tahun berikutnya. Pas bersih-bersih gudang saat pandemi, saya tersadar menyimpan banyak sekali bahan yang tidak terpakai," ungkap Lulu Lutfi Labibi.

Desainer yang berbasis di Yogyakarta ini mempersembahkan koleksi berjudul "Sandang Hening Cipta" yang terinspirasi dari puisi Joko Pinurbo. Sebait dari puisi tersebut juga disematkan dalam kantung baju, celana, dan juga sarung.

Dewi Fashion Knigths 2020 di JFW 2021Koleksi Lulu Lutfi Labibi di Dewi Fashion Knigths 2020. (Foto: Dok. JFW 2021)


"DFK tahun ini menjadi sebuah proses kreatif yang baru tapi menyenangkan. Aku menggunakan bahan yang tadinya aku pikir tak bisa dipakai lagi. Lalu aku potong jadi perca, lalu ditenun sehingga menjadi visual yang menarik," ungkap Lulu.

Hadir pilihan terusan multifungsi berpotongan asimetris khas Lulu, tapi dengan twist baru pada potongannya. "Meski bahannya lama, koleksi ini tetap bisa menawarkan cerita yang baru," kata desainer yang fokus menggarap kain lurik ini.

Dewi Fashion Knigths 2020 di JFW 2021Koleksi Sejauh Mata Memandang di Dewi Fashion Knigths 2020. (Foto: Dok. JFW 2021)

Sementara itu, Citra Subiyakto dengan labelnya, Sejauh Mata Memandang, memilih mendaur ulang kain limbahan pabrik. "Saya pakai kain sisa pabrik konveksi, lalu diolah menjadi benang. Setelah itu ditenun menjadi kain," kata adik Jay Subiyakto ini.


Sudah menjadi cita-cita Citra untuk menjadikan Sejauh Mata Memandang sebagai label yang sustainable atau ramah lingkungan. Perempuan yang lebih senang melabeli diri sebagai 'tukang kain', alih-alih desainer ini, pun selalu berkomitmen untuk mengolah material yang sudah tak terpakai lagi.

Dewi Fashion Knigths 2020 di JFW 2021Koleksi Sejauh Mata Memandang di Dewi Fashion Knigths 2020. (Foto: Dok. JFW 2021)

"Kalau dipikir-pikir sekarang, saya dari tukang kain sekarang jadi tukang sampah," candanya.

Lebih dikenal sebagai textile artisan, Sejauh Mata Memandang menampilkan koleksi dalam helaian batik berwarna putih. Paduan antara tradisional dan elegan membuat koleksi ini masih sangat wearable untuk dipakai sehari-hari ataupun pada acara-acara formal.

(dtg/dtg)