Kisah Kenzo Takada yang Wafat karena Corona, Hijrah ke Paris Naik Kapal

Daniel Ngantung - wolipop Senin, 05 Okt 2020 12:55 WIB
Fashion designer Kenzo Takada poses for a photo in Tokyo in October, 2019. Takadas family said in a statement to French media Sunday, Oct. 4, 2020 that Takada died from complications from COVID-19 in a hospital in Neuilly-sur-Seine, near Paris. He was 81. (Kyodo News via AP) Desainer legendaris Kenzo Takada meninggal karena komplikasi COVID-19. (Foto: Kyodo News via AP)
Paris -

Desainer legendaris kelahiran Jepang, Kenzo Takada, meninggal dunia karena komplikasi COVID-19. Ia tutup usia di Paris, Prancis, kota yang telah menjadi rumahnya selama lebih dari setengah abad. Demi mengejar mimpi sebagai desainer di Paris, Kenzo pernah rela mengarungi lautan dari Jepang selama sebulan.

Kenzo Takada mengembuskan napas terakhirnya di usia 81 tahun, Minggu (4/10/2020). Kepergian Kenzo terjadi tepat setelah 50 tahun lalu ia meluncurkan jenama kenamaannya di Paris.

Perjalanan Hidup Kenzo Takada

Kenzo Takada lahir pada 27 Februari 1939 di Himeji, Prefektur Hyogo, Jepang. Orangtuanya memiliki bisnis hotel di sana.

Senang membaca majalah kakak perempuannya, Kenzo kecil mulai tertarik pada dunia fashion. Sempat mengecap studi hubungan internasional di Kobe City University sebelum akhirnya drop-out, Kenzo Takada lalu memberanikan diri untuk belajar fashion secara akademis di Bunka Fashion College, Tokyo.

Kenzo Takada masuk Bunka pada 1958. Kala itu, sekolah fashion tersebut baru saja membuka pintu kelasnya bagi kaum pria untuk pertama kali. Kenzo termasuk mahasiswa yang berprestasi, terbukti ia memenangkan kompetisi fashion bernama Soen Award pada 1961.

Bakat Kenzo Takada semakin terasah ketika bekerja untuk sebuah department store bernama Sanai. Setiap bulannya, ia menghasilkan 40 desain pakaian wanita untuk toko tersebut.

FILE - In this Dec. 16, 1977 file photo, designer Kenzo Takada kisses the hand of Italian actress Gina Lollobrigida after she awarded him as one of the ten most elegant men in the world in Rome, Italy. Fashion designer Kenzo Takada dies from COVID-19 complications at age 81 near Paris, spokeswoman and reports said Sunday Oct. 4, 2020. (AP Photo, file) Kenzo Takada mencium tangan aktris Italia Gina Lollobrigida pada 1977. (Foto: AP/File)

Mengadu Nasib di Paris

Hidupnya berubah saat Jepang sedang mempersiapkan diri sebagai tuan rumah Olimpiade 1964. Apartemennya terkena gusur dan ia mendapat uang ganti rugi berupa biaya sewa 10 bulan.

Mengikuti saran sang dosen, ia lantas menggunakan uang tersebut untuk hijrah ke Paris. Sejak lama ia bermimpi untuk meniti karier di kota yang dikenal sebagai pusat mode dunia itu. Apalagi, Kenzo Takada begitu mengidolakan sosok desainer Prancis Yves Saint Laurent.

Maka jadilah ia bertolak ke Paris, namun bukan dengan pesawat, melainkan kapal laut. "Saya naik kapal dari Jepang selama enam minggu pada 1964, melewati Hong Kong, Saigon, Singapura, Sri Lanka, Bombay dan Mesir sebelum akhirnya tiba di Paris," kata Kenzo kepada situs The Face tahun lalu.

Ia juga mengaku sangat bahagia karena itu pertama kalinya ia bepergian ke luar negeri untuk pertama kali.

Bulan-bulan pertama di Paris, Kenzo tak langsung bekerja sebagai desainer. Demi menyambung hidup, pria yang dikenal berkarakter ramah dan jenaka ini berjualan sketsa karyanya.


"Setelah lima bulan tinggal di Paris, saya mulai bikin sketsa dan menjual yang pertama ke teman (aktris) Brigitte Bardot yang kemudian membawanya ke Elle dan beberapa majalah lainnya," ungkap Kenzo.

Ho Chi Minh City, Vietnam - April 23, 2019: a Kenzo shop exterior at a night colonnade of Saigon Centre Shopping Mall, with a colorful promotional poster. A taxi car (blurred) seen in the end of the colonnade.(Foto: Getty Images/David_Bokuchava)

Desain Kenzo Takada Jadi Angin Segar

Enam tahun berjuang sebagai desainer pendatang baru, Kenzo Takada akhirnya memberanikan diri untuk meluncurkan brand fashion-nya, Kenzo, pada 1970. Desain baju perempuan Kenzo yang lebih eksploratif dalam volume dengan permainan tabrak motif dan elemen bernuansa Asia bagaikan angin segar di tengah dominasi gaun-gaun elegan khas desainer Prancis.

"Ketika membuka butik pertama, saya pikir tak ada gunanya melakukan hal yang sama dengan desainer Prancis karena saya tak bisa seperti itu. Jadi saya membuat sesuatu yang berbeda dengan menggunakan bahan kimono dan pengaruh lainnya," ujar Kenzo.

Gayung bersambut, karya Kenzo mendapat tempat di hati para pecinta fashion. Bisnisnya berkembang dan pada 1983, ia meluncurkan koleksi busana pria. Menyusul kemudian lini khusus jeans pada 1986 yang diikuti peluncuran produk parfum pada 1988.

Kenzo pun disebut-sebut sebagai salah satu desainer Jepang tersukses di Paris. Jejak Kenzo lalu diikuti oleh desainer asal Jepang lainnya seperti Yohji Yamamoto dan Rei Kawakubo, pendiri Commes des Garcons.

PARIS, FRANCE - JANUARY 22: Kenzo Takada attends the Jean-Paul Gaultier 50th Birthday Cocktail and Party at Theatre du Chatelet on January 22, 2020 in Paris, France. (Photo by Francois Durand/Getty Images For Jean-Paul Gaultier)( Foto: Getty Images For Jean-Paul Gault/Francois Durand)

Pada 1993, brand Kenzo resmi menjadi bagian LVMH setelah dibeli seharga US$ 80 juta. Enam tahun kemudian, Kenzo Takada mengumumkan pensiun dari brand yang didirikannya untuk fokus pada dunia seni. Ia kemudian mendirikan merek lifestyle K-3.

Sampai saat ini, Kenzo tetap eksis di tengah persaingan sengit industri mode. Kenzo juga berhasil memperkuat citranya sebagai brand yang berjiwa muda dan merepresentasikan modernitas.

Kepergian Kenzo Takada hanya beberapa hari setelah koleksi Spring-Summer 2021 Kenzo karya desainer Felipe Oliveira Baptista diperagakan di Paris Fashion Week.

"Selamat jalan Maestro. Energi, kebaikan, talenta dan senyumannya yang luar biasa sangat menular. Semangatnya akan selalu hidup," tulis Felipe di Instagram.

(dtg/dtg)